Masuk Daftar
My Getplus

Saksi Bisu Kerusuhan Mei 1998 di Glodok

Menelusuri kawasan yang paling mencekam saat peristiwa kerusuhan Mei 1998. Walau sudah 24 tahun berlalu kawasan itu tak juga bangkit.

Oleh: Fernando Randy | 30 Mei 2021
Sebuah Transjakarta melintas di depan gedung yang terbengkalai di Jalan Pintu Besar Selatan Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).

Indonesia layaknya negara berkembang lainnya mengalami banyak gejolak dalam setiap perjalanannya. Gejolak yang sangat membekas dalam ingatan adalah kekerasan terorganisir pada 13—15 Mei 1998. Kekerasan ini membuat suasana berbagai sudut kota Jakarta mencekam. Kekerasan ini puncak dari peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti kala itu.

Seorang warga melintas ditengah kawasan pertokoan sekitar Glodok. Tampak sebelah kanan deretan toko yang sudah tutup. (Fernando Randy/Historia.id).
Tampak bangunan yang sudah tak berpenghuni dikawasan Glodok sudah dipenuhi oleh pepohonan. (Fernando Randy/Historia.id).

Kekerasan ini terutama sekali menyasar etnis Tionghoa. Toko-toko mereka dijarah hingga tak bersisa. Salah satu daerah yang mengalaminya adalah Glodok, Jakarta Barat. Kawasan ini penuh dengan berbagai toko milik etnis Tionghoa. Maklum karena memang pada masa lalu Glodok merupakan salah satu kawasan Pecinan terbesar di Batavia. Pada hari-hari berdarah itu, ribuan warga menyerbu Glodok untuk menjarah berbagai barang, dari komputer hingga kulkas.

Baca juga: Duka Warga Tionghoa

Advertising
Advertising
Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Wi Sen, salah satu pemilik toko pipa air yang kini sepi pembeli di kawasan sekitar Pintu Besar Selatan Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Berbagai bangunan yang sudah tak terpakai dikawasan sekitar Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).

Peristiwa itu sudah 23 tahun berlalu. Tapi sisa-sisa ingatan kelamnya masih tampak. Bila berjalan di sekitar Pintu Besar Selatan, akan sangat terasa bagaimana kerusuhan ini bukan hanya merenggut harta benda mereka tapi juga trauma yang tidak bisa hilang.

“Saya masih Sekolah Dasar. Seingat saya, toko saya tidak dijarah, karena mungkin hanya jual pipa air,” ujar A Ling (31), anak salah satu pemilik toko di Pintu Besar Selatan. Tapi tokonya tetap rusak karena penimpukan batu oleh massa tak dikenal.

Baca juga: Kesaksian Kerusuhan Mei 1998

A Ling salah satu saksi kerusuhan Mei 1998 di Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Wi Sen salah satu pemilik toko di kawasan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/Historia.id).
Salah satu bangunan yang sudah tak berpenghuni di sekitar jalan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/Historia.id).

A Ling ingat toko tetangganya bernasib lebih nahas. “Yang dijarah ini toko di samping toko saya. Toko kaca. Tapi sekarang lagi tutup,” lanjut A Ling. Ada dua toko lagi di sampingnya. Tapi sudah tutup permanen. “Sudah lama ditinggalkan pemiliknya,” lanjutnya.

Sementara itu, Hendra (35), salah seorang penyewa gedung di kawasan itu, mengatakan bahwa ada dua versi soal berbagai toko di sini. Ada yang dijarah, ada pula yang memang sudah dimakan usia. “Ya, bangunan tua dan juga faktor kerusuhan Mei 1998 itu. Mungkin tidak buka lagi karena takut terjadi lagi. Tapi yang pasti di sini mencekam sekali,” katanya.

Baca juga: 200 Tahun, Pasar Baru Terus Melaju

Sebuah baju digantung di pintu teralis besi gedung yang tebengkalai dan sebuah Transjakarta yang melaju di jalan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/Historia.id).
Hartadhi ojek sepada yang menjadi saksi hidup kerusuhan Mei 1998 di Glodok dan suasana kawasan Pintu Besar Selatan. (Fernando Randy/Historia.id).

Saat menelusuri kembali kawasan Pintu Besar Selatan, terlihat banyak sekali bangunan terbengkalai. Ada yang tergembok rapat, ada pula yang dibiarkan kosong. Mereka seakan ingin mengubur ingatan akan peristiwa kelam itu dalam-dalam. Salah satu bukti bahwa trauma tersebut tidak pernah sembuh dari warga etnis Tionghoa adalah mereka beramai-ramai memasang teralis besi di setiap jendela rumah dan tokonya untuk perlindungan diri.

Baca juga: Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman

Teralis besi yang dipasang hampir di seluruh toko kawasan Glodok dan Kusdiono salah satu satpam di kawasan itu. (Fernando Randy/Historia.id).
Suasana kawasan Pintu Besar Selatan Glodok menjelang malam. (Fernando Randy/Historia.id).
Heri, pedagang nasi goreng di kawasan pertokoan Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).

Ketika memasuki malam, situasi kelam kian terasa di sepanjang lorong itu. Tembok yang retak, suasana sunyi, dan bangunan tak berpenghuni. Itu semua tentu saja akan tetap menjadi saksi bisu peristiwa kekerasan berdarah terorganisir pada Mei 1998 sekaligus menjadi pengingat bahwa peristiwa yang memakan korban hampir ribuan orang tersebut tentu saja tidak boleh terulang kembali di negeri ini.

Baca juga: Awal Mula Hostes di Jakarta

Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Salah satu bangunan yang terbengkalai di sekitar Glodok. (Fernando Randy/Historia.id).
Suasana sunyi kawasan Glodok di malam hari. (Fernando Randy/Historia.id).

 

TAG

glodok jakarta reformasi tionghoa

ARTIKEL TERKAIT

Ketika Perayaan HUT RI Marak Lagi di Jakarta Buah dan Susu di Duren Tiga Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan Menikmati Pameran “Para Sekutu Yang Tidak Bisa Berkata Tidak” Kisah Keluarga Tionghoa Saat Revolusi Tempat Jin Buang Anak Ketika Pemerintah RI Menjamin Eksistensi Orang Tionghoa Jejak Bung Karno di Jakarta Warna-warni Mudik Lebaran Tahun Ini di Jakarta Melihat Pesona Masjid Cut Meutia