Pilih Bahasa: Indonesia
Bunda Teresa (1910-1997) dipilih Didik Nini Thowok

Peka Terhadap Sesama

Di balik sosoknya sebagai misionaris, Bunda Teresa adalah tokoh pejuang kemanusiaan. Jiwa spiritualnya membuat dia lebih peka terhadap sesama.
 
Didik Nini Thowok.
Foto
Historia
pengunjung
793

Aksi panggungnya sering mengundang tawa penonton. Didik Hadiprayitno atau yang memiliki nama panggung Didik Nini Thowok terkenal karena keunikannya memadukan tarian klasik, rakyat, kontemporer, sekaligus dengan komedi.

Pada pertengahan 1971, pria yang lahir 61 tahun lalu di Temanggung itu menciptakan koreografi tari pertamanya yang diberinya judul “Tari Persembahan”. Adapun hingga kini maestro tari ini identik dengan Tarian Dwi Muka yang ia ciptakan pada tahun 1970-an.

Nama Nini Thowok sebenarnya didapat setelah Didik membantu seniornya di ASTI. Ia ikut dalam pementasan fragmen tari yang berjudul Nini Thowok bersama Sunaryo. Ini lah debut pentas tari pertamanya yang membuat namanya kemudian meroket di lingkungan kampus. Merasa lebih menguasai tarian putri, Didik pun kemudian selalu memilih karakter perempuan dalam setiap pementasannya.

Dalam perjalanan tarinya, Didik tak berhenti belajar. Priya kemayu itu telah berguru pada puluhan maestro baik dalam maupun luar negeri. Meski kini sepak terjangnya sudah dikenal dunia, Didik mengaku tak ingin menjadi sombong. Ia berusaha tetap rendah hati dan berlaku tulus kepada siapapun, meski ketulusannya sering dimanfaatkan dengan buruk oleh orang lain. Laku ini ia akui banyak terinspirasi dari apa yang dicontohkan oleh Bunda Teresa.

Bunda Teresa atau yang lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu lahir di Üskub, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910. Selain dikenal sebagai tokoh misionaris, Teresa adalah seseorang yang dalam hidupnya berkutat melayani masyarakat miskin di India. Tokoh ini dikenal sebagai tokoh kemanusiaan yang pernah dianugrahi nobel di bidang perdamaian pada 17 Oktober 1979. Atas jasanya pula, Teresa menerima Penghargaan Templeton pada 1973 dan penghargaan tertinggi warga sipil India, Bharat Ratna pada 1980. Mengenai tokoh dunia itu, Didik membagi ceritanya kepada Historia.

Mengapa memilih Bunda Teresa?

Beliau hidup untuk orang lain, mengabdi untuk orang lain. Bunda Teresa membantu orang miskin sampai harus membuatnya berkeliling di lingkungan kumuh.

Apa yang paling Anda ingat dari Bunda Teresa?

Kata bijak Bunda Teresa ya. Saya ingat ada perkataannya yang begini: “Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu, bagaimanapun jujur dan terbuka lah”. Kemudian, “Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati. Bagaimanapun jadilah sukses”.

Apa perkataan Bunda Teresa itu mempengaruhi keseharian Anda?

Oh jelas. Saya sendiri berusaha memahami kata-kata bijak beliau. Meniru ya. Ada banyak nasihat yang bisa dilakukan dalam hidup.

Apa kata-kata Bunda Teresa ini sesuai juga dengan pengalaman Anda pribadi?

Iya, itu saya alami. Saya sering ditipu, tapi saya nggak boleh berubah. Kalau jadi orang jujur ya sudah jujur saja. Dia menipu saya, ya saya yakin dia menanam karma jelek untuk dirinya sendiri. Lalu kata-kata “kalau kita sukses kita akan dapat beberapa teman palsu”, itu juga saya alami. Beberapa orang jadi tiba-tiba mau dekat saya karena saya sukses. Tapi kita kan harus tetap berusaha untuk sukses.

Bunda Teresa kan juga seorang misionaris, apa pengabdiannya pada masyarakat bawah ini juga sebagian dari misinya?

Kalau saya bandingkan dengan Orang Jawa zaman dulu dengan Bunda Teresa ini mirip. Orang Jawa dulu juga punya ajaran untuk selalu meningkatkan sisi spiritualnya. Nah Bunda Teresa ini juga selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, orang yang selalu mendekatkan diri dengan Tuhannya akan menjadi lebih peka terhadap sesama. Kebaikan itu kan di mana-mana sama. Kita tulus ya tulus, di mana-mana wujud ketulusannya akan sama. Di barat atau di Indonesia itu sama saja. Jadi kalau menurut saya, mereka itu berbuat itu tulus tanpa tendensi apapun. Beliau layak menjadi sosok yang dicontoh.

Dari sisi itu, apa Anda juga mencontohnya?

Saya juga melakukan tirakat. Ada ritualnya. Misalnya caranya dengan rajin berpuasa. Ini sudah biasa dilakukan juga sebagai seniman. Laku ini selain untuk mempertebal spiritual kan juga untuk kehidupan. Itu kemudian nyambung dengan profesi saya sebagai penari. Dampaknya, dalam kehidupan sehari-hari ini sebagai pembentukan karakter. Contoh manfaatnya, saya kan punya karyawan banyak, dengan laku ini saya jadi lebih peka. Saya bisa memahami sifat karyawan saya yang beraneka macam itu. Kalau orang sekarang kan malah nantang tauran, berkelahi. Itu karena tidak peka perasaannya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Terpopuler
1
HOS Tjokroaminoto (1882-1934) dipilih Maia Estianty | Kalau Ditindas Ya Melawan
2
Bob Marley (1945-1981) dipilih Ras Muhamad | Menebar Damai Lewat Reggae
3
Sukarno (1901-1970) dipilih Budiman Sudjatmiko | Belajar Berontak dari Bung Karno
4
Sukarno (1901-1970) dipilih Mieke Wijaya | Mengagumi Jiwa Seni Sukarno
5
Tjoet Nyak Dhien (1848-1908) dipilih Christine Hakim | Tak Mau Berkompromi
6
RA Kartini (1879-1904) dipilih Grace Natalie | Mencatat Gagasan Perlawanan
7
Gus Dur (1940-2009) dipilih Darius Sinathrya | Gus Dur dan Keberagaman
8
Mahatma Gandhi (1869-1948) dipilih Olga Lydia | Damai Sebagai Jalan Keluar
9
Usmar Ismail (1921-1971) dipilih Slamet Rahardjo Djarot | Sinema untuk Bangsa
10
Mohammad Hatta (1902-1980) dipilih Salman Aristo | Berpikir Lurus dan Jernih
Didik Nini Thowok.
Foto
Didik Nini Thowok.
Foto