top of page

Ketika Orang Sunda Mulai Berhaji

Upaya orang-orang Sunda memenuhi syarat rukun Islam yang kelima sejak ratusan tahun yang lalu.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Jemaah haji asal Cianjur pada abad ke-19. (KITLV).

1 Nov 2020
3 menit membaca

SUATU hari di awal tahun 1700-an. Bupati Cianjur Aria Wiratanu II (1691–1707) merasa pusing dengan prilaku sang adik yang bernama Raden Prawatasari. Bagi pejabat yang mengabdi kepada VOC itu, sikap keras Prawata terhadap orang-orang Belanda membuatnya ada dalam posisi dilematis. Supaya sang adik lebih “dewasa” dan berpikir dingin, maka Aria Wiratanu II memberangkatkan Prawatasari untuk pergi berhaji ke Makkah.


“Namun boro-boro menjadi lebih tenang, sepulang dari Makkah, Haji Prawatasari malah semakin keras sikapnya terhadap kompeni dan bahkan melancarkan perlawanan bersenjata yang sulit dikendalikan,” tutur sejarawan Cianjur, Luki Muharam.


Jika cerita di atas memang benar, itu membuktikan Bupati Aria Wiratanu II memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap VOC. Menurut sejarawan Henri  Chambert-Loir, sejak akhir 1600-an, VOC sangat selektif memberikan izin kepada orang-orang muslim di Nusantara untuk pergi berhaji. Sebabnya: mereka khawatir orang-orang Nusantara terpengaruh ajaran perang sabil selama di tanah Arab tersebut.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page