Pilih Bahasa: Indonesia

Meneliti Anatomi

Perampokan makam, pembedahan jenazah, serta kolaborasi sains dan seni mengiringi perkembangan ilmu anatomi.
Historia
Historia
pengunjung
6k

VICTOR Frankenstein berambisi mengalahkan kematian untuk mengungkapkan sumber kehidupan. Namun ambisinya kelak melahirkan sesosok manusia mengerikan yang mengejarnya hingga ke ujung dunia dan akhir hayat.

Mary Shelley menulis novel Frankenstein setelah mengalami mimpi buruk di suatu malam pada 1816. Dalam mimpinya, dia melihat seorang ilmuwan –yang kemudian jadi tokoh Frankenstein– bereksperimen menyusun potongan dan organ tubuh manusia, ditemani lilin yang hampir meredup di ruangan. Shelley merasakan teror ketakutan yang bergejolak dalam diri sang ilmuwan, ketika onggokan tubuh hasil eksperimennya mulai bernafas dan bergerak.

“Untuk mempelajari asal-usul kehidupan, pertama-tama kita harus mengenal kematian. Aku telah mengetahui sains anatomi, namun semua itu tak memuaskan…” demikian Shelley menarasikan motivasi penelitianVictor Frankenstein. Frankenstein mulai mengumpulkan anggota dan organ tubuh manusia dari makam-makam maupun rumah-rumah penyimpan jenazah untuk memulai sebuah eksperimen.

Kegiatan Frankenstein mengumpulkan jenazah dan potongan tubuh manusia yang ditulis Shelley sejalan dengan latar belakang perkembangan ilmu anatomi dan penelitian medis di Inggris pada abad ke-18 dan 19. Bermula pada 1752, pemerintah Inggris menetapkan Murder Act yang mewajibkan jenazah para kriminal yang dihukum mati sebagai materi pembelajaran anatomi dan kepentingan penelitian.

Tim Marshall dalam Murdering to Dissect: Grave Robbing, Frankenstein and the Anatomy Literature menyebutkan perkembangan ilmu anatomi, ditambah keberadaan Royal College of Surgeons sejak 1801, meningkatkan kebutuhan akan jasad manusia untuk penelitian medis. Kebutuhan ini, menurut Marshall, membuat banyak ahli bedah menjalin hubungan dengan para perampok makam, sehingga menurunkan martabat profesi mereka di mata publik.

Tingginya kasus perampokan makam dan perdagangan jenazah kian meresahkan masyarakat hingga pemerintah Inggris akhirnya mensahkan Anatomy Act pada 1832, yang secara resmi melegalkan pembelian jenazah gelandangan dan orang-orang cacat mental untuk kepentingan penelitian medis. Anatomy Act 1832 mengatur, jika anggota keluarga mereka dalam jangka waktu tujuh hari sejak kematian tak mampu membeli peti mati dan membayar upacara pemakaman, maka jenazah mereka bisa diperjualbelikan kepada institusi medis.

Pemberlakuan Anatomy Act 1832 menjadi kontroversi; antara nilai religius serta hak asasi kaum yang terpinggirkan dan kepentingan penelitian medis demi kesehatan masyarakat.

Jenazah manusia, pada mulanya, bukan satu-satunya pilihan materi penelitian anatomi. Walau anatome dalam bahasa Yunani berarti “untuk membuka/memotong berulang kali”, sejumlah pelopor disiplin ilmu anatomi pada masa itu tak selalu melakukan pembedahan jenazah manusia. Penghormatan terhadap arwah dan nilai sosial, yang mementingkan ritual pemakaman, menjadi faktor penyebabnya.

Salah satu referensi anatomi manusia tertua (tanpa pembedahan) ditulis oleh Hippocrates (460-370 SM) yang mendokumentasikan pengamatannya akan susunan tulang, organ, dan jaringan anggota tubuh manusia. Hippocrates mengamati tengkorak, pasien, dan orang sehat dalam menyimpulkan pengamatannya tentang anatomi manusia.

Binatang sebagai objek penelitian anatomi dilakukan pada masa Aristoteles (384-322 SM). Aristoteles menggunakan temuan dan analisisnya terhadap struktur dan jaringan tubuh binatang sebagai perbandingan terhadap anatomi tubuh manusia. Karenanya, penelitian anatomi komparatif pun mulai dikenal secara luas.

Dokumentasi pembedahan jenazah manusia untuk penelitian anatomi kali pertama dilakukan oleh Herophilus (335-280 SM). Sebagai ahli bedah di Kota Alexandria, Herophilus berada di waktu yang “tepat” ketika pelarangan penggunaan jenazah manusia untuk penelitian dicabut, walau hanya sebentar.

Penggunaan jenazah manusia atau cadaver tak diteruskan oleh Claudius Galen, seorang filsuf sekaligus ahli medis (131-201 M). Larangan pembedahan jenazah membuat Galen menggunakan binatang seperti monyet, kambing, dan babi untuk penelitian anatomi. Kondisi ini menyebabkan banyak kesimpulan Galen mengenai tubuh manusia terbukti tak akurat di kemudian hari. Walau demikian, Galen berjasa dalam menanamkan pentingnya pemahaman struktur dan fungsi tubuh untuk memahami penyakit.

Perkembangan anatomi sebagai sebuah disiplin ilmu sempat redup setelah masa Galen –yang karya-karyanya dianggap sebagai fondasi utama ilmu kedokteran. Pembelajaran anatomi dengan pembedahan jenazah manusia kembali dimulai pada abad ke-13 dan 14, seiring kemunculan gerakan Renaissance di Eropa. Nilai tabu penggunaan jenazah manusia untuk penelitian pun memudar.

Selain itu, Renaissance memunculkan sekelompok seniman yang menunjukan minat besar dalam mengeksplorasi sains. Salah satunya seniman Italia, Leonardo Da Vinci, yang mempelajari anatomi dengan membedah cadaver. Da Vinci diperkirakan membedah 19 jenazah sepanjang tahun 1489-1519. Dia menjadi orang pertama yang menggambar anatomi manusia dalam berbagai dimensi untuk sejumlah organ, jaringan, pembuluh, otot, termasuk rahim dengan bayi di dalamnya.

Kolaborasi medis dan seni dalam mendokumentasikan anatomi manusia juga dilakukan oleh Andreas Vesalius, seorang mahasiswa kedokteran Belgia di Universitas Paris, Prancis, dan Jan Stephan Kalkar, seorang seniman yang bekerja dengan pelukis Italia, Titian.

Vesalius datang ke Paris untuk menuntut ilmu sebagai ahli bedah. Awalnya dia frustasi dengan keterbatasan fasilitas perlengkapan dan informasi anatomi di universitas. Untuk mengatasi kondisi ini, Vesalius mencoba sendiri untuk memetakan anatomi tubuh manusia. Dia mulai membuat sketsa dengan menggunakan jenazah para kriminal yang dia dapatkan dari lokasi tiang gantungan dan kuburan di sekitar Paris.

“Sketsa yang kubuat ternyata mendapat tanggapan baik dari para profesor medis dan pelajar lain, sehingga mereka memintaku membuat diagram arteri dan diagram saraf… aku tak ingin mengecewakan mereka,” tulis Vesalius dalam sebuah surat pada 1533, seperti dikutip The Emperor of All Maladies: A Biography of Cancer karya Siddharta Mukherjee.

Vesalius melengkapi sketsa dengan detail dan deskripsi arteri, pembuluh, nadi, saraf hingga otak, jaringan, dan organ tubuh. Kalkar mentransfer seluruh informasi Vesalius dalam bentuk ilustrasi anatomi yang menyeluruh. Hasil kolabori mereka, De Humani Corporis Fabrica, mulai dipublikasikan pada 1538. Hingga kini dokumen tersebut menjadi salah satu pilar pembelajaran anatomi manusia.

Beberapa panduan anatomi hingga abad ke-18 seperti Philip Verheyen dengan Corporis Humani Anatomia (1693) dan Johann Adam Kulmus dengan Anatomischen Tabellen (1722) mengikuti jejak Vesalius. Sambutan positif terhadap hasil karya Kulmus membuat Anatomischen Tabellen diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Dokumentasi anatomi Kulmus juga mendorong datangnya pengaruh pengetahuan medis Barat di Asia. Pada 1771, dua orang ilmuwan Jepang, Ryōtaku Maeno dan Genpaku Sugita, mengikuti pembedahan seorang kriminal perempuan sambil membaca salinan karya Kulmus dalam bahasa Belanda. Maeno dan Sugita terkesan dengan akurasi panduan anatomi Kulmus sehingga mereka memutuskan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang –Kaitai Shinso, yang terbit pada 1774.

Kaitai Shinsho, menurut Margaret Powell dan Masahira Anasaki dalam Health Care in Japan, menjadi sebuah langkah besar yang mengawali eksplorasi Jepang terhadap pengetahuan medis Barat. Sekitar 1.500 buku teks medis Barat, kebanyakan dalam bahasa Belanda, diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang setelah Kaitai Shinsho terbit.

“Fungsi kerja tubuh tak akan dipahami tanpa pengetahuan akan strukturnya,” Galen suatu ketika berkeyakinan. Perkembangan ilmu anatomi telah membuktikan keyakinan itu.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Historia
Historia