Pilih Bahasa: Indonesia
Pandemi Influenza (2)

Ramuan dan Roh Jahat

Masyarakat lokal merespon pandemi influenza lewat arak-arakan, sesajen, dan ramuan jamu tradisional.
Historia
Historia
pengunjung
7.9k

PADA 1918-1919, kegalauan mengatasi pandemi influenza, termasuk pengobatannya, mendorong pemerintah dan masyarakat bereaksi.

Priyanto Wibowo dkk dalam Yang Terlupakan, Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda menulis, pemerintah Hindia Belanda menganjurkan pil kina sebagai alternatif obat influenza. Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke Gezondheit Dienst) sendiri terus melakukan penelitian untuk menemukan obat influenza. Sebuah laboratorium kedokteran di Batavia sekitar 1919 menemukan ramuan tablet yang diyakini dapat menyembuhkan influenza dengan komposisi: 0.250 aspirin, 0.150 pulvis doveri, dan 0.100 camphora. Di tahap awal penemuan, 100 ribu butir tablet diproduksi dan didistribusi kepada masyarakat Hindia Belanda. Tak ada catatan mengenai efektivitas tablet itu dalam penyembuhan influenza.

Tapi masyarakat punya cara sendiri untuk menghadapi pandemi dengan minum ramuan obat tradisional termasuk jamu. Dua publikasi Jawa kuno, Serat Centhini (1814) dan Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi (1858), memuat berbagai jenis ramuan jamu dan kebiasaan masyarakat Jawa minum jamu dalam menjaga dan memulihkan kesehatan. Priyanto Wibowo dkk menyebut masyarakat Rembang dan Blora mengatasi influenza dengan mengkonsumsi ramuan temulawak dan jamu cabe lempuyang.

Ritual kepercayaan juga merupakan respon lokal terhadap pandemi influenza. Di Kudus, Jawa Tengah, pandemi mendorong sekelompok pedagang keturunan Tionghoa untuk berembug mencari jalan keluar. Seorang pedagang menyarankan mengadakan selamatan dengan arak-arakan toapekong agar semua penduduk merasakan manfaatnya.

Tapi dengan membikin slamatan, djika permintaan ini dikaboelken oleh Toehan, penjakit itoe sigra berlaloe dan saantero penduduk di Koedoes, lelaki dan prampoean, Selam, Tjina atawa Olanda, nanti beroleh berkat selamat,” tulis Tan Boen Kim dalam Peroesoehan Koedoes, yang terbit pada 1920.

Arak-arakan toapekong keliling kota Kudus dilakukan empat kali pada Oktober 1918. Lengkap dengan barongsai, bendera, iringan tabuhan, dan bunyi-bunyian serta doa-doa. Mereka percaya arak-arakan dapat mengusir setan influenza keluar dari Kudus. Sayangnya, sebuah insiden dalam arak-arakan yang terakhir pada 30 Oktober 1918 kemudian menjadi pemicu kerusuhan terhadap kelompok Tionghoa di Kudus.

Pandemi influenza yang melanda Mojowarno, Jawa Timur, juga mendorong sejumlah anggota masyarakat melakukan ritual kepercayaan. C.W. Nortier dalam “De spaansche griep te Modjowarno” yang dimuat Maandblad der Samenwerkende Zending-Corporaties, tahun 1919, menulis, mereka melakukan ritual dengan sesajen bunga dan kurban kerbau di makam Kyai Abisai dan Kyai Emos –dua tokoh bumiputera perintis agama Kristen di Mojowarno. Mereka berharap memperoleh pengampunan dan roh jahat yang membawa pandemi influenza keluar dari Mojowarno. Walaupun saat itu, menurut dokumentasi Nortier, Nederlandsch Zending Genootschap (NZG) juga menyediakan fasilitas kesehatan dan informasi tentang influenza melalui rumah sakit Zending Mojowarno dengan melibatkan dokter dan petugas kesehatan, termasuk para pendeta.

Pengobatan tradisional dan ritual kepercayaan mungkin bukan jawaban di tengah bahaya pandemi yang memerlukan upaya kongkret dalam penelitian dan perawatan medis. Namun keduanya menjawab kegamangan masing-masing kelompok dalam menghadapi situasi kemanusiaan yang genting seperti pandemi. Juga menjadi kekuatan identitas kelompok dalam berinteraksi dengan konteks wilayah koloni.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia