Langkah Awal Anak Pendeta

Semula ingin menjadi pendeta. Snouck Hurgronje kemudian menaruh perhatian pada Islam.

12 February 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Langkah Awal Anak Pendeta
Christiaan Snouck Hurgronje (tengah) bersama teman-teman mahasiswa di Universitas Leiden. (Koleksi khusus Universitas Leiden/Wikimedia Commons).

Jacobus Julianus Snouck Hurgronje dibutakan cinta. Sang pendeta tega meninggalkan istri dan enam anaknya demi hidup dengan perempuan lain. Dia selingkuh dengan Anna Maria Visser, putri sejawatnya, Christiaan de Visser dan Anna Catherina Scharp.

Hubungan gelap Snouck dan Anna diketahui pengurus Gereja Hervormd Tholen di Provinsi Zeeland, Belanda. Dia pun dipecat pada 3 Mei 1894.

Menurut P.S.J. van Koningsveld dalam Snouck Hurgronje dan Islam, dalam keputusan pemecatan resmi dari pengurus gereja tertera alasan: “meninggalkan jabatan secara tidak setia, disertai dengan tindakan-tindakan yang memberatkan.” Sedangkan pendapat umum menyebut bahwa “nafsu yang menjerumuskan dan bersifat pidana dari Ds. J.J. Snouck Hurgronje… merupakan sebab sebenarnya kepergiannya dari masyarakat Tholen.”

Snouck juga mencoreng nama Hurgronje karenanya terisolasi secara sosial.

“Nama Hurgronje (Hurgroigne) berasal dari daerah Artois, kini bagian dari Prancis. Hurgronje, yang waktu itu pedagang, bermigrasi ke Vlissingen pada pertengahan abad ke-17,” tulis Christina Carvalho dalam “Christiaan Snouck Hurgronje: Biography and Perception,” tesis di Universiteit van Amsterdam tahun 2010.

Snouck dan Anna hidup bersama sejak 1849. Mereka pergi ke Inggris, tempat dua anak mereka lahir: Anna Maria de Visser dan Jacqueline Julie de Visser. Mereka menyandang nama sang ibu karena lahir di luar nikah. Jacqueline tak pernah menikah karenanya menjaga nama ibunya sepanjang hidupnya.

Snouck baru menikahi Anna setelah istri pertamanya meninggal dunia pada 23 Oktober 1854. Pernikahan mereka berlangsung akhir tahun 1855 di Desa Terheijden, Provinsi Brabant. Keluarga baru ini kemudian menetap di Oosterhout pada 1856.

Menurut Koningsveld, Snouck berulang kali mengajukan permohonan agar dipulihkan di gereja Hervormd. Namun, baru setelah meresmikan hubungannya dengan Anna, pengurus gereja mengabulkan permohonannya pada 13 Agustus 1856. Sementara Anna baru pada 1867 diterima sebagai anggota gereja Hervormd setelah pengakuan iman kedua di depan umum. Pengakuan pertama di Tholen dan kedua di Oosterhout.

Di Oosterhout, Snouck dan Anna dikaruniai lagi tiga anak: Christina Anna Catherina, Christiaan Snouck Hurgronje, dan Anna Catherina. Nama Christiaan diambil dari kakek di pihak ibu, Christiaan de Visser.

Pengaruh Buyut

Christiaan Snouck Hurgronje, anak keempat dari pasangan Snouck dan Anna, lahir pada 8 Februari 1857. Bagaimana bisa seorang anak pendeta kemudian memberi perhatian pada Islam? Jawabannya mungkin terletak pada pengaruh dari ayah kakeknya (buyut), Ds. J. Scharp, seorang orator ulung di Rotterdam.

Pada 1824, Scharp menyelesaikan buku pelajaran berbahasa Belanda pertama tentang Islam bagi calon-calon juru pengabar Injil Protestan. Buku yang tidak diterbitkan ini dan harus disalin dengan tulisan tangan berjudul Korte schets over Mohammed en de Mohammadanen. Handleiding voor de kwekelingen van het Nederlandsche Zendelinggenootschap (Sketsa singkat tentang Muhammad dan kaum muslimin. Buku pegangan bagi para siswa perhimpunan pengabar Injil Belanda).

Menurut Koningsveld, pendeta yang suka membaca itu menguraikan dengan panjang-lebar bagaimana kaum muslimin sebaiknya disongsong dan dihadapi dengan firman sehingga anggapan lancung mereka tentang kekristenan dapat dilumpuhkan. Selain itu, dia memberikan pemaparan tentang gambaran iman serta peraturan-peraturan upacara agama dan kemasyarakatan Islam. Dia juga memperuntukkan satu bab kepada “orang-orang murtad atau fasik yang masuk agama Islam.”

“Dia memaparkan perjalanan haji ke Mekkah, riwayat hidup pendiri Islam, syariat Islam –dengan singkat memberikan ikhtisar tentang topik-topik terpenting,” tulis Koningsveld. “Sebagai tema-tema pokok yang terdapat dalam karya cicitnya (Snouck Hurgronje, red.), kesesuaian yang agaknya terlalu mencolok jika disebut hanya kebetulan belaka.”

Dengan demikian, Koningsveld menduga “asal-usul perhatian Snouck kepada Islam boleh jadi terletak dalam masa remajanya. Kemasyhuran Scharp pada masa remaja Snouck jauh dari surut.”

Kuliah di Leiden

Ketika Snouck berusia tiga belas tahun, ayahnya meninggal dunia. Dia tinggal bersama ibu dan saudara-saudaranya. Kedekatan dia dengan ibunya terungkap dalam catatannya pada 1921.

“Menurut pengalaman,” kata Snouck, “saya tahu bahwa cinta seorang ibu tidak dapat digantikan oleh apa pun juga di dunia dan bahkan hampir tak dapat dibandingkan dengan apa pun jua.”

Snouck mengikuti pendidikan persiapan (Hogere Burger School) di Breda. Selain itu, dia belajar bahasa klasik di sekolah Latin sebagai prasyarat masuk universitas.

Snouck bersama ibu dan saudaranya, Jacqueline dan Catherina, pindah ke Leiden pada 1874. Mereka tinggal di Hooigracht 87. Kakak sulungnya, Anna Maria, sudah berkeluarga dan ibunya juga kemudian menikah lagi. Pada tahun yang sama, Snouck mulai belajar teologi di Fakultas Sastra Universitas Leiden. Dia juga harus mempelajari bahasa Arab dan Ibrani selama setahun.

Menurut Koningsveld, pendidikan si bakal orientalis tidak melalui jalan tradisional di Hervormd. Sebaliknya, pilihan untuk belajar teologi di Leiden menunjukkan bahwa Snouck –mengikuti jejak banyak kaum kerabatnya– semula ingin menjadi pendeta. Pada awal tahun pelajaran keempat (musim gugur 1877) keinginan itu masih ada atau setidak-tidaknya Snouck belum mengambil keputusan lain. Terbukti namanya diumumkan dalam Kerkelijk Album atau Album Gereja Universitas Leiden.

“Setelah dua tahun pertama mengikuti kuliah tingkat persiapan yang wajib diikuti pada fakultas sastra, di jurusan teologi Snouck berkenalan dengan arah pemikiran ‘teologi modern’ yang pengaruhnya akan sangat menentukan gagasan-gagasannya kemudian tentang Islam dan politik kolonial,” tulis Koningsveld.

Snouck-Hurgronje
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK