Pilih Bahasa: Indonesia
Mohammad Hatta (1902-1980) dipilih Salman Aristo

Berpikir Lurus dan Jernih

 
Salman Aristo.
Foto
Historia
pengunjung
1.5k

Bagi penggemar film nasional, nama Salman Aristio (40 tahun) pasti tak asing. Dia pernah menjadi penulis skenario, sutradara, produser, atau ketiganya sekaligus.

Salman mulai menulis naskah skenario pada 1999. Namun film pertamanya sebagai penulis skenario adalah Brownies (2005). Film ini mengantarkannya masuk nominasi penulis naskah terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2005. Sejak itu, dia dipercaya menggarap naskah skenario film yang menjadi box office. Sebut saja Alexandria (2007), Ayat-Ayat Cinta (2007), Laskar Pelangi (2008), Garuda di Dadaku (2009), Sang Penari (2011).

Salman menjadi co-produser dalam film horor Jelangkung 3 (2007). Debutnya sebagai produser adalah film Queen Bee (2009). Dia lalu menjajal bangku sutradara, sekaligus sebagai penulis skenario dan produser, saat menggarap film Jakarta Maghrib (2010). Pada 2012, dia kembali menjadi sutradara untuk film Jakarta Hati.

Dalam kehidupannya sehari-hari maupun kariernya, Salman bilang amat terpengaruh oleh sosok Mohammad Hatta, mantan wakil presiden Indonesia pertama. Kepada Historia, dia bercerita mengenai kekagumannya pada Hatta, khususnya dalam membentuk logika berpikirnya.

Apa yang membuat Anda mengagumi Hatta?

Saya mengaguminya sebagai sosok pemikir, kejernihan pikirannya, terlepas dari sikap politiknya. Pengaruhnya sangat besar. Dia mengajarkan bagaimana memiliki pola pikir yang lurus.

Bagaimana awalnya bisa mengenal Hatta?

Almarhum bapak gue Hattais. Di rumah lebih banyak buku Bung Hatta dibanding Bung Karno. Lalu pola didikan bapak gue, yang dari kecil harus bisa menjelaskan apapun. Membuat logika pikiran itu runut. Misalnya, kenapa gue minta gitar. Itu nggak akan dapet kalau nggak bisa menjelaskan why-nya. Mungkin terpola begitu. Akhirnya lebih bisa nyambung dengan pemikiran Hatta, dengan tulisan-tulisannya.

Hatta memberi pengaruh ketika Anda menulis?

Sangat. Gue pembaca sejarah. Ada banyak tokoh yang di titik ini memberi inspirasi guesoal A, soal B. Tapi, itu tadi, Hatta meletakkan dasar logika berpikir gue. Membuat guemeluruskan logika berpikir. Dalam menulis selalu begitu. Premisnya apa, duduk permasalahannya gimana. Gue harus punya logika berpikir yang beres dulu, bagaimana melihat suatu permasalahan dengan jelas, dan gue harus tahu dulu apa yang mau ditulis. Ini lagi mau apa, mau ke mana arahnya cerita.

Apa yang paling Anda ingat dari Hatta?

Waktu kelas 1 SMP, gue baca buku Hatta dari koleksi bokap. Judulnya Pengantar ke Djalan Ilmu dan Pengetahuan. Karya yang luar biasa. Sejak itu gue jadi pengagum berat Bung Hatta. Buku itu tipis. Isinya tentang logika dasar yang mengubah pola pikir gue. Gue bingung kenapa buku itu nggak pernah masuk kurikulum. Bukunya mudah dibaca, mudah dimengerti.

Apa yang bisa Anda pelajari dari buku itu?

Hatta mampu menyampaikan gagasannya dengan cara simpel. Gue baca bukunya sangat mudah, dibanding baca buku Tan Malaka, misalnya, yang waktu SMP pusing dan baru ngerti pas kuliah apa maksudnya. Bung Hatta hanya sekali lewat. Namun bukan berarti tidak berbobot. Dia berbicara dengan jelas dan jernih, mudah dimengerti, tetapi bukan kacangan dan tanpa pesan. Secara pribadi gue juga berusaha melakukan hal sama dalam menulis skenario. Bagaimana pesannya mudah disampaikan, tetapi bukan kacangan.

Bagaimana cara Anda mengingat idola Anda itu?

Saya bikin skenarionya, tentang Hatta, terlepas nanti difilmkan atau nggak.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Terpopuler
1
HOS Tjokroaminoto (1882-1934) dipilih Maia Estianty | Kalau Ditindas Ya Melawan
2
Bob Marley (1945-1981) dipilih Ras Muhamad | Menebar Damai Lewat Reggae
3
Sukarno (1901-1970) dipilih Budiman Sudjatmiko | Belajar Berontak dari Bung Karno
4
Sukarno (1901-1970) dipilih Mieke Wijaya | Mengagumi Jiwa Seni Sukarno
5
Tjoet Nyak Dhien (1848-1908) dipilih Christine Hakim | Tak Mau Berkompromi
6
RA Kartini (1879-1904) dipilih Grace Natalie | Mencatat Gagasan Perlawanan
7
Gus Dur (1940-2009) dipilih Darius Sinathrya | Gus Dur dan Keberagaman
8
Mahatma Gandhi (1869-1948) dipilih Olga Lydia | Damai Sebagai Jalan Keluar
9
Usmar Ismail (1921-1971) dipilih Slamet Rahardjo Djarot | Sinema untuk Bangsa
10
Mohammad Hatta (1902-1980) dipilih Salman Aristo | Berpikir Lurus dan Jernih
Salman Aristo.
Foto
Salman Aristo.
Foto