Dari Teologi ke Ilmu Semit

Snouck Hurgronje belajar teologi dari "modernis Leiden". Menerapkan pendekatan kritis-historis terhadap Alquran.

13 February 2019
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
Dari Teologi ke Ilmu Semit
Snouck Hurgronje dan Herman Bavinck. (Geheugenvannederland.nl/Wikimedia Commons).

LARUT malam di Leiden, Belanda. Lampu kamar asrama mahasiswa teologi Fakultas Sastra Universitas Leiden masih menyala. Ada dua orang di dalam kamar: Snouck Hurgronje dan Herman Bavinck. Mereka belum juga kelar mendaras halaman-halaman Alkitab tua.

Snouck menikmati kuliahnya di Leiden. Para pengampunya merupakan “modernis Leiden” yang saat itu mendominasi wacana baru tentang penafsiran Alkitab di Eropa. Antara lain Abraham Kuehnen, C.P. Tiele, L.W.E. Rauwenhoff, dan Julius Welhausen. Label “Modernis Leiden” disematkan lantaran pendekatan analitis kritis mereka terhadap kitab suci.

“Mereka menekankan aspek kesejarahan dari dokumen Pentateukh dan latar belakang para penulisnya yang masing-masing terpisah secara jelas oleh zaman, gaya, dan pandangan keagamaan mereka,” tulis Dietrich Jung dalam “Islam as a Problem: Dutch Religious Politics in the East Indies” termuat di Review of Religious Research, vol. 51, No 3, Maret 2010.

“Modernis Leiden” menolak unsur adikodrati dalam kitab suci. Segala macam dongeng dan mukjizat dibuang jauh-jauh. Pendekatan itu berdampak pada penurunan derajat Pentateukh (Taurat atau Alkitab Perjanjian Lama). Ia tak lagi dipandang sebagai teks suci dari Tuhan, melainkan setara dengan karya sastra buatan manusia.

“Modernis Leiden” memandang agama sebagai kesadaran akhlak. “Secara kodrati –sekalipun lemah– pasti ada dalam setiap dada manusia,” tulis P.SJ. van Koningsveld dalam Snouck Hurgronje dan Islam. Dan kesadaran ini memiliki tahapan tertentu, mengikuti teori evolusi Darwin: dari tahap terendah ke tahap tertinggi. Pandangan ini menyeret agama sekadar produk budaya. Ada peran manusia yang menentukan arah kemajuan agama.

Kendati para gurunya keras mengkritik agama dan kitab suci, Snouck tak melepaskan iman Kristennya. Dia hanya mengutarakan kebimbangannya meniti jalan sebagai pendeta.

Tertarik Islam

Snouck menyelesaikan ujian sarjana mudanya pada 1878. Tapi dia gagal memperoleh cum laude. Hal ini mengejutkan Bavinck, yang memperoleh gelar cum laude; mengingat Snouck melewati banyak malam dengan diskusi dan belajar dengannya.

Selepas ujian sarjana muda itu, minat kajian Snouck pada teologi berubah.

“Dia segera kehilangan minat dan beralih mempelajari bahasa Arab,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara.

Apa sebab? Laffan dan Koningsveld melewatkan penjelasan mengenai perubahan itu. Perubahan ini sendiri menandai langkah awal Snouck sebagai orientalis.

Koningsveld menerangkan ketertarikan Snouck pada Islam telah muncul sejak masa remaja. Ketertarikan Snouck masuk melalui kakek buyutnya, seorang penulis buku tentang penganut agama Islam.

Snouck membaca buku itu dan pandangan awalnya tentang Islam mulai terbentuk. Buku itu memuat pesan bahwa penganut Islam harus dihadapi dengan perlakuan baik dan firman Kristen supaya anggapan lancung mereka terhadap Kristen bisa dilumpuhkan.

Sementara Taufik Abdullah, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengemukakan analisis struktural perpindahan minat Snouck. Dalam kata pengantarnya pada buku Islam di Hindia Belanda karya Snouck, Taufik menyebut kecenderungan para orientalis masa itu yang juga sedang mengalami perubahan minat.

“Dari keinginan apologetik dan pembuktian tentang kebenaran Injil ke arah perhatian agama-agama lain, demi misi peradaban, dan di saat ide-ide Pencerahan mulai menyusup ke dalam disiplin-disiplin ilmu pengetahuan,” tulis Taufik.

Tradisi Arab Lama

Snouck berhasil menyelesaikan het Mekkaansche Feest, disertasinya di bidang ilmu bahasa dan sastra semit pada 1880 di bawah bimbingan M.J. de Goeje. Het Mekkaansche Feest mengulas ritus ibadah haji orang Islam ke Mekkah. Snouck menerapkan metode kritis-historis terhadap Alquran, sebagaimana guru-gurunya melakukan hal tersebut pada Pentateukh.

“Di dalamnya Alquran dianalisis sebagai buatan manusia semata-mata, yang sepenuhnya berada di dalam tradisi itu,” ungkap Koningsveld.

Snouck menempatkan konteks lebih dulu ketimbang penafsiran literal atas teks. “Snouck memiliki ketidaksukaan yang kuat terhadap kencedekiawanan legalistik yang memprioritaskan teks atas konteks,” tulis Laffan.

Berkat pendekatan semacam itu, Snouck sampai pada kesimpulan bahwa haji merupakan kelanjutan tradisi Arab lama dari zaman Nabi Ibrahim. Pendapat ini bertentangan dari pandangan umum para orientalis ketika itu yang menyebut haji merupakan pengaruh dari ajaran Kristen dan Yahudi yang dilanjutkan oleh Nabi Muhammad.

Kesimpulan Snouck membawa babak baru pendekatan orientalis terhadap Islam.

Snouck-Hurgronje
  • BAGIKAN
  • line
  • bbm
1 Suka
BOOKMARK