Kisah Ilmuwan, Petualang, dan Mata-mata

Snouck Hurgronje masyhur karena pengetahuannya, kontroversial karena perannya.

08 February 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Kisah Ilmuwan, Petualang, dan Mata-mata
Christiaan Snouck Hurgronje, 1930. (Geheugen van Nederland/Wikimedia Commons).

KETIKA Gunung Krakatau meletus pada 1883, dunia terpana dan para orientalis di Eropa khawatir peristiwa ini akan ditafsirkan sebagai “sinyal Allah” yang bisa menyulut pergolakan muslim di pelosok dunia, juga di Nusantara. Pemerintah Belanda resah: bagaimana cara mengetahui "rahasia Islam”?

Johan Kruyt, konsul Belanda di Jeddah, menemukan tulisan Snouck Hurgronje di koran Java Bode. Dia kagum. Tak salah lagi, pikir Kruyt, Snouck-lah orang yang dicarinya untuk mengamati kehidupan jemaah haji di Mekkah dan memberi saran-saran politik.

Dikirimlah Snouck, doktor bahasa dan sastra oriental berusia 28 tahun, ke Mekkah –kota yang haram bagi “kafir” kecuali bila menjadi muslim dengan disunat terlebih dulu.

Menjadi Abd al-Ghaffar

Buku ini bukanlah biografi lengkap, melainkah “novel jurnalistik” berbasis dokumen-dokumen primer dan sekunder yang berlimpah. Philip Dröge menemukan Snouck sebagai tokoh unik dengan peran rangkap yang berhasil menjelajahi Mekkah –kota misterius yang mengusik keingintahuan dunia Barat. 

Buku ini diawali kisah Snouck memelorotkan celana dalamnya, selaput penisnya diiris hingga darah menetes di lantai, sementara Snouck menahan nyeri. Deskripsi khitanan ini memperlihatkan gaya khas penulisnya; menguraikan dengan penuh gairah kisah dramatis petualangan Snouck.

Sejak itulah Snouck “tenggelam” dalam kegiatan pemantauan etnografi terhadap dunia Islam di Mekkah. Dia menjalankan multiperan: sebagai ilmuwan-etnograf, mualaf yang mendalami kehidupan muslim, dan mata-mata untuk kepentingan negara yang mengutusnya.

Dengan khitanan pada 16 Januari 1885, Snouck, putra pendeta dari Breda dan Ph.D. dari Universitas Leiden, beralih identitas. "Christiaan Snouck-Hurgronje tak ada lagi." Yang ada kini adalah “Abd al-Ghaffar al-Laydini” (De Dienaar van de Alles Vergevende uit Leiden) yang kalau di-Indonesia-kan menjadi “Abdi Sang Maha Pengasih dan Penyayang dari Leiden” (h. 69).

Snouck melafalkan kalimat syahadat di muka kadi (hakim) Isma'il Agha. Tiga kali dia menyuarakannya dengan keras untuk meyakinkan kadi.

Philip Dröge, Pelgrim, Leven en reizen van Christiaan Snouck Hurgronje, Wetenschapper, spion, avonturier. (Den Haag: Spectrum, 2017).

Membangun Siasat, Meraih Untung

Seminggu sebelumnya, Snouck yang keranjingan fotografi memotret Marsekal Nuri Pasja yang mengenakan pakaian kebesaran Ottoman. Kemudian dia mendekati Isma'il Agha. Dengan kefasihannya berbahasa Turki, dia menyampaikan niat menjadi muslim. Semua berjalan lancar. Bahkan Sang Marsekal bangga ada seorang Barat menjadi mualaf. Semua itu menjadi tiket Snouck untuk menembus gerbang kota suci Mekkah.

Pendekatan Snouck memang mempesona. Tidak hanya di Jeddah dan Mekkah. Setiap kali menjajaki orang-orang di sekelilingnya, dia memastikan dulu tokoh-tokoh kunci yang perlu dirayunya.

Sejak berangkat Snouck mendekati penumpang kapal dari Afrika dan Arab yang mengenal dunia Mekkah. Setiba di Jeddah, dia dekati Pieter van der Chijs, pebisnis yang mengurus jemaah haji dari Asia. Dia juga bersohib dengan Raden Abu Bakar Djajadiningrat, warga Sunda yang menetap di Mekkah.

Kelak, di Hindia Belanda, dia pun bekerja dengan mengenal kondisi dan tokoh-tokoh kunci untuk menemukan dunia mereka. Melalui komunitas Aceh di Mekkah, misalnya, dia mengumpulkan bahan tentang Tgk. Chik di Tiro untuk menyusun rencana mematahkan perlawanannya.

Masuk Mekkah

Tahap paling mendebarkan ialah saat memasuki dan mengenal Mekkah. Bagi Snouck, memasuki Kota Suci adalah "het moment van de waarheid” atau momen kebenaran yang menjadi ujian bagi jatidirinya.

Karavan yang ditumpanginya bersama rombongan Aboe Bakar Djajadiningrat perlahan mengarungi gurun. Dalam beberapa jam tampak bukit-bukit setinggi 600-an meter yang menyembunyikan kota Mekkah. Di gerbang kota sederetan serdadu Ottoman menjaga batas Kota Suci.

Di dalam kota ini resminya orang terlarang berperilaku sembarangan, berbicara tak senonoh, mengolok-olok sesama, dan berdusta. Jika kau lakukan itu, hilang nyawamu. Tapi pertama-tama pengunjung harus membuktikan dirinya muslim.

Snouck telah siap. Tiba di depan serdadu Ottoman, kontan dia angkat jalabahnya dan turunkan celana dalamnya. Dia pamerkan penisnya yang telah tersunat. Bekas luka irisan yang masih segar tak dipertanyakan. Sosoknya yang jelas-jelas Eropa pun tak bermasalah. Betapa lega Snouck. Karavan pun berlanjut memasuki Mekkah.

Snouck tidak sekadar mampir, tapi bermaksud menetap di Mekkah. Dia yakin, satu-satunya jalan agar tak dicurigai penguasa adalah meniru gaya hidup warga lokal. Artinya: harus fasih berbahasa Arab, Turki, tampak rajin beribadah, berjelabah, berjanggut, tidak berbincang dengan perempuan di muka publik, bahkan memiliki budak. Maka, ketika harga budak di pasar dunia merosot, Snouck membeli budak perempuan asal Ethiopia seharga 150 ringgit Austria.

Air Zam-zam

Di Mekkah, Snouck menatap sebuah batu raksasa: Ka'bah –episentrum dari kesucian Kota Suci. Lagi-lagi hati Snouck berdebar. Dia diam, menatap batu hitam yang mengkilat dielus-elus ribuan jemaah. Apa dia berdoa khusuk di muka Ka'bah, penulis tidak membahasnya.

Tiba di tempat meneguk air suci zam-zam, Snouck pun minum air yang konon berkhasiat itu. Sebotol dibawanya pulang. Bukan untuk diminum, tapi dikirim ke Leiden untuk sahabatnya, ahli kimia Pieter van Romburgh, untuk diselidiki. Benarkah air zam-zam itu mengandung zat yang tak dikenal? Bisakah uji kimiawi membuktikan kesucian air itu? Snouck tetap Snouck. Dia petualang, dia penasaran tentang Islam, tapi dia berperilaku ilmuwan.

Baca juga: Perayaan Lebaran di mata Snouck Hurgronje

Di sebuah gerbang, tiba-tiba Snouck dibisiki: "Itu rektor Universitas Mekkah!". Tak disangka, berjumpa tokoh yang amat disegani di Mekkah: Sayyid bin Ahmad Zaini Dahlan (kelak nama tokoh ini diadopsi K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah). Bagi Snouck, tatap-muka sejenak itu merupakan momen monumental. Lagi-lagi ujian bagi jatidirinya.

Tradisi mengharuskan mencium tangan tokoh sekaliber Sayyid (keturunan Rasul). Snouck pun segera melakukannya.

Sayyid Dahlan tertegun.

"Saya datang dari Barat," ujar Snouck. "Saya sudah banyak mempelajari Islam, tapi ingin memperluas pengetahuan dengan belajar dari guru-guru di kawasan Haram ini."

Sayyid mengangguk-angguk, lalu perlahan melangkah lanjut. Kelak, Sayyid mengundang Snouck dan menjamunya di rumahnya. Lagi-lagi Snouck sukses menampilkan dirinya selaku Abd al-Ghaffar.

Menjadi Pejabat Kolonial

Petualangan Snouck terganjal saat Charles Huber, geograf Prancis yang menemukan artefak arkeologis pra-Islam, tewas. Temuannya menjadi rebutan dunia akademis dan museum Eropa. Seorang calo Aljazair yang bekerja untuk Prancis memperolehnya berkat uang pinjaman dari Snouck. Timbul kecurigaan penguasa terhadap orang-orang Eropa di wilayahnya.

Snouck, yang tengah giat menemui ahli-ahli Qur'an serta informan-informan Aceh dan Jawa, terganggu. Geger kasus Huber membahayakan posisinya. Spion takut jadi pion. Gara-gara fitnah dan rumor, Snouck diusir dan dilarang kembali ke Mekkah pada 1887.

Kembali ke Leiden, bukunya berjudul Mekka mulai mendunia. Tapi bagaimana dengan ambisinya?

Sejak Konferensi Orientalis di Wina, nama Snouck mencuat. Harian Inggris Pall Mall Gazette menyebutnya “a doughty Dutchman” (orang Belanda bernyali). Namun tawaran jadi gurubesar di Universitas Cambridge yang tersohor ditolaknya.

Sementara itu Den Haag risau dengan perlawanan Aceh. Dan Aceh, bagi Snouck, amatlah menarik karena “rakyatnya fanatik, sangat percaya Islam dan hampir tak dikenal dunia” (h. 135).

Pucuk dicinta ulam tiba. Snouck lagi-lagi memanfaatkan peluang ketika Den Haag memutuskan bahwa Aceh harus ditaklukkan. Dia siap membantu asalkan –demikian syarat Snouck– perjalanannya ke Aceh dirahasiakan. Den Haag setuju: hanya menteri koloni dan gubernur jenderal Hindia-Belanda yang tahu misi Snouck.

Pada 4 Januari 1888, Snouck resmi menjadi pejabat negara yang diutus ke koloni.

Jemaah haji asal Aceh. (C. Snouck Hurgrnje, Mekka in the Latter Part of the 19th Century).

Berstrategi di Aceh

Pada 27 Maret 1889, Snouck bertolak dari stasiun kereta-api Leiden. Dia akan menumpang kapal-uap SS Peshawur menuju Penang sebelum menyeberang ke pantai timur Sumatra.

Rencana Snouck: dari Penang menuju Sigli, menjauhi komunitas Belanda, mengontak komunitas ulama setempat. Dia bermaksud mendekati kelompok pemberontak Tgk. Chik di Tiro. Tapi sebuah telegram dari gubernur jenderal memerintahkannya ke Banten. Di sana Islam bergolak.

Dua tahun sebelumnya, di Cilegon, puluhan pejabat kolonial dan pribumi dibantai. Haji Wasid, yang mengaku memimpin sekte Nazbandiyah, menghasut pengikutnya untuk menghabisi para pejabat lokal gara-gara seorang istri pejabat Belanda mengeluhkan kumandang adzan. Menurut Wasid, itu tanda Belanda menolak Islam dan letusan Krakatau adalah pertanda bahwa Belanda membawa malapetaka bagi kaum muslim Banten.

Snouck meragukan perintah itu datang dari kenalannya dari tarekat Nazbandiyah di Mekkah. Dia menuju Banten Selatan.

Di Menes, Snouck dijamu bupati, teman lamanya di Mekkah, dan diusulkan menikahi salah satu kerabat bupati. Snouck mengamati dua sosok: Sangkana yang dipilih jadi istrinya sebagai batu loncatan agar terpandang dan berpengaruh di kalangan bangsawan bumiputra, dan Husein, bocah cerdas putra sang bupati (Husein Djajadiningrat kelak menjadi murid Snouck dan gurubesar pertama asal Indonesia di Universitas Leiden).

Kepada pemerintah di Batavia, Snouck menasehati agar pandai-pandai melacak kelompok muslim yang sesat dan mengayomi mereka yang awam tapi taat.

Baca juga: Van Heutsz konsultasi kepada Snouck Hurgronje untuk menaklukkan Aceh

Hasrat Snouck mengunjungi Aceh akhirnya kesampaian dua tahun kemudian. Bertugas di Aceh, Snouck mulai terlibat pusaran intrik dan persaingan antarpejabat Hindia Belanda.

Sejak 1873 Belanda mencoba menguasai Aceh tapi gagal. Ekonomi negara merosot sejak lada (merica hitam) dari Aceh berkurang drastis. Kekuasaan Belanda di Aceh hanya sebatas Kota Radja. Sejumlah warlords (bandit, bendes dalam istilah Belanda) melancarkan perang. Dua yang tersohor: Tgk. Chik di Tiro dan Teuku Umar. Menteri Koloni Levinus Keuchenius sepakat dengan Snouck: jauhi Kota Radja dan masuk pedalaman dari arah timur.

Tiro sudah aman tapi Snouck tidak mempercayai Teuku Umar. Strategi Snouck diacak-acak gubernur baru yang mengajak Teuku Umar rujuk dan menghadiahinya sebuah rumah besar. Snouck, bersama Mayor Jo van Heutsz, menginginkan pendekatan selektif: menghabisi Teuku Umar dan kelompoknya tapi melindungi penduduk.

Snouck benar: Cut Nyak Dhien, istri Umar, menyusul suaminya untuk menyalakan perang baru. Snouck menjadi penasehat perang, ikut operasi selama tiga bulan bersama van Heutsz, masuk hutan dari Sigli memburu Teuku Umar hingga Meulaboh. Umar tewas, pemberontakan padam, tapi Gayo masih rawan.

Bersama sumber lokal, Snouck memetakan kawasan ini. Bagi Snouck, sukses perang di Aceh tidak lain adalah berkat strateginya mengucilkan pemberontak dari kebun-kebun lada.

Di Batavia, persaingan pejabat berlanjut. Ketika van Heutsz diangkat jadi gubernur jenderal, Den Haag menawarkan posisi gubernur Aceh kepada Snouck. Letih oleh pusaran intrik, Snouck memilih kembali ke Leiden (1906). Kali ini dia berhenti bertualang, menjauhi urusan koloni, menjadi gurubesar, lalu rektor, hingga akhir hayatnya (1936).

Pangeran Saud dan Snouck Hurgronje di Universitas Leiden, 13 Juni 1935. (Leiden University Library/Wikimedia Commons).

Akidah

Sebuah pertanyaan masih terdengar tentang posisi moral dan spiritual Snouck Hurgronje: benarkah dia berkeyakinan –berakidah– Islam atau hanya memanfaatkan keIslamannya demi tugas sebagai agen imperialis?

Dalam “Conversion of European Intellectuals to Islam: The Case of Christiaan Snouck Hurgronje alias ʿAbdal-Ghaffār”, dimuat Muslims in Interwar Europe suntingan Bekim Agai dkk, sejarawan orientalis Pieter Sjoerd van Koningsveld berpendapat Snouck menggunakan Islam “hanya untuk sementara” sebagai convenient instrument (sarana mudah) untuk menjalankan tugasnya. Pendapat ini terutama didasarkan atas ratusan korespondensi Snouck dengan rekan-rekan dan narasumbernya.

Snouck sendiri tak pernah mengungkap lubuk hatinya. Dalam percakapan dengan karibnya, Cornelis van Vollenhoven, Snouck hanya berkata “ik ben klaar” (diriku telah tuntas) dengan Kristen (h. 301).

Soal akidah memang sepenuhnya ranah batin pribadi. Seperti kata ungkapan: “hanya Tuhan yang tahu”.

Islam, Snouck-Hurgronje
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK