Masuk Daftar
My Getplus

Pendidikan Seks dalam Serat Nitimani

Ajaran mengenai tata cara bercinta dengan baik ditulis para pujangga Jawa dalam bentuk serat, salah satunya Serat Nitimani.

Oleh: Sulistiani | 21 Nov 2022
Ilustrasi hubungan seks (shutterstock.com)

Kendati masih dianggap tabu oleh banyak kalangan masyarakat, pendidikan seks dianggap oleh sebagian kalangan perlu diberikan sedini mungkin agar anak-anak paham. Banyak media memberitakan tentang itu saat ini. Banyaknya kasus pelecehan atau bahkan pemerkosaan membuat urgensi pendidikan seks semakin tinggi.

Pendidikan untuk remaja atau dewasa juga tak kalah penting. Banyak juga orang dewasa yang belum paham seks.

Dalam kebudayaan Jawa, pendidikan seks sudah ada sejak dahulu. Umumnya ditulis dalam bentuk karya sastra melalui serat-serat. Pada 1816 sebuah materi ajar tentang seks muncul dalam serat berjudul Serat Nitimani, tanpa diketahui nama penulisnya. Serat yang ditulis di wilayah Surakarta ini berupa karya sastra dalam bentuk piwulang (nasihat) yang berisi ajaran dalam melakukan hubungan seks.

Advertising
Advertising

Baca juga: Teks-Teks Jawa tentang Perilaku Seks

Sebagian tentang seks dalam Serat Nitimani dituliskan dalam bentuk metafora. Acapkali hubungan seks ditulis sebagai “pertandingan”.  Buat peneliti naskah kuno Nancy K. Florida, hal itu punya penggambaran lebih luas dari sekadar seks an sich.

“Sebenarnya, tidak secara sungguh-sungguh ditulis dalam ungkapan perang, karena karya-karya ini malah menuliskan relasi gender sebagaimana penulis laki-laki itu membayangkan sebuah perang dalam mana mereka telah menang,” kata Nancy K. Florida dalam Jawa-Islam di Masa Kolonial.

Ajaran dalam Nitimani memang terlihat mensubordinasikan perempuan. Hal itu bisa mudah dimengerti lantaran, Nancy berpendapat, penulisnya merupakan laki-laki.

“Kebanyakan karya sastra yang khususnya terkait perempuan dan relasi gendernya di abad ke-19 Jawa ditulis mewakili suara laki-laki, termasuk dalam dunia fantasi laki-laki, yang ditulis oleh laki-laki,” tulis Nancy.

Baca juga: Meleburkan Seks dan Mistik

Kendati begitu, Serat Nitimani amat populer. Saking populernya, pada 1821 R.M. Aryasugonda, seorang pengembara dari Kediri, kembali menggubah dan memproduksi Serat Nitimani.

Ada sembilan nasihat yang diungkapkan Serat Nitimani untuk orang yang akan melakukan hubungan seks.

Pertama, seks harus dilakukan dalam kondisi sadar dan hati yang tenang. “Apabila sedang bertanding, usahakanlah hati tetap hening, agar konsentrasi terjaga, supaya tidak terkalahkan,” demikian bunyi pupuh ke-2 serat.

Nasihat kedua, harus waspada dan hati-hati. Penjelasannya ada di dalam pupuh 6. “Ketika senjata pusaka laki-laki telah siap tempur, segenap kekuatan siaga, maka segeralah memulai pertandingan, niscaya pertempuran tidak akan mengecewakan, namun tetaplah waspada, jangan ceroboh.”

Nasihat ketiga yaitu sikap lapang dada. Nasihat ini terdapat dalam pupuh ke-2.

“Apabila tidak puas, janganlah terlihat di wajah, tutupilah dengan wajah ceria, agar tidak mendapat kesulitan, apabila kecewa, janganlah memberontak dalam hati, niatilah, untuk lebih berlapang dada, dengan harapan, agar ketidakpuasan tidak berlarut-larut.”

Nasihat keempat, pengendalian diri. Ada dua waktu yang sangat perlu pengendalian diri, yaitu ketika akan melakukan hubungan seks dan ketika sedang melakukan hubungan. Sebelum melakukan hubungan seks, masing-masing pihak harus memahami kondisi pasangannya. Apabila salah satu pihak tidak berkehendak, maka pihak lain harus mampu bersabar.

“Apabila punya keinginan, janganlah lepas kendali menerjang etika, agar selamat, utamakanlah sikap luhur, selama mengendalikan diri, bersabarlah menahan hawa nafsu, lepas diri tanpa kendali, merupakan perilaku serakah,” kata dalam pupuh ke-2 Serat Nitimani.

Lalu, nasihat ketika melakukan hubungan badan. Apabila salah satu atau keduanya telah lelah, dianjurkan untuk tidak meneruskan. Kegiatan seks dapat dilakukan lagi ketika keduanya telah benar-benar pulih.

“Ingatlah, ketika baru setengah perjalanan, janganlah melakukan pertandingan sebelum kondisi benar-benar pulih, demi menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan,” demikian bunyi nasihat dalam pupuh 6.

Baca juga: 

Di Balik Perilaku Seks Para Raja

 

Nasihat kelima yakni tidak boleh tergesa-gesa. Ini dijelaskan dalam pupuh 6: “Penerapan asmaragama adalah apabila senjata yang dimiliki laki-laki belum siap tempur maka janganlah terburu-buru melakukan pertandingan, karena pertandingan tentu tidak akan berlangsung seru. Sang laki-laki tentu tidak akan mampu bertahan lama.”

Ajaran keenam, harus saling memperhatikan kemauan lawan main. Penjelasan ini terdapat dalam pupuh 19.

“Sesungguhnya dalam berhubungan badan seorang wanita harus mengikuti kemauan laki-laki, adapun tingkah laku wanita ketika berhubungan badan sebaiknya mengimbangi gerak pria yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nikmat,” demikian kata pupuh 19.

Selanjutnya, ketujuh, jangan cepat puas. Hal ini dilakukan agar semua pihak dapat merasakan kesenangan sehingga apabila salah satunya sudah lelah, perlu ada improvisasi untuk membangkitkan kembali dorongan seksual. Pupuh 6 menulis: “Hendaklah membangun rasa penasaran, jangan merasa puas, bangkitkan kembali dorongan seksual anda, karena di situlah ruang kenikmatan.”

Nasihat kedelapan, hendaklah seks dilakukan secara sungguh-sungguh, tidak main-main, dan dilakukan di tempat yang semestinya. Pupuh 25 menyebutkan, “Seandainya ada manusia laki-laki dan perempuan berkeinginan bercinta, masuk ke dalam ranjang artinya berada di tempat tidur walaupun di situ hanya berdua dan juga berada di tempat yang sepi yang intinya tidak kelihatan orang banyak, walaupun begitu keseriusan perasaan janganlah sampai lupa.”

Baca juga: 

Kitab Lelaki Sejati

 

Nasihat terakhir, kesembilan, bersuci sebelum memulai hubungan seks. Bersuci dalam hal ini adalah membersihkan semua kotoran baik jasmani maupun rohani. Hal ini dilakukan karena hubungan seksual dalam budaya Jawa adalah laku spiritual layaknya ibadah. Langkah-langkah bersuci tertuang dalam pupuh 26.

“Sedangkan ketika ingin memuja-muja dan mengindahkan tingkah laku, mulai dari punya keinginan senggama dengan wanita, semua harus suci, harus mandi keramas, lantas mengambil gayung berisi air dan diangkat di dekat muka dengan berdoa, setelah selesai bersuci mandi keramas (jamas) lantas berpakaian yang rapi untuk mengundang nafsu yang intinya tingkah laku dengan berpakaian yang pantas dan memakai wangi,” demikian nasihat dalam pupuh 26.

TAG

pendidikan seks serat nitimani naskah kuno

ARTIKEL TERKAIT

Ratu Bendara, Perempuan Korban Pernikahan Politis Cara Mengiklankan Film pada Zaman Belanda Melipat Sejarah Martabak Pecenongan 65A Serba-serbi Menonton Bioskop pada Zaman Belanda Dulu Clackers Kini Latto-latto Ratu Punk Vivienne Westwood Membina Rumah Tangga yang Baik ala Raja Jawa Aminah Cendrakasih Sebelum Jadi Mak Nyak Maria Ullfah Diculik Pemuda Gara-gara Film Amerika Menengok Cerita dalam Tari Golek Ayun-ayun