Masuk Daftar

Roem: Tidak Ada Waktu Membenci Sukarno

Mohammad Roem sangat terkesan oleh kebijakan ibu dari Subadio Sastrosatomo. Salah satunya meminta sang anak untuk memaafkan Presiden Sukarno yang telah memenjarakannya.

Oleh: M. Fazil Pamungkas
Mohammad Roem (depan paling kiri) saat menjadi menteri luar negeri. (Wikimedia Commons).

Periode 1960-an merupakan tahun-tahun terberat bagi perpolitikan Indonesia. Perubahan sikap Presiden Sukarno yang dianggap menjadi penyebabnya. Gelombang kehancuran pun begitu kentara saat pemerintah mulai menutup diri dari berbagai kritik. Juga saat mereka semakin reaktif terhadap berbagai tindakan yang dinilai bertentangan dengan kebijakan sang pemangku kekuasaan.

Akibatnya, pada 1962, enam orang tokoh penting tersingkir dan dipenjarakan. Sebagian dari mereka adalah kawan yang pernah berjuang bersama Sukarno semasa kemerdekaan, yakni: Sutan Sjahrir, Prawoto, Mohammad Roem, Subadio Sastrosatomo, Anak Agung Gde Agung, dan Sultan Hamid. Bagi Roem, diceritakan dalam Bunga Rampai dari Sejarah, penangkapan tersebut cukup membuat ia dan kawan-kawannya tertekan.

“Alasannya karena menurut “logika revolusi” harus ditarik garis yang tegas antara kawan dan lawan. Karena kami tidak dapat dipandang sebagai kawan maka kami dianggap musuh. Sangat sederhana berpikir menurut logika revolusi!” tegas Roem.

Baca juga: Ramadan Hamka di Penjara

Selama di balik jeruji, para tahanan politik ini ditempatkan di dalam blok yang sama. Ikatan emoisonal pun semakin terbangun di antara mereka. Satu sama lain sudah saling mengenal sifat-sifat, serta kebiasaan kawan senasibnya ini. Dan di antara semuanya, Roem cukup tertarik dengan kebiasaan Subadio yang beraktifitas pada pukul 12 malam.

Bermodalkan rasa penasaran, Roem memberanikan diri bertanya kepada Subadio. Tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) itu lalu bercerita bahwa dia diberi pesan oleh ibunya agar jangan tidur sebelum jam 12 malam, atau jika sesuatu membuatnya terpaksa harus tidur, dia diminta untuk bangun meski hanya sebentar. Kemudian di luar kamar tidur, Subadio diminta untuk “memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan”.

Roem terperangah. Hampir tidak ada komentar yang keluar dari mulutnya saat Subadio berkata demikian. Dia tidak menyangka kawannya ini memiliki pandangan hidup seperti itu, mengingat sikap Sukarno kepadanya. Roem juga menyaksikan sendiri ucapannya bukan hanya sebatas di mulut saja, setiap malam Subadio benar-benar melaksanakan pesan sang ibu. Meski hanya sebuah kalimat sederhana, pesan ibu Subadio terukir begitu dalam di ingatan Roem.

Baca juga: Kisah Penculikan Sjahrir

“Subadio seorang yang berbahagia, meskipun sudah matang dan dewasa, masih mempunyai seorang ibu, yang memberikan pandangan hidup. Tentu Subadio sendiri setuju, dalam pada itu sesuatu “pengasih” dari ibu, mempunyai nilai lebih, dari pada kalau sikap hidup itu hasil pemikiran sendiri,” ungkap Roem.

Suatu hari dia berkesempatan bertemu ibu Subadio saat kunjungan ke penjara. Keduanya sempat saling menyapa dan berbincang. Selain pemikirannya, kepribadian ibu Subadio juga rupanya membuat Roem terkesan. Berbagai pertanyaan seketika timbul dibenaknya: apakah ibu Subadio memang tidak membenci Sukarno? atau Mengapa dia meminta putranya memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan?

“Kesimpulan penulis, ialah bahwa Ibu Sastrosatomo (Subadio) tidak membela Sukarno, tapi prihati dan berusaha agar putranya jangan dihinggapi penyakit benci Sukarno. Dan kalimat yang ia berikan kepada putranya itu merupakan suatu latihan mental yang dikerjakan tiap hari, yang menurut penulis efeknya akan tepat,” tulis Roem.

Lantas bagaimana dengan sikap Roem? Baginya ucapan ibu Subadio sangat menolongnya. Dia jadi sungguh-sungguh memikirkan kebenciannya kepada Sukarno, dan mempertimbangkan agar tidak membenci Sukarno atas segala dosa yang dibuatnya. Sebab kebencian, kata Roem, tidak memberi manfaat apapun. Tapi dia tidak mungkin bisa bersikap sejauh ibu Subadio di dalam memandang sosok Sukarno.

Terkesan Tidak Membenci

Pada Agustus 1967, Roem berangkat ke Belanda. Setiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, sejumlah wartawan telah menunggu kedatangan Roem. Mereka ingin meminta kabar terkini soal Indonesia dari sang diplomat. Terutama tentang perubahan situasi politik yang sedang terjadi di Tanah Air, dan kondisi Sukarno di dalam negeri. Setelah selesai memberi keterangan pers, Roem pamit melanjutkan perjalanannya. Ketika akan beranjak, seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang menohok.

“Tuan Roem, mengapa anda tidak membenci Sukarno?” tanyanya.

Baca juga: Haji Agus Salim, Diplomat yang Melarat

Roem terdiam. Dia sama sekali tidak ingin menceritakan kepada wartawan itu bahwa seorang perempuan yang bijaksana telah memberkati pikirannya dengan falsafah yang sangat baik. Sambil berpura-pura heran, Roem berbalik melontarkan pertanyaan.

“Siapa bilang saya tidak membenci Sukarno? Saya sudah ditahan 4 tahun 4 bulan, tanpa diadili,” pungkas Roem.

“Anda menjawab berbagai-bagai pertanyaan tentang Sukarno, dan tidak ada gejala-gejalanya bahwa anda membenci Sukarno,” jawab si wartawan.

Karena sesi wawancara memang sudah selesai, dan beberapa kawan yang menjemput sudah lama menunggu, Roem segera mengakhiri percakapan itu. Sambil tertawa dia mengatakan: “Oh, saya tidak punya waktu untuk membenci Sukarno”. Para wartawan tertawa dan mereka berpisah.

sukarno mohammad roem

ARTIKEL TERKAIT

Ketika Sukarno Marah kepada Sjahrir Negara Teater dan Teater Negara Bung Karno Kisah Hoegeng Disetrap Bung Karno Kehangatan Bung Karno dan Keluarga Dalam Kamera Tentang Ketuhanan yang Berkebudayaan Tentang Lambang PNI Sukarno Menembus Hutan Bukit Barisan Martin Aleida, Sang Peliput Istana Berbagai Ekspresi Bung Karno Dalam Fotografi Sukarno dan Bantuan Beras Indonesia untuk India