Masuk Daftar
My Getplus

Percy Pantang Kibarkan Bendera Putih

Kisah petani yang melawan perusahaan raksasa. Di balik fisiknya yang renta, semangat perlawanannya berapi-api.

Oleh: Randy Wirayudha | 05 Apr 2021
Film biopik "Percy" yang mengungkap perjuangan petani gaek Percy Schmeiser melawan perusahaan besar Monsanto. (Mongrel Media).

PERGI ke gereja dan menggarap pertanian milik keluarga turun-temurun di Bruno, Saskatchewan, Kanada jadi rutinitas sehari-hari Percy Schmeiser (diperankan Christopher Walken). Namun ketenangan kehidupan petani sederhana berusia 73 tahun itu dan istrinya, Louise (Robert Maxwell), pada suatu siang di bulan Agustus 1998 terusik dengan datangnya sebuah surat.

Setelah membacanya dengan cermat, raut wajah hangat Percy langsung berubah 180 derajat. Surat itu berisi tuntutan hukum perdata dari Monsanto Canada Inc. Percy dianggap telah menyimpan dan menggunakan bibit canola GMO (Genetically Modified Organism) yang telah dipatenkan Monsanto tanpa izin oleh produsen bibit bioteknologi raksasa itu.

Kebingungan, Percy pun mencari bantuan pada pengacara lokal Jackson Weaver (Zach Braff). Dari detail surat tuntutan yang dikaji sang pencara, intinya Percy diklaim telah mencuri bibit canola dari Monsanto yang dipatenkan. Percy jelas makin bingung karena tak merasa mencuri.

Advertising
Advertising

Baca juga: The Whistleblower yang Membuka Borok PBB

Selama ini Percy menggarap tanaman canola dengan bibit yang ia kembangkan sendiri. Ia mengaku tak mengerti soal paten bibit GMO. Bibit paten itu jika disemprot herbisida merek Roundup Ready produksi Monsanto, hamanya akan mati tanpa rusak tanaman canolanya.

Dalam surat itu disebutkan juga bahwa Monsanto berniat untuk menyelesaikannya secara kekeluargaan jika Percy mengakui bahwa musim panen tahun 1997 ia “mencuri” bibit GMO Monsanto. Monsanto juga menuntut Percy membayar ganti rugi atas pelanggaran paten itu sebesar 19 ribu dolar serta menyerahkan semua bibit yang ia miliki di gudang pertaniannya.

Adegan Percy dan istrinya yang mengembangkan bibit canolanya sendiri. (Mongrel Media).

Konflik yang membuat geram Percy dan keluarganya itu jadi pembuka drama biopik bertajuk Percy garapan sutradara Kanada-Amerika Clark Johnson. Sang sutradara tak ingin menunda untuk meningkatkan emosi penonton.

Adegan beringsut pada sikap Percy yang enggan berkompromi. Ia memberanikan diri membawa isu tersebut ke meja hijau. Problemnya makin pelik ketika Monsanto menyewa tim kuasa hukum beken yang dipimpin Rick Aarons (Martin Donovan). Percy kian runyam ketika Monsanto menyewa dua mantan polisi sebagai detektif partikelir yang berupaya mempengaruhi bahkan sampai mengintimidasi para petani lain di Bruno agar tidak berdiri di belakang Percy.

Baca juga: Dagelan Hukum The Trial of the Chicago 7

Tetapi Percy tak sendirian. Selain didampingi Jackson, ia mendapat simpati dari Rebecca Salcau (Christina Ricci), aktivis LSM People for Enviromental Protection (PEP) yang berbasis di Amerika Serikat, yang mulanya dicurigai Percy.

“Semua tentang gandum. Jika Monsanto menang, mereka juga pasti akan mencoba membuat bibit gandum GMO dan itu tidak baik untuk lingkungan dan kesehatan. Kasus Anda akan jadi sejarah dan penentu,” terang Rebecca.

Sadar tak punya banyak pendukung, Percy pun menerima bantuan Rebecca yang berencana membawa kasus klasik “David vs Goliath” itu ke pers, forum-forum diskusi di Amerika, bahkan dalam forum global di India. Donasi dari orang-orang yang bersimpati silih-berganti berdatangan demi menutup kerugian dan kesulitan ekonomi Percy. Pasalnya sejak dua tahun kasusnya berjalan di pengadilan tingkat distrik hingga tingkat provinsi, ia tak bisa lagi menggarap lahannya.

Kolase karakter aktivis Rebecca Salcau (kiri) & pengacara Jackson Weaver yang membela Percy melawan Monsanto. (Mongrel Media).

Selain intimidasi pihak Monsanto makin mempengaruhi istri Percy, semakin lama persidangan berjalan, tuntutan Mosanto kian meningkat. Sampai dua tahun persidangan, tuntutan perdatanya melonjak hingga 1,2 juta dolar.

Sempat terbersit di pikiran Percy untuk menyerah karena jika kalah, tuntutan tinggi itu otomatis akan membuatnya bangkrut lantaran rumah, gudang pertanian, dan lahan pertanian yang diturunkan dari leluhurnya akan disita. Namun, Percy teringat lagi akan surat-surat dukungan kepadanya nan menyentuh hati. Surat-surat itu dari sesama petani di Kanada, Amerika, bahkan petani Pakistan dan India yang jadi korban kerakusan perusahaan raksasa macam Monsanto. Ia juga berkaca dari nasib lebih pedih petani di India yang dihancurkan utang akibat keserakahan perusahaan besar.

Bagaimana perjuangan Percy memantapkan hati meneruskan kasusnya ke tingkat mahkamah agung dan bagaimana buah dari keteguhan hati Percy melawan Monsanto berikut banyak intrik di dalamnya? Baiknya Anda tonton sendiri biopik Percy di aplikasi daring Mola TV.

Bukan Sembarang Petani

Latar belakang Percy sebagai petani dari kota kecil Bruno digambarkan jelas sutradara Clark sedari awal film dengan beberapa pengambilan gambar eye level menggunakan metode konvensional dan bird eye menggunakan drone. Hasilnya berupa scene lahan pertanian luas dengan tone gambar terang. Diiringi irama musik country sebagai music scoring-nya, suasana kota terpencil di wilayah yang berbatasan dengan area Midwest (Montana dan Dakota Utara) Amerika Serikat itu makin terasa.

Secara keseluruhan Percy dipuji para kritikus sebagai film yang berhasil menarik emosi penonton terlepas dari gaya cerita klasik “David vs Goliath”. Kritikus Garnet Fraser dalam kolomnya di Toronto Star, 8 Oktober 2020, menyanjung penampilan tiga aktor utamanya: Christopher Walken, Christina Ricci, dan Zach Braff. Pujian juga dialamatkan pada selipan yang membuat cerita lebih berwarna, seperti saat Percy ke India untuk jadi pembicara di forum global tentang perlawanan terhadap perusahaan sejenis Monsanto.

“Walken, Braff, dan Ricci meningkatkan emosi yang ada dalam naskah. Terlepas dari sisipan perjalanan yang berwarna ke India, sebenarnya tidak ada hal lain yang luar biasa. Sutradara dan kameramen Luc Montpellier memang memberikan kita penggambaran pertanian yang membentang, namun adegan-adegan di ruang pengadilan justru mengecewakan secara visual dan mengurangi keseruan pertarungan yang penting itu,” tulis Fraser.

Baca juga: Kisah Matematikawan yang Dipandang Sebelah Mata

Kritik lain adalah soal detail penggambaran latar belakang Percy. Sang sineas sama sekali tidak menghadirkan alasan mengapa sosok Percy jadi sosok yang sangat dihormati dan berpengaruh di kota Bruno. Sutradara Johnson seolah diburu durasi hingga langsung menyajikan pertarungan Percy vs Monsanto di pengadilan.

Padahal, Percy bukanlah petani sembarangan. Sebelum adanya kasus itu, Percy adalah walikota Bruno periode 1966-1983 sekaligus petani canola. Percy juga pernah terpilih sebagai anggota Majelis Legislatif (MLA) Provinsi Saskatchewan periode 1967-1971 mewakili Partai Liberal Saskatchewan.

Sosok asli Percy Schmeiser (kanan) & istrinya, Louise. ( Mary Lou Schechtel/Mongrel Media).

Selama menjadi anggota legislatif, Percy menjadi anggota Komite Bendera di MLA yang menentukan bendera Provinsi Saskatchewan. Bendera berwarna dasar hijau dan kuning berhias sekuntum bunga lili di sisi kanan dan lambang provinsi di sisi kiri itu didesain Anthony Drake, seorang guru asal Inggris yang mengajar di Hodgeville, Saskatchewan pada 1966.

“(Desain bendera Drake) memberi kehidupan bagi warga Saskatchewan untuk diperlihatkan ke seluruh dunia. Bendera itu memberikan kami sesuatu untuk bisa dipertunjukkan pula ke seantero Kanada, bahwa kami sangat bangga pada warisan leluhur kami,” ujar Percy dalam rangka 50 tahun penetapan bendera itu, dikutip Global News, 19 Juli 2019.

Bibit Kematian

Insight lain yang disajikan Johnson adalah perkembangan industri pertanian di akhir abad ke-20 yang hendak dimonopoli Monsanto. Johnson menggambarkannya secara lugas dan padat dalam adegan Percy mengunjungi India.

Johnson ingin memberikan pemahaman lebih dalam kepada penonton tentang isu perkembangan bibit GMO. Bibit tersebut di satu sisi menggendutkan laba perusahaan bioteknologi pertanian, namun di sisi lain menggencet kaum petani, bahkan berimbas pada bunuh diri massal petani India pada 1995.

Memang faktanya Percy sebagai aktivis tidak secara langsung terlibat mendampingi para petani di India. Namun kasusnya melawan Monsanto jadi satu kasus yang menginspirasi gerakan perlawanan terhadap bibit GMO. Percy sampai disanjung sebagai pahlawan bahkan sampai India dan Pakistan.

“Pada akhirnya kami juga belajar dari orang India bahwa mereka juga sangat memuja (Percy) Schmeiser. Para petani mengenal siapa dia, mereka punya banyak cerita terkait industri pertanian. Itu sangat mencerahkan kami dan saya percaya hal itu jadi nilai tambah cerita (dalam film),” tutur Johnson kepada Planet S Magazine, 22 Oktober 2020.

Baca juga: The Godfather: Part III dan Skandal Vatikan

Kisah tentang bunuh diri massal para petani kapas di India sebetulnya tak hanya terjadi medio 1995 hingga awal 2000-an sebagaimana yang disuguhkan dalam Percy. Kisah getir serupa pernah terjadi pada 1870-an meski penyebabnya berbeda.

Pada era 1870-an, para petani kapas bunuh diri karena frustrasi diterpa utang pajak tanah yang tinggi. Keadaan mereka diperparah oleh bunga selangit dari para rentenir. Buah dari kondisi itu adalah Kerusuhan Dekkhan (Mei-Juni 1875) yang dilakukan para petani di 30 desa di Maharashtra dengan target para rentenir. Pemerintahan kolonial Inggris menjawabnya dengan mengeluarkan Dekkhan Agriculturists’ Relief Act pada 29 Oktober 1879. Intinya legislasi itu adalah para petani yang tak bisa membayar utang tak bisa lagi langsung dipenjara.

Data NCRB terkait kasus bunuh diri massal petani di India 1995-2015. (NCRB).

Kendati begitu, insiden bunuh diri petani tak serta-merta hilang. Setelah India merdeka pun kasus bunuh diri petani gegara jeratan utang masih terjadi di Tamil Nadu (1966) dan Bengali Barat (1979). Angka bunuh diri petani melonjak drastis sejak 1995, di mana hal itu berkaitan dengan Monsanto. Data Biro Catatan Kriminal Nasional India (NCRB) yang dirangkum People’s Archive of Rural India menunjukkan, dalam rentang waktu 1995-2015 ada 296.438 petani yang melakukan bunuh diri. Sekira 60 ribu di antaranya terjadi di Negara Bagian Maharashtra yang mayoritas adalah petani kapas.

Mengutip “Farmer-Suicide in India: Debating the Role of Biotechnology” karya Gigesh Thomas dan Johan de Tavernier yang dimuat di Jurnal Life, Sciences, Society and Policy edisi 13 Desember 2017, petaka itu bermula dari perkembangan bibit kapas rekayasa genetika GMO bernama “Bt Cotton” oleh Monsanto pada 1990. Di tahun yang sama, Monsanto berusaha mengajukan uji coba lapangan bibit Bt Cotton di India walau kemudian ditolak Departemen Bioteknologi India.

“Akan tetapi pada 1995, (perusahaan pertanian India) Mahyco diizinkan untuk melakukan uji lapangan dengan varietas lokal yang dikawinsilangkan dengan 100 gram gen yang diimpor Mosanto. Segera, Monsanto ikut langsung dalam eksperimennya dengan membeli saham Mahyco,” ungkap Thomas dan De Tavernier.

Baca juga: Begum Jaan Menolak Tunduk

Kolase ilustrasi pertanian kapas di India. (People's Archive of Rural India).

Dengan membeli 95 persen saham Mahyco, Monsanto leluasa menyetir perusahaan India itu. Berpegang pada izin dari Komite Peninjauan Rekayasa Genetik di bawah DBT yang sudah didapat Mahyco, dalam waktu singkat Monsanto memonopoli Bt Cotton untuk digunakan para petani kapas di India.

Yang jadi pangkal permasalahannya adalah bibit GMO itu dipasarkan dengan harga delapan kali lipat dari harga bibit sebelumnya. Akibatnya petani butuh uang pinjaman lebih besar untuk bertani dan memanen. Mereka pun berpaling ke rentenir.

Ketika kesulitan membayar, kesepakatan antara petani dengan rentenir adalah mereka menjual kapas dengan harga lebih murah kepada tengkulak yang bekerjasama dengan rentenir. Jebakan utang pun melilit para petani. Puluhan ribu petani yang tak bisa menahan diri memilih bunuh diri di mana mayoritas menenggak pestisida.

Data Film:

Judul: Percy | Sutradara: Clark Johnson | Produser: Daniel Bekerman, Ethan Lazar, Ian Dimerman, Garfield Lindsay Miller, Hilary Pryor, Brendon Sawatzky | Pemain: Christopher Walken, Roberta Maxwell, Adam Beach, Christina Ricci, Zach Braff, Martin Donovan, Luke Kirby | Produksi: Deepak Kumar Films, Grashopper + Marks Production, Mansa Productions, Productivity Media, Scythnia Films | Distributor: Mongrel Media | Genre: Drama Biopik | Durasi: 120 menit | Rilis: 16 September 2020, Mola TV

Baca juga: Seberg Melawan Arus

TAG

film molatv petani

ARTIKEL TERKAIT

Eddy Gombloh Kawan Tentara Perwira Tembak Pengusaha Polisi Paling Korup di Hong Kong Rima Melati Telah Pergi Keringat dan Air Mata King Richard Tio Ditampar Wim The Batman dan Sisi Kelam Kehidupan Nyata Enam Film untuk Merespons Panggilan Perjuangan Kebebasan Black Widow Bukan Jagoan Biasa Kedigdayaan Anti-Hero dalam Venom 2