Masuk Daftar
My Getplus

Pelopor Jurnalisme Komik di Indonesia

Harian Rakjat yang berafiliasi dengan PKI merekam peristiwa di Indramayu dan Boyolali dalam komik. Jurnalisme komik pertama di Indonesia.

Oleh: Andri Setiawan | 04 Okt 2019
Komik Indramaju tak Terlupakan di Harian Rakjat, 14 Maret 1965. (Andri Setiawan/Historia).

Bicara soal komik dan jurnalisme, nama Joe Sacco barangkali akan sering disebut. Jurnalis dan kartunis Amerika Serikat ini terkenal karena karyanya, Palestine (1996). Palestine bercerita tentang pengalamannya di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza pada Desember 1991 dan Januari 1992. Sacco menggambarkan situasi di tempat tersebut dan menekankan pada sejarah dan keadaan menyedihkan rakyat Palestina.

Selain Palestine, Sacco juga membuat komik hasil reportase Save Area Gorazde (2000), The Fixer (2003), dan Footnotes in Gaza (2009). Karya-karya Sacco kemudian dikategorikan sebagai jurnalisme komik.

Di Indonesia, Harian Rakjat, koran yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), telah membuat –yang oleh Harian Rakjat disebut sebagai "cerita gambar yang diangkat dari reportase"– pada 1965. Komik pertama tersebut berjudul Indramaju tak Terlupakan, terbit pada 14 Maret 1965.

Advertising
Advertising

Indramayu tak Terlupakan bercerita mengenai konflik lahan antara petani dengan Jawatan Kehutanan pada 15–16 Oktober 1964. Konflik tersebut mengakibatkan diprosesnya lima orang petani karena dituduh melakukan pengeroyokan terhadap seorang polisi kehutanan. Kelima petani Indramayu tersebut lantas dijatuhi hukuman penjara.

Baca juga: Komikus Medan Menggambar Kartini

Kisah tersebut ditulis oleh Nurlan, wartawan Harian Rakjat yang belakangan diketahui sebagai Martin Aleida. Ia baru berusia 22 tahun saat meliput persidangan lima petani dalam kasus konflik lahan tersebut.

Naskah Martin kemudian dilukis oleh pelukis Lekra bernama Bramastho. Kisah tersebut terbagi dalam tiga seri dan terbit setiap hari Minggu, tepatnya pada 14 Maret, 21 Maret, dan 28 Maret 1965. Tiap seri terdiri dari tiga panel gambar beserta narasi reportase di bawahnya.

“Saya kira (ide) ini dari Bramastho,” kata Martin Aleida yang menjadi wartawan Harian Rakjat sejak 1963 hingga 1965 ini kepada Historia.

Di Harian Rakjat, tidak ada pelukis tetap. Bramastho merupakan pelukis lepas yang hidup dari lukisan. Pasca peristiwa 1965, Martin hanya beberapa kali bertemu dengan Bramastho dan tidak mengetahui kabarnya lagi.

“Sesudah peristiwa itu kita masih ketemu beberapa kali. Saling bersembunyi. Saya kira dia sudah meninggal sejak lama,” kata Martin.

Sejauh ini, komik yang dibuat Bramastho tersebut menjadi komik berdasar reportase pertama di Indonesia mengingat belum ada karya serupa pada era itu.

“Saya kira itu pertama kali di Indonesia. Reportase terus dijadikan komik. Setahu saya itu,” kata Martin.

Pada 16 Mei 1965, Harian Rakjat kembali mengeluarkan komik berjudul Bojolali. Kali ini, Harian Rakjat tidak memberi keterangan apakah komik ini berdasarkan hasil reportase. Namun, kisah ini berdasarkan pada peristiwa Boyolali pada November 1964.

Komik ini juga disusun menggunakan template yang sama dengan Indramaju tak Terlupakan. Bojolali terbit tujuh bagian selama Mei hingga Juni 1965. Komik ini dilukis oleh Bramastho, sedangkan naskahnya ditulis oleh Amarzan.

Menurut Marcel Bonneff dalam Komik Indonesia, pada masa pimpinan Sukarno, komik Indonesia dipenuhi gagasan nasonalisme. Tema-tema pahlawan menjadi arus utama komik Indonesia. Komik dalam Harian Rakjat masuk dalam era ini. Namun, perbedaanya, komik Indramaju tak Terlupakan dibuat berdasarkan hasil reportase.

Baca juga: RA Kosasih Bapak Komik Indonesia

Bonneff mencatat pada 1971 terdapat beberapa koran di Indonesia telah menampilkan komik. Indonesia Raya memuat komik Tarzan, Flash Gordon hingga Dunia Charlie Brown. Kompas memuat komik Perdagangan Sendjata dengan Suku Sioux, sedangkan Berita Yudha menampilkan The Lone Ranger. Bukan hanya koran, majalah mingguan hingga majalah anak-anak juga telah memuat komik. Namun belum ditemukan lagi produk jurnalisme komik saat itu, sebagian besar koran-koran tersebut menyajikan komik fiksi Amerika, cerita wayang, hingga komik satir.

Brad Mackay dalam artikelnya "Comic Journalism: A Guest Post By Brad Mackay" di adastracomix.com menyebut bahwa contoh pertama dari jurnalisme komik datang dari Harvey Kurtzman, editor pendiri majalah Mad. Peran Kurtzman dalam jurnalisme komik muncul setelah ia meninggalkan Mad pada 1955. Ia menjadi semacam kartunis selebritas (menggambar kehidupan selebritas). Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Kurtzman menulis dan menggambar komik untuk Esquire, Pageant, dan TV Guide.

Pada 1960, ketika memulai majalah Help!, Kurtzman semakin memperjuangkan tren jurnalisme komik. Ia mempekerjakan sejumlah pemain muda berbakat untuk membantu mengisi halaman-halamannya, seperti Woody Allen, John Cleese, Terry Gilliam, dan Gloria Steinem. Kurtzman juga mengirim kartunis seperti Jack Davis dan Arnold Roth untuk mewawancarai Casey Stengel atau melaporkan kehidupan sehari-hari di Moskow.

TAG

pers komik pki

ARTIKEL TERKAIT

Salim Said Bicara Tentang Tiga Tokoh Pers Meneer Belanda Pengawal Mistar Indonesia Eks Pesindo Sukses Sudirman dan Bola Eks Pemilih PKI Pilih Golkar Supersemar Supersamar Sudharmono Bukan PKI D.N. Aidit, Petinggi PKI yang Tertutup Komponis dari Betawi Suami-Istri Cerai Gara-gara Beda Partai