Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Tragedi Bunuh Diri Massal

Bunuh diri massal pernah dianggap jalan pemurnian. Sebagian lain justru menganggapnya sebagai gangguan mental.
 
Branch Davidian dipimpin David Koresh sejak 1987 melakukan bunuh diri massal pada akhir Februari 1993.
Foto
Historia
pengunjung
9.4k

Keheningan sebuah desa di Texas, Amerika Serikat, pecah pada akhir Februari 1993. Baku tembak antara polisi dan anggota Branch Davidian, sekte sempalan Gereja Advent hari ketujuh, meletus. Sekte ini dipimpin David Koresh sejak 1987. Selama 6 tahun, dia mengumpulkan pengikut dan menceramahi mereka tentang kekacauan besar di dunia. Bersiap menghadapi kekacauan itu, Koresh membekali anggotanya dengan senjata dan latihan militer.

Lantaran aktivitas itu, Biro Alkohol, Tembakau, Senjataapi (ATF) menyerbu kompleks Branch Davidian setelah menyidiknya selama 9 bulan. Empat tank dan ratusan polisi dikerahkan. Penyerbuan dimulai pukul 10.00.

Koresh tak gentar. Bersama puluhan pengikutnya, dia melawan. Dilengkapi senjata otomatis dan amunisi lebih dari 4 ton, mereka menewaskan 4 polisi dan melukai 14 petugas lainnya.

Baku tembak selesai pukul 18.00 dan gencatan senjata dimulai. Koresh mempersilakan wartawan CNN masuk ke kompleks. Dia memberitahu jumlah korban dan kronologis baku tembak. Koresh mengatakan salah seorang pemimpin sekte tewas. Tapi dia menampik pengikutnya yang memulai baku tembak. “Mereka (orang-orang di dalam kompleks) ketakutan. Anda tak bisa menyalahkan mereka. Mereka hanya menjalankan tugas,” kata Koresh kepada CNN, dikutip Kompas, 2 Maret 1993.

Keesokan hari, ATF meminta anggota sekte itu menyerah. Seruan itu tak ditanggapi. Koresh bahkan menantang petugas. Dia mengaku punya senjata penghancur artileri berat. Petugas pun waspada. Negosiasi ditawarkan. Koresh bersedia menyerah asalkan televisi dan radio menyiarkan khotbahnya. Permintaan itu dituruti. Tapi Koresh ingkar janji. Pengepungan terus berlanjut selama 51 hari. Pada hari terakhir, tragedi kemanusiaan terjadi.

Tak bisa lagi menahan gempuran petugas, Koresh mengambil jalan ekstrem: mengajak pengikutnya bunuh diri. Ketimbang menyerah kepada petugas, Koresh meminta pengikutnya lebih takut kepada perintah Tuhan. Menurutnya, para polisi berniat jahat terhadap pengikut sekte.

Koresh menyebut petugas dan pemerintah AS sebagai setan. Menyerah berarti takluk pada setan. Sementara menempuh jalan kematian dianggap pilihan mulia dan perintah Tuhan. Mereka pun membakar diri. Sebagian lain, termasuk Koresh, menembak kepalanya sendiri.

Amerika gempar. Bunuh diri massal bermotif kultus sektarian kembali terjadi. Tercatat, 86 orang tewas, termasuk 17 anak berusia dibawah 10 tahun. Publik AS prihatin. Diskusi tentang tindakan bunuh diri pun mengemuka lagi: legal atau ilegal; benar atau salah; baik atau buruk.

Sejarah mencatat bunuh diri massal telah merentang dalam pelbagai zaman dan tempat. Motifnya beragam : dari keyakinan eskatologis hingga perlawanan politik.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Branch Davidian dipimpin David Koresh sejak 1987 melakukan bunuh diri massal pada akhir Februari 1993.
Foto
Branch Davidian dipimpin David Koresh sejak 1987 melakukan bunuh diri massal pada akhir Februari 1993.
Foto