Masuk Daftar
My Getplus

Awal Mula Haji Nusantara

Orang-orang Nusantara pergi ke Makkah membawa misi sultan, berdagang, dan menimba ilmu, sekaligus menunaikan ibadah haji.

Oleh: Hendri F. Isnaeni | 05 Jun 2021
Umat Islam mengelilingi Ka'bah dalam rangka ibadah haji di Makkah, Arab Saudi. (Benjamin Richter/Wikimedia Commons).

Ludovico di Varthema, orang Roma pertama yang mengunjungi Makkah dan menuliskan kesan-kesannya. Dengan menyaru sebagai muslim, dia ikut kafilah besar Mamluk dari Damaskus. Mereka tiba di Makkah pada 18 Mei 1503. Varthema melihat para jemaah haji dari kepulauan Nusantara, yang dia sebut “India Timur Kecil”, sebuah catatan awal tentang keberadaan jemaah haji dari Nusantara.

“Kita tidak mempunyai bukti tentang kehadiran jemaah haji Nusantara sebelum Varthema di Makkah,” tulis Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII.

Jemaah haji yang dijumpai Varthema itu, menurut M. Shaleh Putuhena, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan UIN Alauddin Makassar, barangkali orang-orang Nusantara yang pertama menunaikan ibadah haji.

Advertising
Advertising

“Tetapi, mereka bukan jemaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka adalah pedagang, utusan sultan, dan pelayar yang berlabuh di Jedah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Makkah,” tulis Shaleh dalam Historiografi Haji Indonesia.

Baca juga: Haji Terganggu Pandemi

Daya tarik Makkah begitu kuat bagi setiap muslim, karena selain tempat tujuan menunaikan rukun Islam kelima, kota ini juga mempunyai sejarah panjang. Makkah disebut “kota para nabi”. Adam ialah nabi pertama yang menapakkan kakinya di Makkah.

“Dia menunaikan haji di kota itu dan mendoakan keturunannya agar dosa-dosanya diampuni,” kata Zuhairi Misrawi, intelektual Nahdlatul Ulama dan penulis buku soal Makkah. Beberapa nabi yang meninggal di Makkah di antaranya Nuh, Hud, Syua’ib, dan Shaleh.

Nabi yang memiliki jasa dan sejarah monumental pada Makkah adalah Ibrahim. Dia dan anaknya, Ismail, membangun Ka’bah atau rumah Tuhan (Baitullah). Pasca Ibrahim, Makkah dikuasai kabilah Jurhum dari Yaman, lalu digantikan kabilah Khuza’a. Penggantinya yang berkuasa paling lama adalah kabilah Quraisy yang dipimpin Qushay, leluhur Nabi Muhammad Saw. “Nabi yang meneruskan jejak juang Ibrahim adalah Muhammad,” kata Zuhairi.

Di Makkah, Muhammad lahir, menerima wahyu, membebaskan Makkah, dan menunaikan haji wada’ (haji perpisahan), yang tak lama kemudian meninggal di Madinah. Pasca Nabi, Makkah tetap di bawah kendali pemuka Quraisy. “Secara tak tertulis ada semacam kesepakatan bahwa pemimpin Makkah harus mempunyai garis darah dari klan Quraisy,” ujar Zuhairi.

Tragisnya, Makkah kemudian diperebutkan dinasti-dinasti Islam hingga jatuh ke tangan Muhammad bin Saud, yang memimpin gerakan Wahabisme. Dan keluarga Saud-lah yang berkuasa atas Makkah hingga saat ini.

Lukisan arsitektur Makkah tahun 1721 karya Johann Bernhard Fischer von Erlach, arsitek Austria. (Wikimedia Commons). 

Mencari Legitimasi dan Berdagang

Makkah juga disebut Ummul Qura, ibu dari segala tempat di muka bumi. Berziarah ke Makkah berarti mengenang asal-muasal alam semesta. “Karena Makkah tempat pertama yang diciptakan untuk manusia, setiap orang akan tertarik untuk sampai ke kota itu. Ia menjadi kiblat bagi setiap manusia, terutama umat Islam,” ujar Zuhairi.

Selain itu, Makkah adalah sumbu bumi. Sejarawan Belanda, Martin van Bruinessen, dalam “Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji,” Ulumul Qur’an Vol. II No. 5, 1990, menyebutnya pusat kosmis, titik temu antara dunia fana dan alam supranatural.

Baca juga: Catatan Perjalanan Haji Muslim Nusantara

Di Jawa, lanjut Van Bruinessen, masa pra-Islam, pusat-pusat kosmis memainkan peranan sentral. Kuburan para leluhur, gunung, gua dan hutan tertentu, serta tempat “angker” lainnya tak hanya diziarahi tapi juga dikunjungi untuk mencari ilmu (ngelmu) alias kesaktian dan wahyu (legitimasi kekuasaan).

“Setelah orang Jawa mulai masuk Islam, Makkahlah yang, tentu saja, dianggap sebagai pusat kosmis utama,” tulis Van Bruinessen.

Makkah juga merupakan kiblat bagi umat Islam dan pusat keilmuan Islam. Umat Islam Nusantara yang pertama datang ke Makkah bertujuan mencari legitimasi politik, berniaga, dan menimba ilmu. Menjelang pertengahan abad ke-17, raja-raja Jawa mulai mencari legitimasi politik dari Makkah.

Lukisan Makkah tahun 1787 karya Louis Nicolas de Lespinasse, pelukis Prancis. (Wikimedia Commons).

Peran haji sebagai legitimasi politik tampak jelas dalam Sajarah Banten. Menurut babad yang dikarang pada paro kedua abad ke-17 ini, penegak dinasti Banten, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, naik haji bersama anaknya yang kemudian menggantikannya, Hasanuddin, setelah mereka bertapa di berbagai gunung di Jawa Barat. Haji mereka bukan perjalanan biasa. “Mereka sebagai wali mencapai Makkah dengan cara lain, yang tak patut diungkapkan,” catat Van Bruinessen.

Perjalanan haji ini digambarkan lebih lanjut dalam Hikayat Hasanuddin. Pada karya berbahasa Melayu yang ditulis sekira tahun 1700 ini, Sunan Gunung Jati mengajak anaknya: “‘Hai anakku ki mas, marilah kita pergi haji, karena sekarang waktu orang naik haji…!’ Setelah berkata, dia berjalan dengan anaknya yang dibungkus dengan syal. Tiada berapa lama, dia sampai di Makkah. Sampai di Mesjid Haram, dikeluarkan anaknya dari dalam bingkisan,…”

Baca juga: Resolusi Membatasi Haji

Menurut Shaleh, Sunan Gunung Jati berangkat ke Makkah setelah kota kelahirannya, Samudera Pasai, ditundukkan Portugis pada 1521. Dia berada di Kota Suci selama tiga tahun dan melaksanakan haji. “Keberangkatan Nurullah ke Makkah sebagai diplomat untuk meminta bantuan Turki Utsmani yang menguasai Makkah agar mengusir Portugis dari Pasai,” tulis Shaleh.

Penguasa dinasti Utsmani bergelar khalifah dan Khadim al-Haramayn (Pelayan Tanah Suci) mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan jalur perjalanan haji. “Hal ini berdampak bagi hubungan yang lebih kondusif bagi Timur Tengah dan dunia Islam lainnya, termasuk Nusantara,” ujar Dadi Darmadi, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jaminan itu mendorong kerajaan-kerajaan muslim di Nusantara berperan aktif dalam pelayaran. “Bagi para pedagang muslim, Makkah adalah tempat berlayar dan berziarah, menyempurnakan kesalehannya tanpa kehilangan usaha dan perniagaannya,” kata Dadi.

Pada 1565 dan 1566 lima kapal besar Kerajaan Aceh, setelah lolos dari hadangan Portugis, berlabuh di Jedah yang masa itu lebih berfungsi sebagai pelabuhan niaga. “Tidak mustahil pedagang dan pelayar dari lima kapal itu berkesempatan melaksanakan haji,” catat Shaleh.

Baca juga: Pemerintah Kolonial Menunda Pemberangkatan Jemaah Haji

Dengan demikian, haji Nusantara telah dimulai awal abad ke-16 oleh para pedagang dan diplomat. “Mereka ini kemudian dianggap sebagai angkatan perintis haji Indonesia,” kata Shaleh.

Menurut Van Bruinessen, tujuan diplomat atau utusan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara itu untuk mencari legitimasi politik dari Makkah, selain menunaikan haji. Pada 1630-an, raja Banten dan raja Mataram bersaing mengirim utusan ke Makkah untuk mencari pengakuan dan meminta gelar Sultan. Penguasa Banten Abdul Qadir mendapat gelar Sultan dari Syarif Makkah setelah mengirim misi khusus ke Makkah. Pangeran Rangsang juga mendapat gelar Sultan, sehingga kemudian lebih dikenal sebagai Sultan Agung, penguasa terbesar Mataram.

Jemaah haji di Makkah, Arab Saudi tahun 1937. (Wikimedia Commons).

Menimba Ilmu

Selain untuk mencari legitimasi, tulis Van Bruinessen, naik haji juga untuk mencari ilmu (ngelmu). Penyair sufi kontroversial, Hamzah Fansuri yang wafat pada 1527, dalam salah satu syairnya membicarakan haji. “Hamzah sendiri telah naik haji, dan dengan menunaikan kewajiban ini dia berharap ‘menemukan Tuhan’,” tulis Van Bruinessen.

Syekh Yusuf Makassar, ulama tarekat asal Makassar, berangkat ke tanah Arab pada 1644 dan kembali ke Nusantara sekira tahun 1670. Dia lalu menjadi penasihat Sultan Ageng Tirtayasa di Banten. “Ketika kompeni Belanda membantu Sultan Haji menyingkirkan ayahnya, Sultan Ageng, Yusuf membawa pengikutnya ke gunung dan memimpin gerilya melawan Belanda,” tulis Van Bruinessen. Setelah hampir dua tahun bergerilya, dia ditangkap dan dibuang ke Srilanka, lalu ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, tempat dia wafat pada 1693 di usia 68 tahun.

Baca juga: Pengelolaan Dana Haji di Masa Lalu

Sultan Haji atau Abdul Qahhar juga salah seorang murid Syekh Yusuf. “Atas rekomendasinya, Abdul Qahhar melanjutkan studinya di Makkah meski hanya sebentar dan berkesempatan untuk melaksanakan haji. Sekembalinya dari Timur Tengah, Abdul Qahhar mendapat julukan Sultan Haji karena dialah sultan pertama yang menunaikan haji,” tulis Shaleh.

Ulama lain yang juga lama menetap dan memperdalam ilmu-ilmu agama di Makkah dan Madinah sambil melaksanakan haji adalah Abdurrauf Singkel, yang kemudian mencapai kedudukan tinggi di Aceh. Selain Yusuf Makassar dan Abdurrauf Singkel, pada abad ke-17 tercatat beberapa peziarah datang ke Haramain untuk menuntut ilmu sambil menunaikan ibadah haji. “Pada umumnya mereka adalah murid dan pengikut kedua ulama tersebut,” tulis Shaleh.

Sejak abad ke-17, jaringan ulama-ulama Nusantara tersambung dengan dunia intelektual muslim di Timur Tengah, khususnya di Makkah dan Madinah. Hal itu berpengaruh terhadap kemunculan gerakan pembaruan Islam di Nusantara. “Ibadah haji telah menjadi salah satu medium di mana kesalehan dan pencarian ilmu bertemu, menjadi ciri khas kaum muslim yang tercerahkan kala itu,” ujar Dadi.

TAG

haji makkah arab saudi

ARTIKEL TERKAIT

Ketika Berhaji Dilarang VOC Menyusun Kamus Bahasa Melayu Persahabatan Raja Ali Haji dengan Von de Wall Raja Ali Haji, Sastrawan Besar Kesultanan Riau Hikayat Dua Pujangga Melayu Hatta Bertanya, Agus Salim Menjawab Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji Yang Lucu dari Haji Agus Salim Haji Agus Salim di Mata Natsir Persekutuan Rahasia Prawatasari-Ki Mas Tanu