Masuk Daftar
My Getplus

Tujuh Cerita Ringan Sukarno

Dari lagak Sukarno menunggang kuda hingga nyasar ke bioskop. Dari Kromo Lawi hingga Marhaen bakar jerami.

Oleh: Historia | 01 Agt 2022
Presiden Sukarno menunggang kuda dalam upacara peringatan Hari Angkatan Perang Republik Indonesia pertama di alun-alun Yogyakarta pada 5 Oktober 1946. (IPPHOS/ANRI).

Lagak Menghadapi Kuda

Pada peringatan ulang tahun pertama Angkatan Perang Republik Indonesia (kini TNI) pada 5 Oktober 1946, Presiden Sukarno dijadwalkan naik kuda untuk inspeksi pasukan. Seorang prajurit kavaleri melatihnya.

Di akhir sesi latihan, Sukarno berbisik: “Untuk pawai besok, berilah saya kuda yang paling lunak, paling tua, paling jinak, dan hampir mendekati kematiannya.”

Si prajurit menolak: “Tidak pantas buat Bapak. Kuda yang Bapak naiki harus kuda yang muda dan garang.”

Advertising
Advertising

Sukarno cemas namun dipendam dalam hati.

Keesokan harinya, saat acara, kekhawatirannya terjadi. Kuda tunggangannya menjadi liar. Sukarno ciut nyali, namun sifat pelagaknya muncul di depan pasukan yang bersorak. Dia memainkan pergelangan, mengingat apa yang diajarkan si prajurit kavaleri. Akhirnya, tunggangan itu pun dapat dikuasai.

Baca juga: Lima Cerita Ringan Sukarno

Lawi Jadi Kromo

Dalam kongres Partai Indonesia (Partindo) di Surabaya, sekira tahun 1933, salah satu pesertanya bernama Lawi mendatangi Sukarno. Dia merengek minta gelar kehormatan. Sukarno dengan spontan memberinya gelar Kr.

Semua peserta kongres bingung, tak paham dengan gelar Kr. tersebut. Jika Dr. kependekan dari dokter, Ir. adalah insinyur, dan Mr. untuk Meester de Rechten (ahli hukum), lantas apa artinya Kr? Mereka mendesak Sukarno memberi penjelasan.

“Kr itu artinya kromo,” ujar Sukarno. Kromo artinya rakyat kecil.

Peserta kongres tergelak tawa. Lawi pun senang dengan tambahan itu. Sejak itu nama Lawi menjadi Kromo Lawi. Setelah Proklamasi, Kromo Lawi menjadi tokoh Barisan Banteng yang terkenal dari Pekalongan.

Baca juga: Mengulik Gelar-gelar Akademik di Indonesia

Jangan Tembak Mati

Desember 1948, Belanda menyerbu Yogyakarta. Tentara Belanda di bawah komando Van Langen lalu mengepung istana dan memaksa bertemu Sukarno. Mangil Martowidjojo, komandan polisi pengawal pribadi presiden, menemui Van Langen.

“Tuan bisa saya tembak mati di sini. Sukarno suruh datang kemari,” kata Van Langen sambil menodongkan senjata.

Mangil kembali masuk istana dan melapor kepada Sukarno. “Apakah mereka tidak mau datang? Mereka saja suruh datang ke mari,” ujar Sukarno.

Mangil menjawab bahwa dirinya akan ditembak mati jika Sukarno tidak datang menemui Van Langen. “Ancaman mereka begitu, Pak.”

“Oh ya jangan,” kata Sukarno yang lalu menemui Van Langen.

Baca juga: Ketakutan Bung Karno

Keris Tolak Kemarau

Satu sore di istana, Bung Karno menerima tamu seorang laki-laki berpakaian Jawa. “Ini Pak Pringgo, menghadap Bapak sekaligus membawa keris pusakanya untuk dipersembahkan kepada Bapak,” ujar Harjo, kepala rumah tangga istana.

Bung karno mengangguk. Pringgo pun mengeluarkan keris yang dibungkusnya. Dia berujar bahwa kerisnya berasal dari zaman Majapahit, ber-luk lima dan bertuah.

“Lalu apa yang bisa saya berikan kepada Bapak?” tanya Bung karno lagi. Pringgo pun menginginkan mobil.

“Bapak ingin apa?” ujar Pringgo meyakinkan keampuhan kerisnya.

“Coba cabutlah keris itu dan mohon hujan turun sekeras-kerasnya agar rumput di tamanku ini menjadi segar dan hijau kembali,” jawab Bung Karno.

Pringgo langsung pucat. Dia pun mengundurkan diri. Hujan juga tak datang.

Baca juga: Sebelum Keris Berfungsi Magis

Nyasar ke Bioskop

Selepas berpidato di depan rakyat Madiun, sekira 1960-an, Sukarno beserta rombongan siap bergerak menuju rumah kepala daerah setempat, tempat mereka menginap. Begitu Sukarno masuk mobil, si sopir segera tancap gas. Selama perjalanan, si sopir mengikuti laju sepeda motor salah satu Corps Polisi Militer (CPM).

Setelah lama berputar-putar, motor itu ternyata menuju bioskop dan berhenti di depan gedung yang penuh reklame film. Rupanya, dia tak sadar jika diikuti rombongan Sukarno.

Sukarno pun bertanya kepada ajudannya, Sugandhi. “Gandhi, ini mau ke mana?” tanya Sukarno.

Ditanya demikian, Sugandhi kebingungan. Rupanya si sopir mengira CPM yang diikutinya adalah voorijder yang biasa mengawal presiden. Sukarno pun memahami kesalahpahaman itu. Dia hanya tersenyum dan segera memerintahkan bergerak ke tujuan semula, kediaman rumah kepala daerah.

Baca juga: Yang Pertama dalam Sejarah Film dan Bioskop

Bung Besar Senang

Sekali waktu, pengusaha Thayeb Gobel datang ke istana atas ajakan kawannya. Rupanya Bung Karno sudah mendengar bahwa produk dari Gobel, radio transistor merek Cawang dan Leppin Product, sudah tersebar hingga ke pedesaan.

Setelah berjabat tangan, Bung Karno bertanya alasan Gobel memproduksi radio transistor.

“Supaya pidato Bapak bisa sampai ke desa-desa, di tempat yang jauh di kaki gunung, di pulau-pulau. Di desa belum ada listrik, Pak,” jawab Gobel diplomatis.

Bung Besar gembira. “Begini seharusnya pemuda-pemuda kita,” ujarnya keras-keras di hadapan para tamu istana.

Baca juga: Riwayat Radio Pemberontakan Bung Tomo

Revolusi Versi Sukarni

Ketika akan kembali ke Jakarta dari Rengasdengklok, rombongan Sukarno dikejutkan oleh asap yang membumbung tinggi di kejauhan.

Sukarni, yang sebelumnya menyebut akan terjadi revolusi di Jakarta, langsung berteriak: “Lihatlah! Itu sudah dimulai. Revolusi sudah berkobar persis seperti yang kami janjikan. Jakarta sudah terbakar. Lebih baik, kita cepat-cepat kembali ke Rengasdengklok,” katanya bersemangat.

Baca juga: Sukarni dan Proklamasi

Alih-alih menuruti kata-kata Sukarni, Sukarno memerintahkan sopir untuk mendekati lokasi kebakaran. Suasana di dalam mobil tegang. Namun begitu mendekat, mereka menemukan seorang petani kurus-kecil berpakaian compang-camping tengah membakar tumpukan jerami.

Sukarno menoleh ke arah Sukarni dan dengan sinis berkata: “Ini bukan bumi hangus. Tidak ada pemberontakan besar-besaran. Tidak ada ratusan ribu orang yang menantikan isyarat untuk berontak. Ini hanyalah seorang Marhaen yang tengah membakar jerami!”

 

TAG

sukarno

ARTIKEL TERKAIT

Ratu Elizabeth II Mengundang Bung Karno Ke London Kenaikan Harga BBM Masa Sukarno Lima Cerita Ringan Sukarno Konflik Sukarno dengan Adam Malik Jejak Nelson Mandela di Indonesia Sumbangan Rakyat Bangka untuk Republik Indonesia Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman Sukarno Sakit Ginjal Ende dan Perenungan Bung Karno Sukarno di Usia 29