Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 4

Ketika Demam Roket Mewabah

Dimulai dari kegiatan mahasiswa di Yogyakarta dan Bandung, pemerintah Sukarno mengembangkan teknologi roket. Indonesia menjadi negara kedua setelah Jepang yang dapat membuat roket sendiri.
 
Roket Kartika I.
Historia
pengunjung
14.4k

Proyek S

Ketika proyek PRIMA sedang berjalan dan belum menunjukkan kemajuan berarti, Panitia Astronautika khawatir tak bisa memenuhi tenggat waktu IQSY 1964-1965. Usulan untuk mengimpor roket Kappa muncul kembali ke permukaan.

Presiden Sukarno memberikan persetujuan. Berdasarkan Keppres No 242/1963, Proyek S mendapat pembiayaan US$ 1 juta untuk pembelian sistem roket Kappa dari Jepang, US$ 2 juta untuk pembelian keperluan penelitian dan pengembangan roket sendiri, serta Rp 3 miliar untuk membuat pangkalan peluncuran roket. Pemerintah juga membentuk Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar Nasional (Lapan). Lapan kemudian jadi garda terdepan dalam mewadahi aktivitas peroketan di Indonesia.

Mendapat mandat dari presiden, Omar Dhani menunjuk Jacob Salatun sebagai project officer proyek ini. Timnya diambil dari ITB dan UGM. Pelaksanaannya difasilitasi Lapan.

Diputuskan untuk mengimpor 10 roket Kappa-8 dari Jepang untuk keperluan riset ilmiah. Sebelum roket datang, Lapan menentukan lokasi peluncuran. Dengan asistensi Hideo Itokawa, perancang roket tersebut, dibangunlah stasiun peluncuran di pantai Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat –kemudian dikenal dengan nama Pusat Antariksa Pameungpeuk.

“Apabila peluncuran roket itu berhasil, maka akan mempunyai arti sangat penting karena untuk pertama kalinya terjadi peluncuran roket menembus luar angkasa di daerah tropis,” ujar Nurtanio Pringgoadisuryo, direktur jenderal Lapan pertama, dikutip Kedaulatan Rakyat 20 Mei 1964.

Setelah semua fasilitas tersedia, tiga roket Kappa-8 pun meluncur ke angkasa; masing-masing pada 9, 11, dan 17 Agustus 1965. Peluncuran, yang dihadiri banyak pejabat penting, berlangsung sukses. Roket pertama bahkan berhasil mencapai ketinggian 364 km, jauh lebih tinggi dari jarak yang dapat ditempuh astronot-astronot dunia saat itu.

“Makna penting lainnya ialah berhasilnya diperoleh data ilmiah yang kemudian disumbangkan kepada program IQSY 1964-1965 sehingga sasaran proyek telah tercapai,” tulis Jacob Salatun.

Lapan menganalisis dan menyampaikannya dalam Simposium Space Science and Technology di Tokyo. Dari analisis Lapan: hasil cek radar, akselerasi dan deselerasi roket memuaskan, sedangkan untuk penelitian fisika ionosfer dan fisika atmosfer tercatat sebagian memuaskan. Laporan tersebut kemudian disampaikan kepada IQSY sebagai bentuk kontribusi Indonesia dalam bidang penyelidikan atmosfer.

Sayangnya, sisa tujuh roket Kappa-8 tak sempat diluncurkan karena Peristiwa 30 September 1965.

Pelaksanaan Proyek PRIMA dan Proyek S membuat Indonesia masuk sebagai salah satu negara Asia, bersama Jepang dan India, yang membangun sistem teknologi roket secara mandiri. Rencananya, proyek ini akan diteruskan ke tahap industri besar yang berdikari. Namun Peristiwa Peristiwa 30 September 1965 menghentikannya. AURI, yang berperan dalam proyek-proyek roket, dituduh terlibat dalam upaya kudeta. Begitu pula dengan Lapan yang dipenuhi perwira AURI.

Pemerintah Orde Baru seakan tak tertarik untuk mengembangkan teknologi roket. “Wernher von Braun, insinyur Amerika Serikat yang roket rancangannya berhasil mengantar manusia sampai ke bulan, sempat membuat grand plan sistem pembangunan roket di Indonesia untuk jangka waktu 11 tahun. Namun pemerintahan Orde Baru sulit menerima karena anggarannya terlalu mahal,” ujar Adi Sadewo Salatun, putra Jacob Salatun yang mengikuti jejak ayahnya sebagai ahli peroketan di Lapan, kepada Historia. “Saat itu Soeharto harus memilih antariksa atau penerbangan. Dia akhirnya memilih penerbangan.”

Kegiatan peroketan pun mati suri.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Roket Kartika I.
Roket Kartika I.