top of page

Raja Mataram Menjaga Keberagaman

Raja beragama Hindu ini memperistri perempuan Muslim. Dia membangun masjid dan membiayai rakyatnya naik haji.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem, raja terakhir Mataram Lombok, diasingkan ke Batavia sampai meninggal tahun 1894. (Tropenmuseum).

  • 13 Jun 2017
  • 2 menit membaca

PADA 1740, seluruh wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Karangasem dari Bali. Raja terakhirnya adalah Anak Agung Anglurah Gede Ngurah Karangasem (1870-1894). Dia dikenal sebagai raja yang toleran dan menjaga keberagaman. Penduduknya sebagian besar dari suku Sasak yang beragama Islam, disusul orang Bali beragama Hindu, Makassar, Tionghoa, Arab, dan Eropa.


Menyadari penduduknya beragam dalam suku, budaya, dan agama, raja berusaha mengatur dan menjaganya dengan baik. Raja mengadakan pendekatan kepada tokoh-tokoh Sasak. Bahkan, dia mengambil istri dari suku Sasak, yaitu Dinda Aminah.


Menurut I Gde Parimartha, guru besar sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana, Bali, lewat hubungan perkawinan, raja menerapkan sistem keseimbangan dalam masyarakatnya. Raja memandang bahwa budaya dan agama Islam perlu hidup berdampingan dengan budaya dan agama lain.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah’s first marriage ended in tragedy. Her husband was shot and killed by Dutch soldiers. Her second spring of love unfolded with Soebadio Sastrosatomo.
transparant.png
bottom of page