Kemenangan dan Kegagalan di Aceh

Datang untuk membantu pemerintah menghadapi perlawanan Aceh. Berhasil di awal, tapi gagal di akhir.

13 February 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Kemenangan dan Kegagalan di Aceh
Snouck Hurgronje dan J.B. van Heutz. (gahetna.nl dan europeana.eu).

PELURU meriam dari kapal Citadel van Antwerpen menghantam benteng di tepi pantai Aceh. Tembakan itu berbalas. Saling balas tembakan meriam pada pagi 27 Maret 1873 itu menandai mula Perang Aceh.

Setelah lebih dari sepekan, ribuan tentara pemerintah Hindia Belanda akhirnya mendarat dan merangsek ke pedalaman. Tapi, di depan Masjid Raya, pertempuran kembali terjadi. Bahkan pemimpin pasukan, Jenderal Kohler, tewas. Van Daalen, wakil Kohler, lekas menarik mundur pasukan.   

Para pembesar militer berupaya menyusun ulang strategi penyerangan. Berkali-kali mereka menyerang Aceh, berkali-kali pula mereka gagal menaklukan Aceh.

Snouck Hurgronje berada di Mekkah ketika dia memperoleh kabar rentetan kegagalan pemerintah Hindia Belanda di Aceh pada 1889. Sumbernya suratkabar dan mulut para haji asal Hindia Belanda, termasuk dari Aceh.

Snouck bahkan mengetahui ada pengiriman senjata secara rahasia dari Kesultanan Utsmani di Istanbul, Turki, ke orang-orang Aceh yang menyamar jadi haji.

“Para pemberontak yang melarikan diri dan dicari oleh para pembesar Belanda, diketahui berada di Tanah Suci Islam,” tulis P. SJ. van Koningsveld dalam Snouck Hurgronje dan Islam.  

Menguliti Aceh

Perang Aceh sudah berjalan hampir 16 tahun. Tapi pemerintah Hindia Belanda belum mampu menaklukan Aceh. Snouck tertarik dengan kenyataan itu. Snouck mengajukan permohonan pergi ke Aceh. Permohonannya dikabulkan pembesar Belanda di Den Haag dan Batavia.

Snouck tiba di Aceh pada 16 Juli 1891 dan mengemban perintah khusus dari van Teijn, gubernur Aceh, untuk mengupas kedudukan para ulama. Tapi dia menghadapi kesulitan.

“Di Aceh dengan segera saya mengetahui bahwa data-data yang tersedia mengenai bahasa, negeri, dan rakyatnya masih belum memenuhi sama sekali apa yang diperlukan, oleh karena itu, saya memperluas penelaahan saya melampaui batas-batas tugas yang diberikan kepada saya,” tulis Snouck dalam Aceh di Mata Kolonialis, jilid 1.

Snouck mencari data tambahan dengan berkunjung ke seorang penyair Aceh bernama Dokarim. Dari Dokarim, dia mempelajari syair Aceh yang digunakan sebagai penguat iman orang Aceh untuk berperang melawan Belanda. Syair Dokarim berjudul Hikajat Prang Kompeuni.

Snouck juga tak segan masuk ke lingkungan pergaulan orang-orang Aceh terkemuka, ulama, dan uleebalang (bangsawan). Pengetahuannya tentang Islam dan bahasa Aceh membuat Snouck mudah diterima di kalangan orang Aceh. Jalan untuk menguak relung terdalam orang Aceh pun kian terbuka.

Snouck memperoleh banyak bahan hingga Februari 1892. Dia kemudian mengolah bahan-bahan itu di Batavia dan menghasilkan laporan empat jilid tebal tentang situasi politik, agama, dan kebudayaan orang Aceh untuk keperluan pemerintah Hindia Belanda.

Dua jilid laporan tebal itu terbit sebagai buku De Atjehers pada 1893 dan 1894. Dua jilid lainnya tidak diterbitkan pemerintah Hindia Belanda.

Dua jilid terakhir itu memuat dua bahasan. Pertama, kejadian-kejadian penting dalam Perang Aceh yang berhubungan dengan watak orang Aceh. Kedua, kesimpulan akhir dari penyelidikan Snouck terhadap orang Aceh dan rekomendasinya untuk pemerintah Hindia Belanda.

Rekomendasi-rekomendasi Snouck antara lain berupa strategi militer, pemilihan kawan sekutu yang tepat, dan pemahaman yang mumpuni tentang Islam.

Terkait strategi militer, Snouck mengatakan, “pemerintah Hindia Belanda harus mengubah strategi: dari lini bertahan yang kuat menjadi lebih aktif dan agresif melalui perang gerilya,” tulis Christina Carvalho dalam Christiaan Snouck Hurgronje: Biography and Perception, tesis pada Universiteit van Amsterdam.

Snouck menyarankan pemerintah bersekutu dengan kaum uleebalang. Alasannya, kaum uleebalang memiliki kesetiaan pada pemerintah Hindia Belanda.

Snouck melarang keras hubungan dengan kaum ulama dan anggota Kesultanan Aceh. Menurut Snouck, kaum ulama tak pernah menginginkan perdamaian, sedangkan Kesultanan Aceh tidak mempunyai pengaruh besar dalam perang.  

Snouck mengkritik keras segala pandangan yang salah mengenai Islam dan orang Aceh. Sebagian besar pandangan tersebut berasal dari penasihat perang sebelumnya.

Snouck bilang bahwa para penasehat sebelumnya luput melihat Islam sebagai sesuatu yang tertanam kuat dalam pikiran dan jiwa orang Aceh. Dan terhadap orang Aceh, mereka begitu membenci dan menyebut orang Aceh sebagai orang-orang bejat sehingga menutupi kenyataan sesungguhnya.

Rekomendasi Snouck tak lantas diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Deijkerhoff, gubernur Aceh pengganti van Teijn, dan sejumlah pejabat militer bahkan terang-terangan menyerang Snouck. Mereka menganggap Snouck sok tahu, hanya melampiaskan hobinya terhadap Islam, dan membesarkan-besarkan posisi ulama.

Pergantian pejabat daerah dan pemimpin militer di Aceh melapangkan jalan bagi penerapan rekomendasi Snouck.

J.B. van Heutz, pemimpin tentara Hindia Belanda di Aceh, menjalankan rekomendasi Snouck dan memperoleh hasil gemilang. Kemenangan demi kemenangan diraih. Sejengkal demi sejengkal wilayah Aceh takluk. Van Heutz pun naik pangkat jadi gubernur jenderal Hindia Belanda pada 1904.

Ketika pemerintah Hindia Belanda mulai mengendalikan Aceh, Snouck mengeluarkan rekomendasi baru berupa asosiasi budaya pada 1906. Konsep ini meletakkan posisi peradaban Barat-Kristen lebih tinggi ketimbang Islam. Tapi posisi ini bisa sejajar jika penganut Islam bersedia menerima cara pandang, nilai, dan gagasan peradaban Barat. Demikian menurut Snouck dalam Nederland en de Islam (Belanda dan Islam).

Pemerintah Hindia Belanda berupaya menerapkan rekomendasi ini dengan pembangunan sekolah dan merombak hubungan antara uleebalang, ulama, dan rakyat jelata. Tapi mereka gagal mencabut akar Islam. Rakyat Aceh tetap lebih dekat kepada ulama ketimbang uleebalang. Pandangan mereka tentang dunia masih dipengaruhi para ulama. Dan para ulama mendasari pandangan dunianya dari Islam.

Amirul Hadi dalam Aceh: Sejarah, Budaya, dan Tradisi menyebut rekomendasi Snouck dan penerapannya justru berbuntut petaka pada 1945. Kaum uleebalang menjadi sasaran kebencian orang Aceh. Revolusi sosial berdarah meletus di Aceh, menyingkirkan kaum uleebalang dan rekomendasi Snouck.

Snouck-Hurgronje
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
0 Suka
BOOKMARK