Masuk Daftar
My Getplus

Adakah Peran Cheng Ho dan Cina dalam Islamisasi Nusantara?

Inilah tujuan sebenarnya perjalanan Cheng Ho termasuk ke Nusantara. Sumber primer kedinastian Cina tak menyebut Islamisasi.

Oleh: Novi Basuki | 02 Agt 2018
Patung Cheng Ho di Museum Maritim Quanzhou. (Jonjanego/flickr.com)

BEBERAPA warganet yang membaca artikel “Apa Agama Cheng Ho?” bersikeras memastikan dia seorang muslim karena, katanya, informasi tersebut terdapat dalam literatur resmi Cina semacam Sejarah Ming (Ming Shi), kitab tarikh tentang Dinasti Ming yang dikompilasi sejarawan istana Dinasti Qing.

Padahal, dari pembacaan saya terhadap 332 jilid babon berbahasa Mandarin kuno yang dieditori oleh Zhang Tingyu (1672–1755) dimaksud, tak ada sebesar biji zarah pun keterangan mengenai status keagamaan yang dianut laksamana agung itu. Patut kita ketahui bersama, Biografi Cheng Ho (Zhenghe Zhuan) yang termaktub di sana cuma memperkenalkannya begini:

Zheng He, Yunnan ren, shi suo wei Sanbao Taijian zhe ye. Chu shi Yan Wang yu fandi, cong qi bing you gong, lei zhuo taijian. Chengzu yi Hui Di wang haiwai, yu zongji zhi, qie yu yao bing yiyu, shi Zhongguo fuqiang. Yongle san nian liu yue, ming He ji qi chai Wang Jinghong deng chu shi Xiyang... .

Advertising
Advertising

Saya alihbahasakan secara bebas:

“Cheng Ho, orang Yunnan, adalah dia yang dikenal orang dengan sebutan Kasim Sanbao. Pada mulanya, dia bekerja di istana Raja Yan. Karena berjasa dalam peperangan bersama Raja Yan, dia terus diangkat jabatannya sehingga menjadi kasim. Raja Yan yang kemudian menjadi Kaisar Yongle, mencurigai Kaisar Jianwen kabur ke luar negeri. Dia ingin melacaknya. Juga ingin memamerkan serdadu kepada negara lain guna menunjukkan kekayaan dan kekuatan Cina. Karena itu, pada bulan enam tahun ketiga pemerintahan Kaisar Yongle (1405), kaisar memerintahkan Cheng Ho bersama koleganya, Wang Jinghong, dan lain-lain sebagai utusan ke Samudera Barat... .”

Ya, sebegitu saja informasinya. Sisanya soal pelayaran Cheng Ho yang membawa lebih dari 27.800 orang dengan 62 kapal besar. Lalu mentok. Silakan tengok Ming Shi jilid 304 bila hendak mengetahui detailnya.

Tak kalah unik, tak sedikit –kalau bukan banyak– yang bersikukuh berpendapat bahwa menyiarkan Islam adalah termasuk dalam salah satu misi perjalanan Cheng Ho. Namun, kalau kita konsisten merujuk literatur primer kedinastian Cina seperti saya kutipkan di atas, misalnya, sama sekali tak terbaca –baik tersirat maupun tersurat– adanya tujuan dakwah menyempil di situ.

Kita bisa simpulkan sendiri, motif lawatan Cheng Ho jelas. Yaitu pertama, “melacak” (zongji) keberadaan Jianwen, kaisar kedua Dinasti Ming yang dikudeta Zhu Di alias Raja Yan, pamannya sendiri, melalui Pemberontakan Jingnan (1399-1402). Kedua, “memamerkan serdadu kepada negara lain guna menunjukkan kekayaan dan kekuatan Cina” (yao bing yiyu, shi Zhongguo fuqiang). Buat apa? Supaya negara lain tunduk membayar upeti sebagai bentuk pengakuan terhadap supremasi Cina.

Lantas dari mana sumber orang-orang yang hakulyakin Cheng Ho telah menjadi dai Islam, terutama, di Nusantara? Ada yang bilang itu tertulis di magnum opus Mengarungi Pemandangan Indah di Seberang Samudra (Yingya Shenglan).

Saya coba telusuri berkali-kali catatan yang ditulis oleh Ma Huan, juru bahasa Cheng Ho yang ikut dalam ekspedisi ke-4, ke-6, dan ke-7 itu, tapi tetap tidak menemukan titik terang sampai sekarang.

Yang ada hanyalah Ma Huan menulis bahwa di Jawa –khususnya Tuban, Gresik, dan Surabaya– terdapat banyak orang Cina yang mengimani Islam. Saya nukilkan di sini:

[Zhaowa] guo you san deng ren. Yi deng Huihui ren, jie shi xi fan ge wei shang liuluo ci di... . Yi deng Tang ren, jie Guangdong, Zhang, Quan deng chu ren cuan ju ci di... duo you guicong Huihui jiaomen... Yi deng tu ren... chongxin gui jiao.

Terjemahannya kira-kira:

“Di negeri [Jawa] itu, masyarakatnya terdiri dari tiga kelas. Satu, kelas orang Islam yang semuanya (jie) berasal dari negeri-negeri barat [seperti Arab dan India] yang berimigrasi ke sini untuk berdagang... Satu, kelas orang Cina yang semuanya berasal dari Guangdong, Zhangzhou, Quanzhou dan daerah lain yang kabur (cuan) dan tinggal di sini... banyak (duo) dari mereka yang menganut Islam... . Satu, kelas orang lokal... [mereka] memercayai animisme.”

Catatan Negeri Samudra Barat (Xi Yang Fan Guo Zhi) yang digarap oleh Gong Zhen, salah satu awak kapal Cheng Ho yang turut dalam muhibah terakhir, mengonfirmasi keterangan yang disuguhkan Ma Huan tersebut. Dia bahkan mengabsolutkan bahwa “orang Cina yang semuanya berasal dari Guangdong, Zhangzhou, Quanzhou dan daerah lain yang kabur dan tinggal” di Jawa itu, “semuanya menganut agama Islam” (jie tou li Huihui jiao men).

Artinya, baik orang Islam dari Arab dan India atau pun orang Cina yang kabur dan tinggal di Jawa, sudah menganut Islam sebelum rombongan Cheng Ho datang. Dengan kata lain, keislaman mereka tidak ada sangkut pautnya dengan Cheng Ho.

Lalu, bagaimana dengan orang lokal yang kala itu umumnya masih menganut animisme tapi saat ini mayoritas menganut Islam? Adakah peran Cina dan Cheng Ho dalam Islamisasi mereka?

Mengingat banyaknya orang Cina yang menganut Islam sebagaimana diakui Ma Huan dan Gong Zhen, sama dengan orang Islam dari Arab dan India, saya kira tidak mustahil kalau mereka juga turut andil dalam penyebaran Islam di Nusantara terlebih Jawa. Metodenya bisa lewat dakwah langsung dan atau secara tidak langsung melalui kawin-mawin dengan orang lokal, umpamanya. Tentu, bisa juga dengan cara bertindak laiknya Nyai Gede Pinatih, Cina-muslim yang menjadi ibu asuh Raden Paku alias Sunan Giri dan penyokong keuangan Giri Kedaton.

Walakin, hingga kini saya belum menemukan rujukan otoritatif sekelas Ming Shi, Yingya Shenglan, atau Xi Yang Fan Guo Zhi yang menyebut adanya peranan Cheng Ho –baik langsung maupun tidak langsung– dalam Islamisasi Nusantara.

Jika memang benar ada aktivitas Cheng Ho yang berkaitan dengan keagamaan selama tujuh kali petualangannya mengarungi dunia, saya kira sulit untuk tidak didokumentasikan oleh penulis sejeli Ma Huan atau yang lainnya. Buktinya, Cheng Ho pergi membakar dupa di makam keramat muslim dan berdoa di Kuil Dewi Mazu meminta keselamatan saja, ada catatannya.

Penulis adalah kontributor Historia di Cina, sedang studi doktoral di Sun Yat-sen University, Cina.

Baca juga: 

Apa Agama Cheng Ho?
Islamisasi ala Cheng Ho
Islam Arab atau Islam Cina?
Naskah Ajaran Islam Awal di Jawa

TAG

Cheng-Ho Ma-Huan Islam Dinasti-Ming Cina

ARTIKEL TERKAIT

Pencarian Islam Muhammad Ali Manuskrip-manuskrip tentang Pandemi di Dunia Islam Melihat Pesona Masjid Cut Meutia Debus dan Tarekat di Banten Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah Di Balik Berdirinya Kesultanan Banjar Mangoenatmodjo, Penyebar Gerakan Islam Abangan Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon Ketika Indonesia Takut Revolusi Iran Naskah Pegon Tertua di Jawa