Masuk Daftar
My Getplus

Haji Terganggu Pandemi

Bukan kali ini saja pandemi mengganggu ibadah haji. Bahkan, pada masa lalu haji dianggap membahayakan.

Oleh: Risa Herdahita Putri | 04 Jun 2020
Kerumunan jemaah haji saat melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. (Wikipedia).

Menteri Agama Fachrul Razi mengumumkan pembatalan keberangkatan jemaah haji 1441 H/2020 M karena tidak ada kepastian dari Arab Saudi terkait akses yang sudah dibuka. Hal itu membuat pihaknya tak punya cukup waktu untuk melakukan berbagai persiapan, baik pelayanan maupun perlindungan jemaah.

Dalam jumpa pers yang disiarkan langsung melalui Youtube pada Selasa, 2 Juni 2020, Fachrul Razi juga menyebut situasi pandemi yang belum reda membuat Arab Saudi tak bisa memastikan terbukanya akses haji hingga kini.

Hal itu mengingatkan pada kondisi di masa lalu ketika ibadah haji berulang kali terganggu akibat merebaknya pandemi.

Advertising
Advertising

"Haji beberapa kali terganggu, dihentikan, Makkah ditutup, Jeddah pernah dibuat pos khusus, dipagari betul, yang masuk dipastikan dulu," kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang "Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia" yang diselenggarakan Museum Nasional beberapa waktu lalu.

Baca juga: Pemerintah Kolonial Menunda Pemberangkatan Jemaah Haji

Sejarawan abad pertengahan, Badruddin Mahmud al-‘Ayni menulis tentang wabah yang menyerang Makkah dalam ‘Iqd al-juman fi Tarikh ahl al-zaman. Dikutip sejarawan Amerika Serikat, Michael Walters Dols, dalam The Black Death in the Middle East, bahwa al-‘Ayni mencatat pada 1348–1349 wabah Maut Hitam menyerang Makkah. Epidemi itu mungkin dibawa oleh lalu lintas haji. Akibatnya sejumlah besar jemaah haji menjadi korban.

"Ibn Abi Hajalah (dalam Daf’ al-niqmah, red.) mencatat bahwa banyak siswa dan penduduk di Makkah juga binasa," kata Oman.

Kondisi itu menjadi perbincangan para cendekiawan muslim pada masanya. Pasalnya, Nabi Muhammad Saw. menjanjikan bahwa tak akan ada wabah yang bisa masuk ke kota suci Makkah dan Madinah.

Baca juga: Wabah Sejak Zaman Rasulullah

"Merupakan keajaiban wabah itu tak sampai ke Madinah. Maka mereka pun percaya kalau wabah menjangkit Makkah karena ada pelanggaran dengan keberadaan orang-orang kafir," kata Oman.

Menurut Oman, interpretasi itu berdasarkan penyebutan wabah penyakit dalam bahasa Arab, yakni tha’un, yang arti harfiahnya adalah jin. Ada beberapa hadis yang menyebut wabah penyakit (tha’un) tak akan bisa memasuki Madinah. Sampai abad ke-14, Madinah tak tersentuh wabah, sedangkan Makkah terjangkit.

“Tapi sekarang kita tahu di Madinah juga ada yang positif (Covid-19, red.). Jadi, ini perlunya reinterpretasi teks keagamaan,” kata Oman. “Apa berarti hadis Nabi keliru? Saya percaya tidak, yang belum sampai itu penafsiran kitanya.”

Baca juga: Ulama Tetap Berkarya di Tengah Wabah

Terganggunya haji akibat pandemi juga dicatat oleh Muhammad al-Manjibi al-Hambali atau Muhammad bin Muhammad al-Manjibi, ulama Suriah Utara abad ke-14. Ia menjadi saksi saat wabah Maut Hitam merebak di wilayahnya pada Rajab 775 H (1373), lalu meningkat menjelang akhir Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, kemudian menurun pada Muharam tahun berikutnya.

"Berapa bulan itu coba? Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, Muharam," kata Oman. "Bayangkan haji terganggu."

Oman menyebut pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kegiatan haji pun menjadi salah satu penyebab merebaknya pandemi. "Bukan hajinya tapi aktivitas haji sebagai kebudayaan," ujar Oman.

Baca juga: Kala Kolera Menyerang Batavia

Selain Maut Hitam, wabah kolera juga merenggut nyawa ribuan jemaah haji dalam beberapa tahun sepanjang abad ke-19.

Menurut sejarawan F.E. Peters dalam The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places, kendati sudah lama ada di India, kolera tak dilaporkan merebak keluar anak benua. Sampai pada 1817 dan 1823 kolera muncul di pelabuhan-pelabuhan pulau di sekitar Samudera Hindia.

"Dimulai di India pada 1817," tulis Peters, "penyakit ini menyebar ke seluruh dunia."

Pada 1831, kolera merebak pertama kali di Makkah. Sejak saat itu hingga abad ke-20, kolera hampir selalu muncul di kota suci umat Islam itu.

Baca juga: Intel Kolera di Batavia

Peters menyebut epidemi kolera tahun 1865 dibawa jemaah haji dari Jawa dan Singapura. Sepertiga di antaranya tewas selama haji. Tercatat wabah telah membunuh 15.000 dari 90.000 jemaah. Kolera lalu menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Amerika Serikat dan Eropa, dengan dua juta kematian.

Kolera tersebar melalui kapal-kapal yang membawa jemaah haji ke Terusan Suez. Saat itu mereka melaporkan kepada pihak berwenang setempat bahwa tidak ada penularan penyakit. Padahal, sejak meninggalkan Jeddah pada bulan Mei, lebih dari 100 mayat dibuang ke laut. Pada Juni, kolera mengamuk di Alexandria. Sebanyak 60.000 orang Mesir meninggal dalam tiga bulan.

“Pada bulan yang sama kolera mencapai Marseilles, Prancis, kemudian sebagian besar kota di Eropa. Pada November 1865, kolera dilaporkan berjangkit di New York,” tulis Peters.

Baca juga: Mitos dan Fakta Kolera di Aceh

Menurut Ken Chitwood dalam "Hajj Cancellation Wouldn’t be the First-Plague, War and Politics Disrupted Pilgrimages Long Before Coronavirus" yang termuat di The Conversation, wabah kolera di kota suci Makkah dan Madinah pada 1858 sampai memaksa ribuan orang Mesir melarikan diri ke perbatasan Mesir di Laut Merah, di mana mereka dikarantina sebelum diizinkan kembali.

Kolera menjadi “ancaman abadi” untuk sebagian besar abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ancaman itu sering mengganggu pelaksanaan haji.

"Bahkan, dengan begitu banyak wabah dalam runtutan kejadian yang begitu cepat, haji sering terputus sepanjang pertengahan abad ke-19," tulis Chitwood.

Baca juga: Ketika Hantu Kolera Mengamuk di Tanah Batak

Oman menduga transimisi wabah kolera di Asia Tenggara terjadi melalui jemaah haji. Karenanya pada masa itu haji dianggap sebagai kegiatan yang membahayakan.

"Karena memang sangat fatal," kata Oman. "Dari kerumunan penularan terjadi. Persebaran wabah ini sangat terkait aktivitas keagamaan."

TAG

haji penyakit kolera

ARTIKEL TERKAIT

Sukarno Sakit Ginjal Awal Mula Haji Nusantara Ketika Berhaji Dilarang VOC Menyusun Kamus Bahasa Melayu Persahabatan Raja Ali Haji dengan Von de Wall Raja Ali Haji, Sastrawan Besar Kesultanan Riau Hikayat Dua Pujangga Melayu Hatta Bertanya, Agus Salim Menjawab Melawan Kolera dengan Vaksinasi Massal Vaksin Wabah Penyakit