Melihat Surga dan Neraka Melalui Komik

Tafsir awam terhadap surga dan neraka. Sempat disambut hangat, namun ia dianggap komik sampah.

1497948179000
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Melihat Surga dan Neraka Melalui Komik
Komik bertema surga dan neraka.

SUATU hari, dua bayi laki-laki lahir di Jakarta. Bayi pertama, diberi nama Karma, menempati ruangan VIP di sebuah rumahsakit kelas A. Ayahnya pengusaha kelas kakap. Harta melimpah, rumahnya gedong bertaman luas. Karma dibawa pulang dari rumahsakit dengan Mercedes keluaran teranyar. Hasan Wibisana, bayi kedua, lahir di poliklinik biasa. Dia anak orang kebanyakan yang tinggal di rumah sederhana berpagar bambu. Ayahnya membawa pulang dengan angkutan kota sewaan. Karma dan Hasan dibesarkan dengan cara berbeda. Orangtua Karma sibuk berbisnis. Sementara orangtua Hasan mencurahkan perhatian pada anaknya: mendoakan, memasukkannya ke Taman Pendidikan Alquran, dan mengajaknya mengaji selepas Magrib.

Beranjak dewasa, laku Karma dan Hasan berlawanan. Karma pemabuk, suka main perempuan, dan hura-hura. Hasan rajin menyambangi tempat ibadah, gandrung beramal, dan hidup bak pertapa. Keduanya lalu wafat hingga dibangkitkan kembali di hari kiamat. Karma mendapat siksa tanpa ampun. Kepalanya dipukul hingga otaknya berceceran. Sedangkan Hasan mendiami surga yang indah tak terperi.

Itulah sekelumit kisah Karma dan Hasan dalam komik Indahnya Surga Pahitnya Siksa Neraka karya dua komukis M.B. Rahimsyah dan Syam, tanpa tahun terbit. Dari suasana latar (gedung dan mobil) dan dialog tokohnya (istilah triping dan baby siter), tampaknya komik ini terbit pada 1990-an. Komikusnya tak menyusun panel-panel secara ajeg di setiap halamannya; kadang dua panel, ada pula yang bisa sampai empat panel.

Dengan tebal 64 halaman, komik ini diterbitkan Penerbit Sandro Jaya, Jakarta. Agaknya, penerbit ini getol membuat komik murah beraliran surealis dari duo komikus yang sama. Selain Indahnya Surga Pahitnya Siksa Neraka, tersedia pula Penghuni Neraka Wail, Penghuni Neraka Saqar, dan Siksa Bagi Para Pelacur. Pedagang buku murah di Blok M Square menjualnya Rp5.000 per komik. “Saya membelinya karungan dari pedagang buku di Senen,” kata Marwan, 30 tahun. Dia sama sekali tak tahu profil­ penerbitnya.

Di Senen, Jakarta, komik ini mudah ditemukan. Bersama komik murah lainnya seperti Negeri Tumaritisnya Tatang S., komik ini dijual lebih murah, Rp4.000 per komik. “Jika beli banyak, bisa murah lagi,” ujar Yunus, 52 tahun, seorang pedagang. Dia mengatakan mendapatkan komik itu dari agen, bukan penerbit. “Gampang kan mencetak komik seperti ini. Tinggal copy, lalu cetak. Yang penting punya modal. Nama penerbit bisa diakalin,” katanya sambil menunjukkan beberapa komik sejenis. Jalan cerita dan gambarnya sama persis meski komikus dan penerbitnya beda. “Ya, begini ini komik surga neraka sejak saya jualan di sini tahun 1990-an.”

Manipolisasi Komik

Komik surga neraka kali pertama terbit pada 1961, berjudul Taman Firdaus, tanpa nama penerbit. Komik berharga Rp25 ini terbit berbarengan dengan kian menjamurnya komik Indonesia hasil adaptasi komik Barat. Komik Superman, misalnya, diadaptasi menjadi kisah Sri Asih karya R.A. Kosasih. Tokoh dan ceritanya hampir sama. Orang senang membacanya sehingga penerbit untung besar.

Gencarnya penerbitan komik itu mengundang reaksi pemerintah. Komik dianggap merusak cita-cita revolusi. Apalagi sentimen anti-Barat tengah membara. Di Semarang, komik-komik itu dikumpulkan dan dibakar. Kios-kios dan sekolah digeledah. Jika ketahuan menjual atau menyimpan, sanksi dan teguran bisa menimpa mereka. Sebaliknya, produksi komik perjuangan, yang menghidupkan kenangan masa revolusi, konfrontasi dengan Inggris di Borneo dan Belanda di Irian Barat, digenjot.

Terbitnya komik surga neraka mendapat sambutan hangat pemerintah. Melalui sambutannya, seorang pejabat agama pemerintah, Muttaqien, menulis, “sebagai usaha yang bersifat pionir, saya menyambut gembira.” Dia menilai komik ini sebagai obat terhadap buku-buku, termasuk komik, yang meracuni kehidupan anak-anak. Dia mengkritik penerbit dan pengarang yang tak punya tanggungjawab untuk menuntaskan cita-cita revolusi. Menurutnya, minat baca anak-anak yang meluap tak seharusnya dimanfaatkan untuk mendulang rupiah. Ada tugas luhur yang diemban penerbit dan pengarang melalui karyanya. Taman Firdaus dianggap mampu mengemban tugas revolusi. Pengarangnya, K.T. Ahmar, mendapat pujian selangit. Harapan pemerintah, kelak anak-anak mampu menjadi “manusia sosial yang beragama”.

Membacanya, Taman Firdaus seolah menjadi prototipe komik surga neraka yang terbit belakangan. Isinya nyaris serupa dengan Indahnya Surga Pahitnya Siksa Neraka. Berkisah dua lelaki yang lahir hampir bersamaan tapi berlatar belakang dan dibesarkan dengan cara berbeda. Menariknya, komik ini ditampilkan sesuai kondisi zaman: sang komikus mencoba menerjemahkan dan menyebarkan cita-cita revolusi. Orangtua saleh mengasuhnya dengan kasih sayang dan doa. Termaktub di keterangan gambar, “Inilah hasil pendidikan yang baik sesuai dengan manipol usdek sapta usaha tama.”

Manipol Usdek, akronim dari Manifestasi Politik serta UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia, menjadi mantra pemerintahan Sukarno setelah mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Salah satu hasilnya, pengukuhan sistem pendidikan nasional dengan menekankan pada pembangunan nasion dan karakter yang dikenal sebagai Sapta Usaha Utama sesuai Instruksi Menteri Muda Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Prijono.

Di panel lainnya, Karma mendapat mainan yang berlimpah tapi tanpa perhatian orangtua. Keterangan gambar menyebut, “Pendidikan Karma terletak di tangan babu yang sering berganti-ganti.” Lantaran itu, Karma berani menghardik seorang pengemis dengan kalimat, “Enyah kau, aki-aki busuk!” Ada yang menduga adegan ini sebagai gambaran pertentangan kelas di Indonesia kala itu.

Komik Sampah

Setelah Taman Firdaus, dunia komik Indonesia dibanjiri komik silat dan roman. Komik-komik ini merebut hati pembaca. Komikus seperti Djair dan Jan Mintaraga pun tersohor. Tapi, seperti pendahulunya, rezim baru yang lahir pada 1966 tak menyetujui adegan kekerasan, percintaan remaja, dan dandanan ala Barat. “Sensor dan izin penerbitan diberlakukan dengan menggandeng Komdak VII Djaja, Pemuda Pantjasila, Kejaksaan Tinggi, Kementerian Sosial, Departemen Agama, dan Pelukis Muda,” tulis Kompas, 14 Juni 1966.

Razia pun digelar. Hingga 1970-an, banyak komik disita, bahkan yang memiliki izin terbit. Ini terjadi misalnya di Senen pada 25 Mei 1971. Pedagang dan penerbit komik pun gelisah. Agar usaha tetap berjalan, mereka memilih menerbitkan dan menjual komik surga dan neraka.

Komik ini tak tersentuh sama sekali. Di sampul belakang komik, justru terdapat pernyataan “Bacaan Islami Untuk Madrasah, SD dan Umum”. Pedagang menjualnya dengan bebas. Tempat-tempat penyewaan komik menyediakannya tanpa khawatir. Penerbit M.A. Djaja menangguk untung dari penerbitan komik-komik berjudul Neraka, Sorga Firdaus, dan Hari Pembalasan karya Alwi S. dkk.

Komik surga dan neraka berkibar di tengah lesunya pertumbuhan komik Indonesia. Penerbit membeli hak cipta komik ini untuk 1.000 eksemplar. Tanpa sepengetahuan komikus dan penerbit, percetakan kerap mencetaknya lebih. Kurun itu, menurut Kompas, 14 Agustus 1979, komik surga neraka dijual sekira Rp150-160 per komik. Ada selisih Rp 20-30 dari biaya produksi. Sementara biaya izin terbit ke Komdak VII hanya Rp 2.500 per judul. Biaya itu digunakan untuk cap stempel di halaman terakhir komik tiap eksemplarnya. Hanya dengan mencetak 1.000 eksemplar, penerbit sudah meraup untung besar. Keuntungan bisa lebih besar bila kecurangan percetakan bisa diatasi.

Percetakan ikut andil menyebarkan komik itu. Melalui jalur distribusi penjualan khusus, mereka mengedarkannya kepada tempat penyewaan komik. Dari tempat ini, sebuah komik disewakan Rp 15. Anak-anak merupakan pembaca terbesarnya. Mereka biasa datang bergerombol sehingga mampu menyewa banyak komik. Komik yang disewakan memang tak hanya surga dan neraka. Ada juga komik-komik asing terjemahan. Tapi tak pelak, komik surga neraka cukup diminati.

Peluang Komik Agama

Maraknya peredaran komik surga neraka mendapat kritikan dari Arswendo Atmowiloto, pengamat komik. Dia mengatakan komik ini dibuat komikus tanggung. Penggambaran maupun ceritanya tak bulat. Panel-panelnya berisi separuh badan. Wajah, gerak, kostum, dan dekor tak mengalami perubahan. Komik berarti, kecuali tingkat kesadisan, pementasan darah, dan gambar yang lebih porno.

Dari sekian judul, jalan ceritanya selalu sama. Seringkali malah membingungkan pembaca. Dua sosok dengan watak jomplang satu sama lain selalu tersaji. Yang berbeda hanya jender tokohnya. Kadang lelaki, di lain waktu justru perempuan seperti dalam komik Sorga Firdaus.

Arswendo menyebut komik ini tak memberi manfaat apapun, bahkan komik sampah. “Yang begini ini jangan harap bisa memberikan informasi baru, pemecahan atas problem atau tuntutan yang lain,” tulisnya di Kompas, 14 Agustus 1979. Toh Arswendo tak setuju tindakan memaki, merazia, apalagi membakar komik itu karena tak menyelesaikan masalah.

Sastrawan Abdul Hadi W.M. melihat perupaan surga dan neraka dalam komik sebagai tafsir awam. Ayat-ayat surga dan neraka diartikan secara har­fiah. Ini berbeda dengan tafsir ala kaum su­fi. Beberapa di antaranya, dalam syair-syairnya, melihat surga dan neraka sebagai keadaan jiwa, bukan tempat. “Tapi kita tak usah pusing soal awam atau bukan. Ada yang senang dan tak senang tafsir awam. Juga dengan tafsir su­fi. Yang penting, kita sudah berusaha memberikan penjelasan tentang tafsir yang lebih mungkin,” ujarnya.

Bosan dengan komik agama yang didominasi penggambaran naif surga dan neraka, Balai Penelitian Lektur Keagamaan Ujung Pandang mengadakan sayembara mengarang bacaan komik ujarnya. Bosan dengan komik agama yang didominasi penggambaran naif surga dan neraka, Balai Penelitian Lektur Keagamaan Ujung Pandang mengadakan sayembara mengarang bacaan komik bernafaskan keagamaan pada Agustus 1980. Mereka melihat peluang penyebaran nilai agama yang lebih santun dan mendidik tanpa penggambaran kekerasan melalui komik.

Dalam kolom lainnya di Kompas, 26 September 1981, Arswendo berpendapat komik bertema agama mempunyai peluang sebagai bacaan menarik asalkan komikus terbuka terhadap kreasi baru. Dia menyebut komik terbitan M.A. Djaja, Kisah Nabi Yang Tidur 100 Tahun, cukup menarik. Komikus mengkreasi dan menerjemahkan sendiri kisahnya tanpa menyeleweng jauh dari aslinya.

Meski berbagai kritik dan saran berdatangan, komik surga neraka tak pernah kehilangan pamor. Mereka bertahan hingga kini. Tema ceritanya sedikit menyesuaikan zaman. Dulu selalu tentang orang kaya dan miskin, kini Anda bisa menemukan hukuman untuk para koruptor seperti termaktub dalam Penghuni Neraka Saqar.

Dikisahkan, Harjito hidup paspasan sebagai pegawai negeri. Tergoda untuk membahagiakan istrinya yang cantik, dia pun melakukan korupsi hingga menjadi kaya. Malang, di tengah perjalanan pulang ke rumah dia tewas tertimpa pohon tumbang. Di alam kubur dia mendapat siksaan. Lecutan cambuk besi memporakporandakan tubuhnya. Ketika tubuhnya kembali utuh, rantai besi membelenggu tangan dan kakinya, lalu sebuah gergaji memotong tangan dan perutnya. Siksaan demi siksaan berlanjut hingga hari kiamat. Harjito, dan koruptor lainnya, dimasukkan ke neraka saqar, yang siksa dan panasnya beberapa kali lipat neraka jahaman. “Mereka kekal di sana.”

Apakah komik ini membuat para koruptor kapok? Jika iya, kita patut mengapresiasinya.

[pages]

  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK