Masuk Daftar
My Getplus

Kisah Hamka dan Si Kuning

Seekor kucing domestik menemani Buya Hamka hingga akhir usianya. Pernah menghilang, namun kembali menemukan jalan pulang

Oleh: M. Fazil Pamungkas | 03 Des 2019
Potret Hamka dan keluarganya (Wikimedia Commons)

SUATU subuh tahun 1950-an, Hamka dikejutkan dengan erangan seekor kucing kecil di sekitar rumahnya. Sedari malam suara kucing memang sudah terdengar oleh keluarga Hamka tetapi karena jauh mereka mengabaikannya. Namun kini suaranya sudah sangat dekat, seperti ada di depan teras rumah. Suara itu benar-benar mengganggu kekhusyukan shalat Hamka dan keluarganya.

Selepas shalat, Hamka buru-buru mendatangi sumber suara tersebut. Dan benar saja, di depan pintu rumahnya sudah ada seekor anak kucing domestik berwarna kuning yang tampak kotor dan kurus. Kondisinya cukup memperihatinkan. Diceritakan oleh putra ke-5 Hamka, Irfan Hamka dalam Ayah: Kisah Buya Hamka, kucing itu segera dibawa masuk dan dibersihkan oleh ayahnya. Tidak lupa secangkir susu dan beberapa potongan kain disiapkan untuk si kucing. Hamka terlihat begitu senang melihat kucing kurus itu terlelap setelah menghabiskan susu yang ia siapkan. “Si Kuning” begitulah Hamka memanggil peliharaan barunya itu.

Empat bulan berlalu, Si Kuning yang saat ditemukan sangat lusuh telah tumbuh menjadi kucing remaja yang begitu sehat. Ia mempunyai tugas khusus di keluarga Hamka: berburu tikus. Sejak ada si Kuning, kata Irfan, rumah di Gang Toa Hong II, Kebon Jeruk itu terbebas dari tikus-tikus yang selama ini sangat mengganggu.

Advertising
Advertising

“Si Kuning sangat menurut pada Ayah. Pernah ketika Ayah berpergian ke Amerika selama empat bulan, Si Kuning tampak kesepian. Ia mengeong terus mencari-cari Ayah,” ucap Irfan.

Baca juga: Buya Hamka di Bawah Panji Muhammadiyah

Pada pertengahan tahun 1956, Hamka dan keluarganya pindah rumah ke Jalan Raden Fatah. Tidak lupa mereka membawa serta Si Kuning. Kucing itu ditempatkan di dalam sebuah sangkar besi. Namun karena proses pindahan menyita banyak waktu, Si Kuning hampir dua hari tidak dikeluarkan. Mereka khawatir si Kuning akan berkeliaran dan mengganggu.

Sorenya, entah siapa yang membuka, kucing itu sudah ada di luar kandangnya. Ia berlarian kesana kemari. Karena fokus seluruh keluarga sedang teralihkan, Si Kuning tidak ada yang memantau. Hingga akhirnya mereka sadar kalau kucing kesayangan Hamka telah hilang. Irfan dan seluruh anggota keluarga lalu mencari Si Kuning di sekitar rumah mereka. Namun tetap tidak ditemukan. Sang ayah, yang saat itu bekerja di Kementerian Agama, sedang melakukan perjalanan dinas. Ia sama sekali belum tahu kabar hilangnya Si Kuning.

“Sampai malam Si Kuning tidak ditemukan. Ayah marah ketika mendengar kucing kesayangannya hilang,” kata Irfan.

Dua minggu berlalu. Si Kuning masih belum juga ditemukan. Keluarga pun sudah pasrah dengan kepergian kucing itu. Namun tanpa diduga, kabar keberadaan Si Kuning kembali terdengar. Ketika itu Irfan dan sang ibu sedang berkunjung ke beberapa tetangga di rumahnya dulu di Gang Toa Hong. Menurut para tetangga, kucing Hamka terlihat berkeliaran selama beberapa hari di bekas rumah mereka. Kemudian kembali menghilang. Irfan terkejut sekaligus heran mendengar kabar tersebut. Bagaimana bisa Si Kuning tahu jalan ke rumah itu, mengingat ketika proses pindahan kucing itu ditempatkan di dalam truk bersama perabotan lainnya.

Dua bulan sudah si Kuning hilang. Kabar dari para tetangga sebelumnya tidak cukup membantu keluarga Hamka menemukan si kucing. Namun suatu sore, ketika seluruh anggota keluarga sedang bersantai, terdengar suara kucing di depan rumah. Sontak semua orang terbangun dan berlari keluar. Bukan main, dugaan mereka tepat kalau kucing itu adalah Si Kuning.

“Kami mengenal betul suara Si Kuning. Dengan lemas, kucing jantang berbulu kuning itu muncul di depan pintu yang terbuka. Melihat kedatangan Si Kuning, ayah yang sedang turut menikmati mi rebus langsung berjongkok dan memangku kucing kesayangan itu dengan terharu,” kenang Irfan.

Si Kuning segera diberi makan dan diobati. Ia begitu kurus dan terdapat sejumlah luka di tubuhnya. Dalam beberapa hari, kondisi Si Kuning sudah mulai membaik. Ia sudah kembali berlarian kesana kemari seperti biasa. Semua orang masih dibuat tidak percaya. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan Si Kuning kembali ke rumah itu. Terlebih jarak rumah sebelumnya dan tempat tinggalnya sekarang yang cukup jauh, hampir 50 kilometer jauhnya.

Baca juga: Hamka dan Patung Nabi Muhammad

Ada beberapa kebiasaan unik Si Kuning ketika bersama Hamka. Setiap malam kucing itu tidur di kamar Hamka. Tempat kesukaannya: sudut tempat tidur, dekat kaki Hamka. Selain itu Si Kuning juga sering duduk di pangkuan Hamka ketika sedang menulis karangannya. Kebiasaan lain Si Kuning yang sangat diingat Irfan adalah kebiasaan ikut Hamka ke masjid.

“Bila berjalan, ia selalu di muka Ayah. Baik pergi maupun pulang. Waktu shubuh, maghrib, ataupun isya, selama Ayah dan kami shalat, Si Kuning selalu menunggu dengan setia di dekat pintu masjid. Banyak jamaah yang terheran menyaksikan kesetiaan si Kuning pada Ayah,” kata Irfan.

Pada 1964, Si Kuning dan Hamka sempat terpisah dalam waktu yang cukup lama. Tuduhan pemerintah terhadap Hamka membuat ia terpaksa harus mendekam di balik jeruji besi. Pada masa-masa tersebut, Si Kuning bertingkah aneh. Menurut Irfan kucing itu jarang pulang. Hanya pada waktu makan saja ia kembali ke rumah, kemudian menghilang lagi. Tetangga sering melihatnya berkeliaran di sekitar masjid tempat Hamka biasa shalat.

Ketika Hamka dibebaskan, Si Kuning kembali bertingkah normal. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Namun posisinya sebagai hewan paling disayang mulai sedikit tergantikan. Selain perhatian dari Hamka yang berkurang karena kesibukan, kemunculan kucing lain pun menjadi sebab utamanya. Kucing putih berjenis Angora pemberian seorang kawan telah menjadi primadona baru di keluarga tersebut.

“Sejak kehadiran kucing berbulu gimbal warna putih itu, Si Kuning tidak pernah lagi masuk ke dalam rumah Ayah. Tampaknya Ibu (ibu tiri Irfan) kami tidak membolehkan Si Kuning datang. Mungkin takut berkelahi dengan kucing Angora yang menjadi kesayangan Ibu,” terang Irfan.

Baca juga: Hamka dan Tongkatnya

Setelah Hamka wafat, Si Kuning kembali meninggalkan rumah. Kali ini kepergiannya tidak diketahui oleh siapapun. Dari keterangan adiknya, Hilmi, Irfan mengetahui kalau beberapa orang pernah melihat keberadaan kucing itu sekitar masjid. Kondisinya sudah sangat lemah. Tetangga mereka yang pernah berziarah ke makam Hamka juga bertutur jika melihat Si Kuning di dekat pusara Hamka. Kucing itu sudah sangat dikenal di lingkungan rumah Hamka sehingga orang-orang pasti akan langsung mengenali dirinya.

“Karena penasaran, selesai shalat Jum’at aku langsung menuju Tanah Kusir (makam Hamka). Di sana, aku tidak melihat Si Kuning. Kujelajahi area pemakaman namun tidak juga kujumpai Si Kuning. Ada memang beberapa ekor kucing yang kutemui, namun Si Kuning tidak ada. Beberapa kali lagi aku ziarah ke makam Ayah, tetap Si Kuning tak lagi kujumpai,” tutur Irfan.

TAG

buya hamka kucing

ARTIKEL TERKAIT

Sosok Itu Bernama Hamka Kucing Malang Masa Perang Daging Kucing dalam Perang Kemerdekaan Sukarno-Hatta dan Kucingnya Cerita Tak Biasa Mata-mata Nazi Kriminalitas Kecil-kecilan Sekitar Serangan Umum 1 Maret Dokter Soetomo Dokter Gadungan Komandan AURI Pantang Kabur Menghadapi Pasukan Gaib Umar Jatuh Cinta di Zaman PDRI Panglima Alex Kawilarang dan Letnan Songong