top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Ulama Tetap Berkarya di Tengah Wabah

Meski terkena wabah, para ulama ini tetap berkarya. Mencatat pengalamannya selama menghadapi wabah.

25 Apr 2020

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Makam Ibnu Hajar al-Asqalani. (Youtube Pecinta Kota Tarem).

DI BALIK nestapa karena wabah, para ulama berusaha menafsirkan penyebabnya berdasarkan pendekatan medis, teologi, atau magis. Bahkan, banyak ulama dan keluarganya juga terkena wabah. Namun, keadaan itu tak melemahkannya malah mereka mencatat pengalamannya dalam menghadapi wabah.


“Sebelum menemukan catatan wabah dalam kronik Tiongkok misalnya, Islam sudah melahirkan karya-karya tentang wabah karena sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad Saw.,” kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus staf ahli menteri agama, dalam seminar daring lewat aplikasi zoom bertema “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia”, yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020.


Catatan tentang wabah itu di antaranya karangan penting dari sejarawan Arab, Ibnu al-Wardi (1291/1292–1348/1349). Sayangnya, karyanya sudah tak ditemukan lagi.


“Saya beruntung menemukan karya filologi dari Palestina yang sudah menyuting naskah ini. Naskah ini bentuknya puisi,” kata Oman.


Dalam catatannya, al-Wardi mengungkapkan bahwa ia termasuk korban wabah bahkan wafat karenanya.


Karya lain, Daf’al-niqmah ditulis oleh Ibnu Abi Hajalah ketika wabah melanda Kairo pada 1362. Artinya, Maut Hitam sudah merebak di Eropa dan Timur Tengah.


Dalam karya lain, Abi Hajalah mengisahkan bagaimana menghadapi wabah berdasarkan pengalamannya. Putranya meninggal karena wabah itu. Sesuai hadis nabi, ia menyebut putranya mati syahid.


“Aku menguburkannya di dekat seorang wali,” kata Oman mengutip catatan Abi Hajalah. “Kemudian dia menjelaskan bagaimana menghadapi orang yang meninggal dan bagaimana menguburkannya.”


Ibnu Hajar al-Asqalani kehilangan tiga putrinya. Putrinya yang paling besar tengah hamil ketika meninggal karena wabah.


Dalam Badrul ma'un, al-Asqalani menjelaskan bedanya wabah dengan tha’un. Wabah adalah penyebutan secara umum, sedangkan tha’un lebih spesifik merujuk pada penyakitnya.


“Wabah yang berulang di Eropa dan Timur Tengah menghasilkan banyak karya yang betul-betul sudah dikenal,” kata Oman.


Itulah mengapa menurut Oman, wabah penyakit kemudian membangkitkan gairah keilmuan dan riset di bidang medis. Khususnya yang terkait penyakit dan wabah.


“Ahli medis waktu itu para ulama juga,” kata Oman, “maka kemudian lahir pula karya-karya di bidang medis.”


Karya-karya itu menginspirasi generasi berikutnya dalam menghadapi wabah penyakit. Seperti dalam kondisi sekarang. “Kita harus selalu berprasangka baik. Pandemi sudah terjadi berulang. Dalam konteks budaya Islam sejak abad ke-6, tapi selalu ada hikmahnya,” kata Oman.


Maka, menurut Oman, tidak produktif jika hanya menafsirkan wabah penyakit atau bencana alam sebagai wujud siksaan Tuhan. “Saya bukannya ingin bilang itu tak berdasar karena memang ada interpretasi soal itu. Tapi tidak produktif. Kalau memang siksaan, mengapa ulamanya, keluarganya ulama disiksa atau wafat? Logikanya begitu,” kata Oman.


Menurut Oman, karena peristiwa wabah sudah berulang kali terjadi, seharusnya ada yang bisa dipelajari. Cara penanganan wabah bisa ditemukan dari catatan-catatan masa lalu.


“Meski kita ini, orang-orang di naskah (filolog, red.), masih dipinggirkan dalam mencari solusi,” kata Oman. “Kita ini memang suka melupakan sejarah.”*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Yang Tersisa dari Warisan Salahuddin di Pelosok Prancis

Alkisah Masjid Buzancy di Ardennes, Prancis yang dibangun atas permintaan Sultan Salahuddin. Hancur semasa Revolusi Prancis. Kini beralih fungsi jadi sekolah.
Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

Bukan Band Manis, God Bless Band Idealis

God Bless tak mau sembarangan bikin album. Laris bukan tujuan mereka menelurkan album.
Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Titi Papan dan Awal Tembakau Deli

Kebun pertama tembakau Deli kini menjadi perkampungan di sekitar Jalan Platina, Medan.
Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Akhir Perlawanan Tuan Rondahaim Terhadap Belanda

Tuan Rondahaim melawan Belanda di Simalungun hingga akhir hayatnya. Dia tidak pernah menyerah. Penyakit rajalah yang menghentikan perlawanannya.
“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

“Cari Adil, Dapat Bedil” dari Lurah Blasteran

Dianggap menggerakan massa melawan pemerintah kolonial, Kuwu Groeneveld menanggung hukuman tak ringan.
bottom of page