Masuk Daftar
My Getplus

Kesendirian Gajah Atraksi

Dikungkung, diperlakukan penuh kekerasan, dijauhkan dari komunitasnya. Gajah atraksi terputus dari nadi kehidupan.

Oleh: Mira Renata | 14 Nov 2019
Gajah Dame. (Mira Renata).

“Dame… Me… Ayo kita pulang Me,” suara lantang mahout (pawang gajah) Wagino membelah keheningan sore.

Dame berjalan menyeruak dari balik pepohonan. Seharian sudah gajah betina itu berjalan-jalan di bukit serta melahap rumput dan dedaunan. Belalainya menjelajah punggung sang mahout yang membawa tas goni berisikan pisang.

“Sebentar dulu Me. Jalan dulu kita balik ke rumah.”

Advertising
Advertising

Dame berjalan bebas tanpa belitan rantai. Ekor pendeknya berkibas ke kanan dan kiri.

“Ekor Dame pernah digigit gajah lain saat masih di sirkus. Bagian yang digigit akhirnya diamputasi untuk mencegah pembusukan,” tutur Wagino.

Dame hanyalah satu dari banyak gajah Asia (Elephas maximus) yang pernah dipekerjakan sebagai gajah atraksi. Ia kini hidup bersama belasan gajah lainnya di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), sebuah area konservasi gajah seluas 250 hektar yang berada di dekat Suaka Margasatwa Barumun, Sumatra Utara.

Dame bersama Wagino. (Mira Renata).

Rasa Iba

Sejak awal peradaban, kehausan manusia menyaksikan atraksi gajah setali dengan hasrat untuk menjinakkannya.

Filsuf Yunani Aristoteles mengulas kemampuan manusia menjinakkan gajah dalam Historia Animalium (Sejarah Hewan) pada 350 SM. “Orang India mempekerjakan gajah untuk berperang... manusia menggunakan gajah jinak untuk mengepung gajah-gajah liar di hutan. Saat gajah liar lelah, manusia naik ke punggungnya; dengan bantuan tongkat besi, binatang liar itu menjadi jinak, mengikuti perintah manusia yang duduk di punggungnya,” tulis Aristoteles.

Baca juga: Gajah Aceh yang Agung

Gajah-gajah Asia dari India kali pertama tiba di Yunani sebagai pampasan Perang Hydaspes (326 SM) setelah Aleksander Agung menaklukkan Kerajaan Paurava di India yang terkenal dengan pasukan gajahnya. Militer Kerajaan Kartago melanjutkan pengembangbiakkan gajah, termasuk gajah hutan Afrika, untuk memperkuat pasukan melawan bangsa Romawi sejak 260 SM.

Bangsa Eropa pertama yang menjadikan gajah sebagai objek atraksi adalah bangsa Romawi. Venatione atau “perburuan” adalah hiburan rakyat Romawi yang diselenggarakan dalam rangkaian pertunjukan gladiator sejak awal abad 2 SM. Binatang-binatang “eksotis” diadu dengan manusia, yang bersenjatakan pedang dan busur, atau sesama binatang buas.

Venatione atau perburuan adalah hiburan rakyat Romawi. (aboriginemag.com).

“Pada hari terakhir didatangkanlah gajah-gajah. Para penonton yang biasanya vulgar terpana menyaksikan kebrutalan di arena. Tak ada sorak keriangan. Bahkan emosi yang meluap adalah belas kasihan kepada gajah-gajah yang terpojok tanpa jalan keluar. Keyakinan menyeruak saat itu bahwa gajah memiliki satu kesamaan dengan manusia,” tulis orator Romawi Tullius Cicero dalam kumpulan surat Ad Familiares VII.1 kepada kawannya, M. Marius, pada 55 SM.

Baca juga: Gajah Sultan Banten

Dua puluh gajah terbunuh dalam venatione yang digelar Gnaeus Pompeius Magnus atau lebih dikenal dengan Pompey, jenderal dan politisi ternama Romawi.

Rasa iba tak cukup menghentikan hasrat manusia terhadap atraksi gajah. Kerajaan-kerajaan di Eropa terus mengoleksi berbagai binatang liar dari belahan dunia, termasuk gajah. 

Mengamuk

Pada penghujung abad ke-18, gajah atraksi pertama di Amerika Serikat datang dengan kapal layar dari India. “Telah datang dari New York menuju Charleston seekor gajah. Ia adalah binatang berkaki empat terbesar di dunia. Bumi bergetar di bawah tapak kakinya. Ia mampu merobohkan sebatang pohon namun patuh kepada mereka yang memperlakukannya dengan baik,” tulis koran Philadelphia Aurora, 28 Juli 1796. 

Seiring tumbuhnya bisnis sirkus pada abad ke-19 di Amerika, atraksi gajah Asia semakin marak.  “Sebagai gajah koleksi menagerie (semacam kebun binatang mini) dan sirkus milik Isaac A. Van Amburgh, Old Hannibal dikenal sebagai gajah jantan yang suka mengamuk,” tulis O.J. Fergusson dalam A Brief Biographical Sketch of I.A. Van Amburgh (1860).

Baca juga: Kisah Badak Tak Bernama

Pada masa itu, belum ada pemahaman tentang fase produksi hormon testosteron pada gajah jantan atau musth. Gajah jantan dalam kondisi musth akan berperilaku agresif. Selain sering mengobrak-abrik kandang, Old Hannibal juga melukai banyak orang.

Old Hannibal mulai menunjukkan sisi lembutnya saat musim dingin pada penghujung 1861. Ia tinggal dalam sebuah gudang bersama gajah betina bernama Queen Ann dari rombongan sirkus lain. Saat musim berganti, rombongan Queen Ann melanjutkan perjalanan ke kota lain. Old Hannibal pun mogok makan. Setelah sebelas hari hanya minum air dan whiskey, ia menerobos kandang sirkus menuju gudang tempatnya menghabiskan waktu dengan Queen Ann.

“Kini kita tahu bahwa seekor gajah tidak luput dari perasaan mendalam dan whiskey,” tulis koran Urbana Union, 12 November 1862.

Serupa manusia, gajah adalah makhluk sosial. Di alam liar, mereka hidup berkelompok dengan struktur matriarki. Setelah berusia sekitar 13 tahun, gajah jantan meninggalkan kawanannya untuk bergabung dengan kelompok jantan hingga kawanan betina siap kawin. Bersama kelompoknya, gajah Asia bisa menjelajah 100-200 km2 di hutan. Vokalisasi “terompet”, saling membelitkan dan menyentuh dengan belalai merupakan cara berkomunikasi satu sama lain. Kawanan gajah juga mampu berkomunikasi lewat bunyi berfrekuensi rendah (infrasonik), yang terdengar sejauh empat sampai tujuh kilometer.

Baca juga: Badak antara Versailles dan Jawa

Tanpa kehadiran komunitasnya, dalam kungkungan dan perlakuan penuh kekerasan, gajah atraksi terputus dari nadi kehidupan. Ketiga faktor itu menjadi pemicu garis tragis kehidupan Topsy. Seekor gajah Asia betina yang didatangkan secara illegal sekitar 1875 ke Amerika Serikat, Topsy sempat menjadi bintang Forepaugh Circus dengan tagline “bayi gajah pertama yang lahir di Amerika”.

Namun kehidupan Topsy jauh dari perlakuan istimewa. Hari-harinya sarat dengan latihan disertai pukulan, hujaman tongkat berkait, dan sundutan rokok. Semakin dewasa, Topsy semakin agresif. Ia menyerang pelatih-pelatih yang menyiksanya. Tiga di antaranya meninggal. Rentetan kejadian ini membuat pihak sirkus menjual Topsy kepada manajemen taman wisata Pulau Coney yang kemudian berganti tangan kepada Luna Park.

Ilustrasi Topsy, St. Paul Globe, 16 Juni 1902. (Wikipedia).

Pemilik Luna Park, Thompson dan Dundy, berupaya menyingkirkan Topsy yang dianggap membawa kerugian. Namun tidak ada sirkus yang mau menerima Topsy. “Perang arus listrik” antara Thomas Edison dan Nikolas Tesla kelak memberi ide bagi Thompson dan Dundy.

“Meski dipuja publik sebagai ‘inovator’, Edison, penemu arus listrik langsung (direct current, DC) merasa terancam dengan penemuan arus listrik bolak-balik (AC) oleh Tesla. Eksekusi Topsy menjadi kampanye tim Edison akan bahaya AC yang mematikan,” tulis Michael Daly dalam Topsy: The Startling Story of the Crooked Tailed Elephant, P.T. Barnum, and The American Wizard Thomas Edison (2013).

Di detik-detik terakhir, Topsy seakan tahu kekejaman yang akan mengakhiri nyawanya. Jauh dari “kebuasan bak sosok kriminal” yang digembar-gemborkan media, ia berjalan pelan menuju tempat eksekusi pada 4 Januari 1903. Sejenak, Topsy enggan memakan wortel bersalut sianida yang disuguhkan sebelum aliran listrik 6,600 volt mengakhiri hidupnya.

Anak Kita

Hingga abad ke-21, teknik menjinakkan gajah yang dikenal sebagai crushing menjadi acuan berbagai pengelola wisata gajah. Anak gajah liar dikurung dalam kandang sempit dengan keempat kaki terikat. Semakin ia memberontak terhadap perintah manusia, teriakan, pukulan tongkat berkait, dan tendangan menderanya. Dibiarkan kelaparan dan tanpa cukup istirahat, siksaan terus berulang. Jiwa anak gajah akhirnya hancur, menyerah patuh dalam kesendirian kepada manusia.

Baca juga: Kompi Gajah Bikin Inggris Tak Jadi Kalah

Tak hanya saat latihan, kekerasan dalam bentuk eksploitasi juga menyiksa banyak gajah atraksi. Kematian Dumbo, gajah kecil berusia tiga tahun di Kebun Binatang Phuket, Thailand, pada 16 Mei 2019, menimbulkan gelombang protes terhadap buruknya perlakuan terhadap gajah atraksi.

Dumbo. (movinganimals.org).

“Setiap hari Dumbo dipaksa mengikuti irama rave, memainkan alat musik dan atraksi demi menghibur turis. Kami menyaksikan turis-turis tertawa dan mengambil selfies, sementara bayi gajah kurus itu berdiri dengan mata tertutup, menghisap belalainya dalam diam. Kami memulai petisi untuk menghentikan penderitaan Dumbo dan mentransfernya ke suaka margasatwa terdekat,” tulis kelompok perlindungan satwa Moving Animals.

Malang, Dumbo meninggal sebulan setelah petisi diluncurkan. Malnutrisi, kelelahan, infeksi pencernaan akut serta kaki belakang patah menjadi derita hidupnya yang singkat.

Baca juga: Jejak Harimau di Dunia

Gajah-gajah pekerja seperti Dame dan Dumbo berhak menikmati hidup layak tanpa siksaan. Meski tipis harapan untuk kembali menapak bebas alam rimba seperti leluhur mereka, upaya konservasi dan wisata yang menjaga kesejahteraan gajah menjadi teramat penting. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) kini dalam status kritis terancam punah berdasarkan daftar Uni Internasional Konservasi Alam (IUCN).

Di BNWS, setiap mahout merawat gajah agar kembali menjalani hidup sebagai gajah –tanpa latihan atraksi, tanpa ditunggangi dan dimandikan turis. “Anggap saja mereka anak-anak kita. Orang tua akan mencoba memahami kepribadian masing-masing anak dan mengajar mereka lewat komunikasi yang pas,” ujar Wagino.

TAG

hewan gajah

ARTIKEL TERKAIT

Akhir Kisah Raja Lalim Merpati Terbang untuk Perang Jejak J.A. Kaligis, Dokter Hewan Bumiputra Pertama Awal Mula Dokter Hewan di Indonesia Memahami "Preman" yang Diberantas Gajah Mada Panglima Besar Pelihara Ular Pertemuan Ilmuwan Amerika dengan Komodo Wajah Lain Gajah Mada Apakah Naga Benar-Benar Ada? Pemberontakan Terhadap Raja Majapahit