Masuk Daftar
My Getplus

Awal Mula Demam Sepatu Roda

Anak muda 1980-an belum gaul kalau belum main sepatu roda. Berseluncur dari jalanan hingga diskotek.

Oleh: Darma Ismayanto | 08 Mei 2022
Anak muda bermain sepatu roda di Lloyds Roller Rink. (Lukas Schroeder/Unsplash).

Pagi buta, di sebuah jalan aspal yang melandai, beberapa muda-mudi memacu laju sepatu roda. Ketika tong-tong penuh warna menghadang, mereka bermanuver untuk melewatinya. Setelah itu, mereka memacu sepatu roda ke jalanan ibu kota. Mereka meluncur penuh gaya di antara mobil-mobil yang memadati jalan.

Adegan itu menjadi pembuka film Olga dan Sepatu Roda. Besutan sutradara Achiel Nasrun pada 1991 ini menampilkan Desy Ratnasari sebagai pemeran utama. Film ini terinspirasi tokoh cerpen Hilman Hariwijaya di majalah Mode lalu dibukukan dengan judul Olga. Kemunculan film ini tak lepas dari demam sepatu roda yang melanda anak-anak muda saat itu.

Baca juga: M Bloc dari Gudang Kosong Jadi Tempat Nongkrong

Advertising
Advertising

Putri Purnama, perempuan berusia sekitar 34 tahun yang bekerja sebagai manajer proyek pembangunan dan pengembangan situsweb untuk Australia, merupakan salah seorang yang tergila-gila dengan sepatu roda. Dia biasa bermain di Happy Day Disco Roller Skate di kawasan Blok M. Dia dan kawan-kawannya bisa menghabiskan waktu 2-3 jam meliuk-liuk bersepatu roda di Happy Day.

“Sejak kelas 5 SD, umur masih 12 tahunan, saya biasa mengunjungi Happy Day bersama teman-teman dan kakak dari salah satu teman. Sekarang sudah tidak ingat apakah tempat itu kecil atau besar, mungkin karena saya masih kecil. Perasaan waktu itu ruangannya besar sekali, dengan terowongan dan landasan spiral dan segitiga. Ruangannya waktu itu cukup gelap berhias lampu-lampu laser,” kata Putri.

Sys NS, mantan penyiar radio Prambors, mengatakan bahwa tahun 1980-an Blok M jadi tempat ngeceng anak-anak muda Jakarta, ajang melihat dan dilihat. “Sepatu roda memang sedang tren. Serulah pokoknya waktu itu,” kata Sys.

Baca juga: Jatuh Bangun Sejarah Skateboard

Demam Disko

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, sepatu roda sudah mulai digandrungi anak muda sekitar 1960-an, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya, Ujung Pandang, dan Jakarta. Eksistensi sepatu roda bisa dilacak dari film Djuara Sepatu Roda tahun 1958 garapan Wim Umboh.

Meski adegan bersepatu roda hanya tampil sepintas, tapi film itu memberi gambaran bahwa saat itu orang Indonesia sudah kenal sepatu roda. Pada 1978 muncul perkumpulan sepatu roda yang dibikin Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA). Sejak itu permainan ini mulai populer.

Baca juga: Sejarah Klub Malam di Indonesia

Namun yang melambungkan sepatu roda adalah tren di Amerika, yang menggabungkan aktivitas bersepatu roda dengan berjoget atau dikenal dengan sebutan roller disco.

Menurut Rennay Craats dalam History of The 1970s, berawal dari goyang disko ala John Travolta dalam film Saturday Night Fever yang dirilis pada 1978, banyak muda-mudi Amerika terkena demam disko. Pada 1980, kurang lebih 10 ribu klub disko tumbuh di Amerika dengan rata-rata pendapatan 4 juta dolar per tahun.

Baca juga: Kenangan yang Tertinggal di Diskotek Tanamur

Dari klub, disko merambah jalan-jalan atau taman di kota Amerika. Para pemain sepatu roda biasa bermain di taman kota ditemani alunan musik dari radio tape. Sembari mendengarkan alunan musik, mereka kerap berimprovisasi ala tarian disko. Saat itulah roller disco muncul.

Pada pengujung 1970-an, banyak penari roller disco dengan kostum celana satin gemerlap mengikuti kompetisi-kompetisi roller disco. Bila Saturday Night Fever menjadi awal dari kegilaan tarian disko, maka film Roller Boggie yang dirilis pada 1979 menandai popularitas roller disco.

Lipstick Disco Skate di Blok M. (matalelaki.com).

Roller Disco

Demam roller disco juga merambah Indonesia. Hampir mirip seperti di Amerika, film Saturday Night Fever jadi pemicunya. “Film itu seperti mengukuhkan kepada anak-anak muda di kota besar di seluruh dunia bahwa malam minggu orang harus pergi ngedisco,” tulis Andre Syahreza dalam The Innocent Rebel.

Lebih lanjut Andre menulis, saat itu berbagai diskotek pun bermunculan, termasuk Lipstick, diksotek untuk bermain sepatu roda sambil mendengarkan musik dan bergoyang ala tarian disko.

Baca juga: Sejarah Musik Dugem

“Mungkin pengelolanya melihat remaja-remaja Indonesia sedang keranjingan sepatu roda. Dengan alasan untuk memasyarakatkan sepatu roda sebagai olahraga remaja yang sehat, maka Lipstick Disco Skate dibuka di Blok M, Kebayoran Baru,” tulis majalah Rona terbitan tahun 1988.

Saking digandrunginya, para pebisnis hiburan meliriknya. Surabaya duluan memulainya. Sejak 1979, Go Skate, tempat orang-orang berseluncur di atas sepatu roda sudah kondang di sana. Tempo menulis, gedung seluas 4.000 m2 itu dikelola PT Surabaya Indah. Cuma lantaran pengunjung menyusut, pada 1980 arena ini ditutup.

Kitting Lee, DJ di Lipstick Roller Disco di Gajah Mada Plaza pada 1987. (Dok. Pribadi).

Namun di Jakarta, satu per satu diskotek mulai menyediakan tempat yang memungkinkan anak-anak muda bisa bersepatu roda dengan santai sembari mendengarkan alunan musik dari disc jokey (DJ). Ruangannya mirip dengan diskotek pada umumnya yang berhias tata lampu temaram. Orang juga bisa memesan minuman.

“Sebetulnya bukan diskotek ya, tapi sebuah tempat yang disediakan untuk orang bersepatu roda sambil diiringi musik,” kata Kitting Lee yang sempat menjadi DJ di Lipstick Roller Disco di Gajah Mada Plaza pada 1987. “Saya hanya dua bulan bekerja di sana, tapi saat itu keranjingan anak muda dengan sepatu roda memang luar biasa.”

Baca juga: Awal Mula Hostes di Jakarta

Menurut Lee, tempat kerjanya adalah Lipstick kedua yang berdiri setelah Lipstick di Blok M. Lee juga gila sepatu roda. Dia kerap mengunjungi Lipstick hingga akhirnya mendapat tawaran jadi DJ.

“Peminatnya banyak sekali. Di tempat saya ngedije, setiap hari selalu ramai pengunjung, tak pernah sepi. Tahun 1980-an, anak muda tak main sepatu roda belum gaul namanya,” ujar Lee.

Selain Happy Day dan Lisptick, NASA Roller Disco di daerah Monas jadi salah satu tempat bermain sepatu roda favorit remaja Jakarta. “Bermain, bertemu teman-teman, senang-senang bersama. Banyak kenangan yang tidak bisa terlupakan waktu itu,” kata Putri.

TAG

sepatu roda

ARTIKEL TERKAIT

Rias Pengantin ala Serat Centhini Karayuki di Bumi Pertiwi Tipu-Tipu Dukun Dibongkar Pesulap Eddy Gombloh Kawan Tentara Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Empat Hal Tentang Komik Empat Hal Terkait Perempuan Tiga Tentang Jepang Riwayat Homofobia Dari Harajuku ke Haradukuh