Masuk Daftar
My Getplus

Masuk Desa Tanpa Busana Karena Diserang Belanda

Tak setuju pada politik diplomasi, Chairul Saleh pilih angkat senjata. Di Sungai Cimanuk, alami kejadian menggelikan.

Oleh: M.F. Mukthi | 18 Mar 2020
Chairul Saleh (repro buku "Chairul Saleh Tokoh Kontroversial')

BEGITU Belanda melancarkan Agresi Militer II yang diikuti dengan penangkapan para petinggi republik, Chairul Saleh, pengikut Tan Malaka yang menentang jalur diplomasi politik, memerintahkan bawahannya untuk memulai long march kembali ke Jawa Barat. “Kita harus kembali ke pos kita masing-masing. Pos perjuangan kita adalah Krawang, Jawa Barat. Kumpulkan dan siapkan pasukan, kita harus secepatnya berangkat. Kumpulkan kawan-kawan, kumpulkan senjata yang ada. Hari ini juga kita meninggalkan Yogya lewat Krawang, Purwakarta menuju Sanggabuana,” kata Chairul sebagaimana dikutip Irna HN Soewito dkk. dalam biografi berjudul Chairul Saleh Tokoh Kontroversial.

Sikap Chairul yang memilih angkat senjata sebagai ketidaksetujuan terhadap politik diplomasi pemerintah membuatnya menjadi lawan pasukan republik. “Satu di antara kelompok-kelompok radikal yang penghancurannya ditugaskan kepada Angkatan Darat adalah lasykar komunis-nasionalis yang berdiri di belakang Tan Malaka. Kelompok lasykar yang terakhir –yang jumlahnya cukup besar dan yang setia kepada ajaran Tan Malaka– ditundukkan dalam bulan Oktober 1949 di Banten Selatan. Pemimpin mereka, Chaerul Saleh, baru dapat ditangkap bulan Maret tahun berikutnya,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwifungsi ABRI.

Dari rumah-markas di Jalan Bausasran, Yogyakarta, Chairul cs. lalu bergerak dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok Chairul berangkat paling akhir. Di Ngasem, Chairul mampir ke rumah seorang kawannya unutk meminta sedikit bekal beras dan uang.

Advertising
Advertising

Baca juga: Lelucon Long March Siliwangi

Kelompok-kelompok kecil tadi akhirnya kembali bertemu dan bergabung setelah mencapai Gunung Menoreh, Magelang. Perjalanan mereka kian ramai setelah sepasukan dari Polri yang hendak ke Indramayu memutuskan bergabung. “Penggabungan ini cukup membantu, empat belas orang bersenjata 10 karaben dan 2 pucuk pistol,” sambung Irna dkk.

Sekira 35 hari setelah keberangkatan itu, Chairul dan kawan-kawan itu akhirnya sampai di perbatasan Jawa Barat. Dalam masa sebulan lebih itu, suka-duka silih berganti mengiringi perjalanan berat mereka. Kelaparan, kedinginan, kekhawatiran, bahkan kesedihan akibat kehilangan teman menjadi warna dalam perjalanan itu. Chairul sendiri saat itu telah berjalan menggunakan tongkat akibat telapak kakinya bengkak dan berair setelah sepatunya jebol sebelum masuk Purwokerto. “Dasar kaki borjuis, tidak mau menyesuaikan diri,” kata Chairul membanyol.

Gaya kepemimpinan Chairul yang egaliter dan kerap membanyol itu mampu menjaga semangat anggota rombongan. Tak satupun dari mereka mengeluhkan perjalanan berat itu meski berulangkali maut nyaris menghampiri. Di persawahan Salem dekat perbatasan Jawa Barat, mereka diberondong peluru pesawat Mustang Belanda. Tak satupun dari peluru pesawat Belanda itu yang mengenai sasaran.

Baca juga: Chairul Saleh dan Laut Teritorial Indonesia

Rombongan Chairul lalu melanjutkan perjalanan ke Cirebon melalui lereng Gunung Ciremai. Di sana, mereka menyempatkan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Majalengka. Saat hendak menyeberangi Sungai Cimanuk, rombongan berhenti untuk menunggu perintah Chairul. Semua diperintahkan Chairul untuk melepas pakaian alias bugil karena masing-masing hanya membawa pakaian yang dikenakan. Setelah semua pakaian selesai ditanggalkan dan ditaruh di atas kepala masing-masing, Chairul memerintahkan Salim Bajeri berjalan duluan untuk menjajaki kedalaman sungai. Salim dipilih karena postur tubuhnya tinggi.

Satu per satu anggota rombongan, termasuk Chairul, akhirnya mengikuti Salim. Saat mencapai tengah sungai, rentetan tembakan menyambut mereka. Para serdadu Belanda yang bersembunyi di tebing seberang ternyata telah menunggu kedatangan mereka.

Chairul langsung memerintahkan rombongan untuk mundur dan berlindung di tempat aman. Kepanikan membuat mereka dengan cepat bisa keluar dari sungai. “Dalam keadaan telanjang bulat semua lari masuk kampung terdekat. Dapat dibayangkan bagaimana penduduk melihat sepasukan orang dalam keadaan bugil, berlari-lari mencari perlindungan di antara rumah-rumah mereka,” sambung Irna dkk.

TAG

chairul-saleh agresi militer hijrah-siliwangi

ARTIKEL TERKAIT

Ketika Chairul Saleh Ogah “Memijat” Sukarno Hijrah yang Dibenci TNI Chairul Saleh dan Laut Teritorial Indonesia Dirikan Media, Cara Murba Tangkis Komunis Kriminalitas Kecil-kecilan Sekitar Serangan Umum 1 Maret Dokter Soetomo Dokter Gadungan Komandan AURI Pantang Kabur Menghadapi Pasukan Gaib Umar Jatuh Cinta di Zaman PDRI Panglima Alex Kawilarang dan Letnan Songong Buronan Singapura Lari Ke Gorontalo