Rindu Jawa dari Negeri Pagoda

Dari pembuat taman hingga pedagang. Orang-orang Jawa menetap di negeri orang tanpa berpikir kapan akan pulang.

1497009822000
  • BAGIKAN
Rindu Jawa dari Negeri Pagoda
Plang penunjuk Mesjid Jawa di Distrik Sathorn, di bagian selatan Bangkok, Thailand. Foto: Imam Shofwan.

Bandara udara Suvarnabhumi begitu rapi dan tertib. Antrian panjang di kantor imigrasi selesai dalam beberapa menit. Pemandangan serupa terlihat di Bangkok Mass Transit System (BTS) atau dikenal dengan nama Skytrain, sebuah sistem transportasi massal yang terhubung ke bandara. Penumpang tak berebut naik. Suasananya bersih dan nyaman.

Bangkok adalah kota khas. Foto raja terpasang di mana-mana; menunjukkan betapa kuat pengaruh raja kendati negara ini menganut sistem politik monarki konstitusional. Lanskap kotanya memikat; kombinasi apik dari bangunan bersejarah dan modern. Istana raja. Restoran dan pusat perbelanjaan. Dan tempat-tempat hiburan yang tak ada tutupnya.

Bangkok juga terkesan relijius. Biksu berkepala gundul dan bertelanjang kaki, dengan balutan kain oranye, lalu-lalang di jalanan atau memberi berkat dan doa di toko-toko. Dengan hormat warga menerima doa dan memberi sedikit dagangan atau uang ke kantong yang dibawa para biksu. Ada juga warga yang mendatangi vihara-vihara di tepi Lamplatiw Canal, di depan Wat Sutthaphot, yang berada di distrik Lat Krabang untuk meminta restu dari para biksu sebelum memulai rutinitas. Anda harus bersabar jika di tengah kemacetan kota, sopir taksi melambatkan laju ketika melewati vihara atau berhenti sebentar di depan vihara untuk menghormat dan terkadang berdoa.

Situs-situs Budha mendominasi pemandangan kota. Ada Candi Wat Pho dengan koleksi Budha emas terbesar di Thailand. Patung Budha sepanjang 46 meter, dalam posisi berbaring, begitu menawan. Bila Anda ingin menikmati senja, kunjungi Wat Arun, salah satu kuil Budha terbesar. Ia tampak begitu anggun saat matahari terbenam.

Saya menyempatkan diri mengunjungi Sathorn, sebuah distrik di selatan Bangkok. Di sana terdapat vihara Wat Yan Nawa dan Wat Don, yang juga terkenal. Namun di sana juga ada sekitar 4.000 orang, sebagian besar Muslim dan berasal dari Jawa, tinggal. Penduduknya menyebut kampung mereka Kampung Jawa.

Cara praktis ke sana menggunakan keretaapi. Turun di Stasiun Surasak, jalanlah ke gang (soi) pertama sebelah kiri dan tanya saja “hong lamat Jawa”. Kebanyakan orang tahu tempat itu. Ia berada di Jalan Rong Num Kheang 707, Yanawa, Sathorn. Anda juga bisa menggunakan taksi atau ojek dan masuk melalui sebuah gang di samping St Louis Hospital.

[pages]Masjid Jawa

Di Kampung Jawa, ada sebuah masjid yang disebut Masjid Jawa dan sebuah madrasah. Letaknya di tengah-tengah kampung. Di seberang masjid, dipisahkan jalan gang, terdapat pemakaman umum. Di gang masuk ada marka jalan besar bertuliskan “Masjid Jawa”.

Di sepanjang jalan menuju masjid, selain lapak buku, penduduk menjajakan kue dan makanan dengan menempelkan stiker halal. Mereka tahu kaum Muslim yang datang ke Bangkok, ibukota negara yang mayoritas beragama Budha, selalu kesulitan mencari makanan halal.

Masjid Jawa mengadopsi arsitektur masjid Demak, dengan atap tumpang dan empat pilar utama. Masjid ini memiliki tiga pintu; depan dan samping kiri-kanan, dengan masing-masing dilengkapi serambi. Sebuah beduk menghiasi serambi depan. Tempat wudlunya menggunakan pancuran dengan, yang membedakannya dari masjid di Jawa, tempat duduk. Jadi, jemaah berwudlu sambil duduk.

Buku-buku kecil surat Yasin dan tahlil tersedia. Selepas shalat Magrib, beberapa jemaah melakukan wirid sementara anak-anak mengaji. Saat Ramadhan, pengurus masjid menyediakan berbagai makanan untuk takjil seperti kue cucur, es cao, dan lontong.

Orang-orang Jawa tinggal tak jauh dari masjid. Kebanyakan tak lagi bisa berbahasa Jawa maupun Melayu. Namun mereka masih mempraktikkan tradisi tiga hari dan tujuh hari ketika keluarga meninggal. Bila ada pesta nikah, mereka mengenakan baju batik Jawa dan peci. Mereka ramah. Ketika saya berkunjung, mereka menawarkan tempat menginap dan memasak buat makan malam bersama. Di rumah Abu Dahrin bin Salem (85 tahun), saya disuguhi kaknomkok, kue Thailand.

Dahrin adalah generasi ketiga orang Jawa yang lahir dan tinggal di Sathorn. Dia punya nama Thailand yaitu Kasim. Dia pensiunan sopir di kedutaan Jepang di Bangkok. Dari pernikahannya dengan Lamlah, seorang Muslim Thailand, dia punya empat cucu.

Rumah Dahrin terletak seratus meter sebelah timur masjid; masuk gang sempit. Rumahnya asri dengan taman dipenuhi bunga. Hiasan kincringan bambu tergantung di pintu utama. “Saya beli dari Bali lima belas tahun lalu,” kata Dahrin.

Tak hanya orang Jawa yang tinggal di Kampung Jawa. Beberapa Muslim Melayu juga tinggal di sana. Salah satunya Yamilah binti Zakaria bin Yunus, yang berasal dari Patani, Kedah. Kakeknya mewakafkan sebidang tanahnya untuk pemakaman umum yang berada di seberang Masjid Jawa. “My grand father wakaf this land before World War II,” kata Yamilah, yang sedikit mengingat kosakata Melayu dan hanya bisa bahasa Thailand dan Inggris.

Mereka hidup rukun, kendati punya pendapat berbeda dalam soal talkin, tahlil, dan salawat barjanji yang dipraktikkan orang Jawa di sana. Mereka tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk. “Saat salat Jumat, masjid penuh dengan Muslim dari berbagai belahan dunia. Kumpul dari Afrika dan Asia,” tutur Dahrin.

[pages]

Membuat Taman

Di seberang masjid, sebuah monumen batu granit mengukir bahasa Thailand dan Inggris yang menceritakan muasal Kampung Jawa. Disebutkan, awalnya orang-orang Jawa berdagang dan sebagian kemudian menetap di Bangkok pada masa pemerintahan Raja Mongkut (Rama IV). Orang-orang Jawa menempati gang-gang sempit di sekitar pabrik es tua di subdistrik Kokkrabue, distrik Bangrak, dan di selatan kanal Sathorn (kini jadi subdistrik Yanawa, distrik Sathorn).

“Selanjutnya ketika Raja Chulalongkorn (Rama V) berkuasa, dia mempekerjakan orang-orang Jawa untuk membangun taman di Grand Palace dan gedung pemerintahan. Pada akhirnya banyak orang Jawa tiba dan bermigrasi dengan cepat,” tulis monumen itu.

Ketertarikan Rama V pada orang Jawa bermula dari kunjungannya ke Jawa pada 1871, yang kemudian dilakukannya lagi pada 1896 dan 1901. Tujuannya untuk mempelajari standar pemerintahan kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda menyambut hangat. Sebagai bentuk terimakasih, Rama V menghadiahkan sebuah patung gajah yang hingga kini masih berdiri anggun di depan Museum Nasional, Jakarta –juga dikenal sebagai Museum Gajah.

Menurut Raymond Scupin, profesor Antrpologi dan Studi Internasional di Lindenwood University, dalam “Muslim Accomodation in Thai Society”, dimuat Journal of Islamic Studies 9:2 (1998), karena terkesan dengan teknik pertanian dan berkebun mereka, raja mengundang beberapa tukang kebun Jawa ke Thailand untuk mengelola kebun kerajaan dan mengajarkan metode pembibitan dan berkebun di bawah perlindungannya.

Sejak itu banyak orang Jawa tinggal dan menetap di Bangkok. Anak-cucu mereka lahir dan besar di Bangkok pula. Mereka terkonsentrasi di Sathorn.

“Ibu dan bapak saya lahir di sini. Mereka anak dari Abdul Hamid dan Markah, generasi pertama yang datang ke sini dan bekerja di taman konsulat Inggris,” kata Dahrin.

Dahrin sendiri lahir dan besar di Sathorn pada 8 Mei 1930. Dahrin kecil belajar di sekolah dasar tujuh tahun. Dia belajar agama, bahasa Thailand dan bahasa Inggris. Setelah lulus dia tak melanjutkan sekolah karena perang. “Setelah itu saya bekerja di pasukan Jepang, mereka membayar anak belasan tahun untuk bekerja di kamp. Saya mengerjakan apa saja. Kuli. Make vitamin B from rice and bekatul. Mengaduk (mixing) for Javanese troop for vitamin B,” katanya dalam bahasa Jawa campur Inggris.

Perang Dunia II juga mendorong kedatangan orang-orang Jawa. Pada Desember 1941 Thailand jatuh ke tangan Jepang. Dari Thailand, pasukan Jepang menginvansi Burma dan merebutnya dari kontrol Inggris. Untuk mempertahankan pasukannya di Burma, Jepang membangun jalan keretaapi yang menghubungkan Thailand-Burma. Romusha dari Jawa didatangkan dan dipekerjakan di proyek-proyek Jepang maupun perkebunan. Setelah perang berakhir, sebagian dari mereka memilih menetap di sana.

Perang juga membuat orang-orang Indonesia yang belajar di luar negeri tak bisa pulang dan terdampar di Thailand. Mereka lantas menetap di Kampung Jawa. Salah satunya Walidah Dahlan, anak kesembilan dari Irfan Dahlan.

Irfan Dahlan adalah putra keempat (sebagian sumber menyebut kelima) KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sejak muda dia belajar di Lahore, Pakistan. Pulang dari Lahore, dia tak bisa masuk Indonesia karena pendudukan Jepang. Dia lantas menjadi guru agama di Thailand dan menikah dengan Zahara dan dikaruniai 10 anak.

Winai Dahlan, keturunan Irfan lainnya, menjadi direktur Halal Science Center di Chulalongkorn University, Bangkok. Dia pernah dinobatkan sebagai ilmuwan Muslim paling berpengaruh nomor 16 di dunia. Sementara Ella bikin toko roti dan kue “Ella Shop” di Kampung Jawa. Cucu-cicit Ahmad Dahlan tinggal di belakang masjid.

Setelah membanjirnya migrasi orang Jawa ke Thailand, sebagaimana tertulis dalam monumen batu granit, “Orang-orang Jawa di Sathorn diizinkan mendirikan sebuah masjid sebagai pusat pendatang dan pekerja Jawa pada masa itu.”

Masjid dibangun pada masa Raja Phrabath Somdet Phrajula Chorm Krao tahun 1945. Berdiri di atas tanah wakaf Haji Muhammad Soleh bin Hasan, seorang pedagang Jawa di sana, pada 1945 dan Muhammad Soleh didaulat sebagai imam pertamanya.

“Hubungan antara orang Jawa dan orang Thailand bagus, antartetangga,” ujar Dahrin.

[pages]

Rindu Pulang

Sebagaimana kota besar lainnya, Bangkok adalah sebuah kota kosmopolitan. Beragam bangsa hidup dan tinggal di sana. Termasuk juga orang-orang dari Indonesia.

Sebelum orang Jawa, banyak orang Bugis, yang dikenal sebagai pelaut ulung dan pedagang ulet, datang untuk berdagang dan tinggal di sana. Ada juga pelarian politik dari Bugis akibat serangan Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) terhadap Gowa-Tallo pada pertengahan abad ke-16. Mereka diterima Phra Narai, raja Siam, bahkan dibantu dan dizinkan menetap dan membangun kampung. Namun karena bersekongkol untuk menjatuhkan raja, Phra Narai dengan dukungan pasukan Prancis dan orang asing lainnya menghancurkan kampung Makassar. Orang-orang Makassar menghadapinya dengan gagah berani, kendati akhirnya kalah.

Kampung Makassar tak lagi berbekas. Namun namanya diabadikan sebagai nama sebuah kawasan dan jalan, yakni “Makkasan”. Letaknya tak jauh dari pusat pertokoan mewah terbesar di Bangkok, yaitu Central World, dan dekat kawasan pasar murah PratuNam. Dari bandara, Anda bisa menggunakan Skytrain menuju Stasiun Makkasan. Saya melewatinya ketika berkunjung ke Kampung Jawa.

Di Kampung Jawa, sekitar separuh dari penduduknya punya leluhur di Jawa. Sebagian besar dari mereka memendam keinginan untuk berkunjung ke Jawa. “Saya ingin pergi ke Jawa tapi tak ada rezeki,” kata Abdussamad (50) mencoba berbahasa Melayu. Samad generasi ketiga orang Jawa di Sathorn yang jadi bilal di Masjid Jawa. Leluhurnya berasal dari Kendal, sebuah kabupaten di sebelah barat Semarang. Samad masih suka pakai sarung, peci dan baju koko.

Namun mereka umumnya masih mengikuti perkembangan di Jawa. Ella, misalnya, meski tak pernah ke Jawa, dia tahu dan sudah menonton film soal Ahmad Dahlan Sang Pencerah. “Someday, I will go to Yogya,” kata Ella.

Dahrin beruntung masih menyambung persaudaraan dengan keluarganya di Kendal. Saat liburan ke Bali dia sempatkan berkunjung ke Semarang dan Yogya serta mampir ke Kendal. Dengan bahasa Indonesia campur Jawa yang terbata-bata, dia menyebut beberapa nama saudaranya di sana. Dia juga ingat nama desa asal leluhurnya yaitu Pucang Kulon namun ketika ditanya kecamatan apa ingatannya tak cukup merekam. “Karan wis tuwo,” tuturnya sembari tertawa.

Sesekali Dahrin masih melihat siaran televisi Indonesia dan senang belajar bahasa Indonesia dan Jawa. Dia ingin anak-anaknya belajar bahasa Indonesia dan Jawa. Dia memesan sebuah kamus bahasa Inggris-Indonesia pada saya.

Saya meninggalkan Bangkok dengan kesan mendalam. Kampung Jawa membuat saya merasa di kampung sendiri.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK