Pilih Bahasa: Indonesia
Beri-beri (2)

Nutrisi yang Hilang

Penelitian substansi kulit bulir beras dan penemuan vitamin mengakhiri ancaman beri-beri.
Historia
Historia
pengunjung
4.7k

KETIKA diangkat sebagai direktur Geneeskundig Laboratorium (laboratorium medis) di Batavia pada 1888, Christiaan Eijkman, kala itu berusia 30 tahun, mendapat dukungan penuh dari Profesor Cornelis Pekelhering yang telah menyelesaikan penelitian beri-beri di Aceh dan Batavia setahun sebelumnya. Pekelhering secara khusus meminta pemerintah Belanda agar Eijkman melanjutkan penelitian beri-beri di Hindia Belanda. Sebuah fasilitas laboratorium sederhana berlokasi di samping rumah sakit militer Belanda di Weltevreden (kini Menteng) menjadi tempat Eijkman bekerja.

“Ruang utama laboratorium berukuran lima kali sepuluh meter, dengan sebuah ruang tambahan untuk asistennya, Dr Van Eecke, yang melakukan banyak riset mikroskopis. Lahan sempit di sekelilingnya dipakai untuk ruang gelap dan menaruh kandang-kandang ayam. Di beranda laboratorium terdapat meja dan rak administrasi sekaligus ruang tunggu rumah sakit. Di sini tersedia kotak es dan sofa tempat Eijkman menerima tamu-tamunya, karena dalam laboratorium tak cukup ruang untuk mereka duduk,” tulis Jansen B.C.P., seorang peneliti Belanda yang kelak melanjutkan penelitian beri-beri di laboratorium yang sama, dalam Het leveswerk van Christiaan Eijkman, 1858-1930.

Pada pertengahan 1889, sejumlah ayam di rumah sakit tiba-tiba mengalami gejala polyneuritis: kestabilan langkah melemah, diikuti kelumpuhan dan kemudian mati. Eijkman melihat kesamaan gejala ini dengan beri-beri dan segera melakukan penelitian. Kultur darah ayam yang sakit disuntikan pada sekelompok ayam yang sehat. Eijkman akan membandingkan reaksinya dengan kelompok ayam yang tak disuntik. Awalnya kedua kelompok dimasukkan dalam satu kandang besar. Tak lama keduanya menunjukkan gejala polyneuritis lalu mati.

Dalam percobaan berikutnya, Eijkman membagi kelompok ayam-ayam ujicoba dalam dua kandang terpisah. Namun hasilnya tetap sama. Untuk lebih memperkuat kesimpulan bahwa sejenis infeksi sebagai penyebab penularan, Eijkman melakukan ujicoba yang sama namun kali ini memisahkan kedua kandang dalam jarak yang lebih jauh. Di luar perkiraan, “infeksi” sama sekali tak terjadi. Kedua kelompok ayam malah tetap sehat. Ujicoba pun tak dilanjutkan.

Kebuntuan ujicoba ini tak menghentikan kerja keras Eijkman, yang mulai meneliti jenis makanan yang digunakan sebagai pakan. Dia mendapati bahwa kelompok ayam ujicobanya makan nasi sisa rumah sakit sepanjang 17 Juni hingga 21 November 1889. Periode ini bersamaan dengan masa dua ujicoba penelitiannya, yang membuat ayam-ayam mengalami polyneuritis dan mati. Setelah itu, terjadi pergantian tukang masak di rumah sakit. Tukang masak baru memberikan beras merah kasar untuk pakan ayam. Pergantian tukang masak pun bertepatan dengan berakhirnya gejala polyneuritis pada ayam-ayam dalam ujicoba Eijkman ketiga.

Fakta ini mendorong Eijkman meneliti lebih lanjut kaitan antara beras putih halus dan beras merah kasar serta beri-beri pada ayam. Penelitian ini berlangsung selama lima tahun hingga Eijkman, yang kondisinya kembali menurun akibat malaria, kembali ke Belanda pada 1896.

Sebelum Eijkman kembali ke Belanda, seorang kepala inspektur penjara untuk wilayah Jawa sekaligus dokter Belanda bernama Adolphe Vorderman mengajak Eijkman meneliti kasus beri-beri yang dialami para napi. Meliputi 101 penjara dan sekitar 300.000 napi, penelitian ini mengobservasi kasus beri-beri, jenis beras yang dikonsumsi para napi, serta sampel beras tiap penjara (yang dikirim dan dianalisis di laboratorium Eijkman di Belanda) selama lima bulan. Hasil observasi memperlihatkan penjara yang mengkonsumsi beras kasar atau campur (beras kasar dan putih/halus) memiliki kasus beri-beri yang lebih sedikit.

Hasil penelitian dari penjara memperkuat kesimpulan awal Eijkman bahwa beri-beri, baik pada binatang maupun manusia, dapat dicegah melalui substansi penyeimbang yang terdapat pada kulit bulir beras kasar (tak digiling).

Kesimpulan Eijkman sekaligus membantah teori dan pendapat umum yang menganggap beri-beri akibat infeksi bakteri. Akibatnya, temuan Eijkman jadi sasaran kritik beberapa peneliti. Dalam Beriberi, White Rice and Vitamin B: A Disease, A Cause and A Cure, Kenneth J Carpenter menulis sebuah kritik yang mengatakan, “Jika Eijkman membutuhkan enam tahun untuk menyelesaikan penelitiannya, hal ini adalah sangat tidak pantas untuk sebuah karya literatur seorang direktur lembaga sains.”

Seorang peneliti lainnya bernama Van Dieren, yang meyakini kandungan racun pada nasi yang melemahkan fungsi syaraf sebagai penyebab beri-beri, juga mengkritik argumentasi Eijkman. Ketika Eijkman balik mengomentari kelemahan teori Van Dieren dan kenyataan bahwa dia tak pernah bekerja di Hindia Belanda, Van Dieren menyerang balik dengan berujar, “…pendapat para ‘kolonialis’ tak pantas dipertimbangkan karena mereka telah makan nasi dan mengalami kerusakan otak,” seperti dikutip Carpenter dari Van Der Burg dalam Le b rib ri et l’alimentation avec du riz (1898).

Kepulangan Eijkman ke Belanda tak memutus keberlangsungan penelitian beri-beri di Hindia Belanda. Pengganti Eijkman, Gerrit Grijns, melanjutkan ujicoba dengan menggunakan kacang hijau sebagai tambahan asupan makanan pada ayam sepanjang 1896-1901. Kacang hijau, seperti pada beras merah kasar, terbukti menyembuhkan polyneuritis pada ayam. Penelitian Grijns kemudian diteruskan seorang dokter angkatan laut di Sabang bernama Roelfsema, yang memberikan kacang hijau untuk pasien beri-beri. Sebagian besar pasiennya pun sembuh.

Keberhasilan penelitian beri-beri dengan kacang hijau, walau berhasil, tak terlalu berpengaruh bagi populasi Asia yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Beras putih halus sebagai penyebab beri-beri diakui secara internasional kali pertama dalam konferensi Asosiasi Obat Tropis se-Asia Timur pada 1910 di Manila. Pernyataan Asosiasi antara lain “…..sejumlah bukti memperkuat pandangan bahwa beri-beri memiliki keterkaitan erat dengan konsumsi beras putih halus secara terus-menerus sebagai makanan pokok...” serta menghimbau pemerintah setiap negara memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini.

Penelitian beri-beri pun beralih pada kandungan nutrisi kulit bulir beras.

Pemahaman nutrisi pada makanan berawal sejak abad ke-19. Ilmuwan Jerman Justus von Liebig pada 1846 menyatakan dalam Chemistry and Its Applications to Agriculture and Physiology bahwa jaringan sel hidup (termasuk bahan makanan) terdiri atas karbohidrat, lemak, dan protein. Pada 1901, ilmuwan biokimia Inggris Frederick Hopkins menemukan tryptophan sebagai salah satu asam amino esensial untuk menghasilkan (sintesis) protein di dalam tubuh. Penemuan Hopkins membuktikan, berbagai substansi penting untuk kesehatan hanya dapat diproduksi oleh tubuh melalui bahan makanan.

Dunia kesehatan kemudian mengenal substansi ini dengan terminologi vitamine pada 1912 lewat seorang ilmuwan biokimia kelahiran Polandia, Casimir Funk. Funk saat itu berada di London dan tengah meneliti nutrisi kulit bulir beras setelah membaca penelitian Eijkman. Dia menyebut substansi penting ini sebagai vitamine, singkatan dari vital dan amine (komponen nitrogen). Huruf “e” pada vitamine beberapa tahun kemudian dihilangkan, karena tak semua jenis substansi terdiri dari nitrogen yang mengandung amine.

Nutrisi kulit bulir beras menjadi fokus penelitian Jansen B.C.P dan W.F. Donath yang melanjutkan penelitian beri-beri di laboratorium Eijkman di Hindia Belanda sejak 1920-an. Eksperimen mereka pada 1926 berhasil mengekstrak nutrisi beras dalam bentuk kristal; sejumlah kecil ekstrak yang dicampur dalam beras putih halus mampu mencegah polyneuritis pada burung-burung ujicoba. Sampel ekstrak ini dikirim kepada Eijkman di Belanda, yang kemudian mengkonfirmasi kemampuan ekstrak untuk menyembuhkan polyneuritis pada unggas ujicoba.

Melalui sejumlah penelitian di berbagai negara, formulasi ekstrak ini kemudian menjadi vitamin B1 atau thiamin, yang diperlukan enzim tubuh untuk menghasilkan energi dari karbohidrat dalam proses metabolisme. Thiamin juga penting menjaga fungsi otot, jantung, dan sistem syaraf.

Sejak itu beri-beri bukan lagi sebuah misteri. Pengobatan serta pencegahannya sederhana, dengan menjaga keseimbangan asupan gizi, terutama vitamin B1. Penghargaan Nobel pada 1929 untuk bidang fisiologi dan medis diterima Christiaan Eijkman untuk dedikasinya dalam penelitian beri-beri. Penghargaan yang sama juga diterima Frederick Hopkins sebagai pelopor nutrisi.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia