Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Ketika Demam Roket Mewabah

Dimulai dari kegiatan mahasiswa di Yogyakarta dan Bandung, pemerintah Sukarno mengembangkan teknologi roket. Indonesia menjadi negara kedua setelah Jepang yang dapat membuat roket sendiri.
 
Roket Kartika I.
Historia
pengunjung
14.4k

Proyek PRIMA

Begitu mendapat mandat dari presiden, Oemar Dhani mengeluarkan keputusan No 70/1963 tentang pembentukan proyek Pengembangan Roket Ilmiah Militer Awal (PRIMA). Proyek ini, dimulai pada 1 September 1963, diketuai Laksamana Muda Budiardjo, deputi Menteri/Pangau urusan Logsitik, dengan wakil Jacob Salatun. Karena ini adalah proyek AURI, pendanaan berasal dari swasembada AURI.

Salah satu tujuan proyek PRIMA adalah mengikutsertakan Indonesia dalam pelaksanaan International Quiet Sun Years (IQSY) 1964-1965. Serupa dengan IGY, IQSY dihelat untuk mendorong negara-negara di seluruh dunia meluncurkan roket-roket ionosfer atau angkasa luar demi tujuan sains dan perdamaian.

Proyek PRIMA dijalankan tim gabungan ITB, AURI, dan Pusat Industri Angkatan Darat (Pindad). Setelah tujuh bulan bekerja, dengan alat dan bahan dari dalam negeri, tim menghasilkan roket berdiameter 250 mm dan berbobot 220 kg, yang dilengkapi instrumen-instrumen ilmiah seperti pemancar sinyal. Presiden Sukarno memberikan nama: Kartika-1.

Peluncuran Kartika-1 dilakukan di Pantai Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat pada 14 Agustus 1964. Roket pun meluncur mulus dengan ketinggian 60 km.

Menurut Sumantri, dalam artikel “Rekam Jejak ‘Kartika-1’”, dimuat majalah Arsip Edisi 62 2013, jika dibandingkan negara-negara Asia lainnya yang melakukan program IQSY, pencapaian Indonesia begitu membanggakan. Pakistan meluncurkan roket Rehbar, yang merupakan roket Nike Cajun buatan AS. Yugoslavia meluncurkan roket Kappa-6 buatan Jepang.

“Di negara-negara Asia, pada saat itu belum ada yang dapat meluncurkan roket-roket atmosfir buatan sendiri. Dengan demikian Indonesia telah menjadi negara kedua setelah Jepang yang dapat membuat roket-roket atmosfir atasnya,” tulis Sumantri.

Harian Sinar Harapan menulis keberhasilan peluncuran Kartika-1 meninggikan gengsi Indonesia sebagai pelopor dan mercusuar dari tenaga-tenaga yang menghendaki dunia baru atau New Emergencing Forces (Nefos). “Di dalam kalangan COSPAR (Committee on Space Research - Panitia Angkasa Luar PBB), Indonesia meningkat ke dalam kategori Rocket Launching Nations,” tulis Sinar Harapan, 18 Agustus 1964.

Roket Kartika-1 dilengkapi sistem telemetri yang bisa menerima sinyal satelit. Sistem ini dikembangkan Laboratorium Elektronika ITB bersama Depot Elektronika AURI. Ketika dilakukan percobaan, alat telemetri ini berhasil menangkap dan merekam sinyal dari satelit cuaca “Tiros” milik AS.

“Dalam rangkaian peristiwa tersebut, Presiden Sukarno sempat membentuk Kogam (Komando Ganyang Malaysia) yang menyebabkan perang urat saraf sangat hebat dan Bung Karno menggertak bahwa bangsa Indonesia sudah dapat membuat roket dan bom atom. Padahal yang terjadi adalah sekadar peluncuran percobaan Roket Ilmiah ‘Kartika-1’ di pantai selatan Cilauteureun, Pameungpeuk-Garut,” tulis Sumantri.

Untuk menyambut keberhasilan ini, replika roket Kartika-1 dipamerkan dalam parade perayaan hari ABRI 5 Oktober 1964. Tak lama, roket Kartika-1 yang kedua diluncurkan pada November 1964.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Roket Kartika I.
Roket Kartika I.