Masuk Daftar
My Getplus

Ketika Sartre Mengirim Mesin Tik untuk Pram

Filsuf Prancis Jean-Paul Sartre mengirim mesin tik ke Pulau Buru untuk Pram. Yang diterima Pram dari penjaga justru mesin tik bobrok.

Oleh: Andri Setiawan | 10 Agt 2020
Pramoedya Ananta Toer. (Lontar Foundation/Wikimedia Commons).

Pada Oktober 1973, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro mengunjungi Pulau Buru atas perintah Soeharto. Ia datang bersama tim psikolog yang terdiri dari Fuad Hasan, Saparinah Sadli, dan Susmaliah Suwondo untuk mempelajari psikologi para tahanan. Kunjungan itu disertai pula oleh wartawan-wartawan senior dari berbagai media massa seperti Rosihan Anwar, Mochtar Lubis, Jacob Oetama, dan Nardi D.M.

Soemitro bertemu Pramoedya Ananta Toer dan menyampaikan bahwa Pram diizinkan lagi menulis. Hal itu ternyata disebabkan oleh tekanan dunia internasional, terlebih Pram merupakan sastrawan yang telah dikenal dunia.

 “Soemitro mengatakan bahwa mulai saat itu saya boleh menulis kembali. Saya harus mencari sendiri kertasnya, dan saya dapatkan terutama dari gereja Katolik,” ujar Pram dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian! hasil perbincangan dengan Andre Vithek dan Rossie Indira.

Advertising
Advertising

Baca juga: Pram dan Jenderal Soemitro

Sementara untuk mengetik naskah-naskahnya, Lukas Tumiso, kawan Pram di Unit 3 Pulau Buru, menyebut Pram menggunakan dua mesin tik buatan negara Barat. “Yang dipakai Pram itu kalau ndak si Olivetti, ya Royal,” kata Tumiso menjelaskan merek mesin tik yang digunakan Pram, kepada Historia.

Kedua mesin tik itu diusahakan oleh para tapol di Pulau Buru. Mesin tik bantuan yang dijanjikan sastrawan Moctar Lubis tak pernah sampai. Sementara, terkait kabar bahwa Soemitro memberikan mesin tik atas perintah Soeharto, dibantah oleh teman-teman Pram.

Penyair Eka Budianta menyebut mesin tik yang dipakai Pram di Pulau buru bukan pemberian Soemitro, apalagi dari Soeharto. Ia menyebut bahwa Soeharto tak mungkin sebaik itu memberikan mesin tik kepada Pram. Menurutnya, mesin tik Pram adalah kiriman dari filsuf Prancis Jean-Paul Sartre yang sudah berteman lama dengan Pram.

“Yang saya pahami, Jean-Paul Sartre mengirim mesin tik itu untuk Pram dan Pram cerita kepada saya,” kata Eka kepada Historia.

Baca juga: Pram dan Arsipnya

Tumiso membenarkan ihwal pemberian mesin tik dari Sartre itu. Namun, setahunya, Pram tidak pernah memakainya.

“Nah terus Sartre itu memberi yang modern yang ndak bisa dipakai sama Pram. Pram tidak pernah menjamah yang itu. Itu ndak sampai atau disengaja dirusak sehingga ndak bisa dipakai. Dan Pram memang ndak bisa memakainya. Pram ndak bisa pegang mesin tik yang baru kan,” terang Tumiso.

Simone de Beauvoir (kiri) dan Jean Paul Sartre (tengah) mewawancarai Che Guevara di Kuba, 1960. (Alberto Korda/Wikimedia Commons).

Hal senada dikatakan Angga Okta Rachman, cucu Pram yang kini juga mengurus arsip-arsip Pram. “Kalau cerita dari Pak Pram, Pak Pram dikasih mesin tik dari Sartre itu benar. Tapi mesin tik dari Sartre enggak pernah sampai ke Pak Pram,” ujar Angga kepada Historia.

Kala itu, Pram hanya diberi surat tanda terima barang dan diminta untuk tanda tangan. Pram sendiri tidak tahu bagaimana detail pemberian barang tersebut. Kemungkinan barang tersebut langsung diambil oleh penjaga. Pram tidak tahu bahwa barang tersebut adalah mesin tik apalagi buah pemberian Sartre.

“Pak Pram baru tahu dikasih dari Sartre pas keluar. Pas di Pulau Buru enggak tahu kalau dapat mesin tik dari Sartre,” jelas Angga.

Mesin yang diterima Pram dari seorang penjaga adalah mesin tik tua dan rusak. Pram dan teman-temannya kemudian memperbaiki mesin itu. Dengan mesin yang tak diketahui dari mana asalnya itu Pram akhirnya bisa menulis lagi.

Baca juga: Pram Minta Karyanya Dikembalikan

Meskipun Pram telah diizinkan menulis, ia curiga kelak pemerintah tetap akan merampas tulisannya. Oleh sebab itu, Pram mengetik naskahnya dalam beberapa salinan. Satu salinan ia sebarkan kepada teman-teman tapol, satu salinan ia berikan kepada gereja yang kemudian diselundupkan ke luar Pulau Buru.

Dugaan Pram benar, ketika ia dibebaskan pada 1979, naskah-naskahnya dirampas pemerintah. Sementara mesin tiknya tak diketahui apakah ditinggalkan atau dibawa dan kemudian turut dirampas.

“Yang bisa dibawa Pak Pram sendiri ya baju saja sama surat-surat keluarga beberapa lembar. Yang jelas mesin tik yang dari Pulau Buru enggak pernah sampai rumah,” jelas Angga.

TAG

sastra pramoedya

ARTIKEL TERKAIT

Menelusuri Jejak Chairil Anwar di Ibukota Ki Padmasusastra, Sang Penyelamat Sastra Jawa Teror yang Menghantui Salman Rushdie Melihat Kolonialisme Bekerja lewat Teropong Sastra Kegagalan Cinta dalam Kisah Zaman Kuno Bogem Mentah untuk Chairil Anwar John le Carré di Antara Dunia Mata-mata dan Sastra Pramoedya Ananta Toer Tentang Kota Jakarta Abdul Muis Wabah Rabies Munculkan Vampir