Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Ketika Demam Roket Mewabah

Dimulai dari kegiatan mahasiswa di Yogyakarta dan Bandung, pemerintah Sukarno mengembangkan teknologi roket. Indonesia menjadi negara kedua setelah Jepang yang dapat membuat roket sendiri.
 
Roket Kartika I.
Historia
pengunjung
14.4k

Dari Perang Dingin

Sejak dikenal pada abad ke-13, roket digunakan dan dikembangan untuk tujuan militer. Penggunaan roket sebagai sebuah instrumen penelitian ilmiah, terutama untuk meneliti gejala-gejala antariksa, mulai muncul memasuki abad ke-20.

Pada masa Perang Dingin, Uni Soviet dan Amerika bersaing dalam mengembangkan teknologi roket hingga eksplorasi antariksa. Salah satu peristiwa yang memicu persaingan itu adalah International Geophysical Years (IGY) tahun 1957-1958. Penggagasnya Sidney Chapman, peneliti geofisika mahsyur asal Amerika. Tujuan IGY untuk mengajak negara-negara di dunia melakukan penelitian atmosfer dan luar angkasa demi tujuan sipil dan perdamaian, yang selama ini dianggap terlalu dieksploitasi demi kepentingan militer.

Berkat IGY, Uni Soviet meluncurkan satelit pertama di dunia, Sputnik. Amerika mengikutinya dengan meluncurkan satelit Explorer-1. Beberapa negara berkembang seperti India, Pakistan, dan Mesir juga meluncurkan roket-roket ilmiah. Indonesia terlibat dalam proyek IGY. Namun kemelut politik mengalihkan pandangan pemerintah untuk ikut berkontribusi dalam perhelatan riset berskala internasional tersebut.

“Sumbangan negara kita kepada Program Tahun Geofisika Internasional selama 1957-1958 begitu mengecewakan, sehingga negara kita dimasukkan ke dalam kategori black area atau daerah hitam,” ujar Raden Jacob Salatun, tokoh perintis peroketan nasional, dalam buku Lahirnya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Kegagalan itu menjadi bahan pembelajaran Panitia Astronautika, yang dibentuk Dewan Penerbangan pada 31 Mei 1962, untuk menangani masalah-masalah keantariksaan di Indonesia. Dewan Penerbangan sendiri dibentuk tahun 1955 untuk mengkoordinasi penerbangan sipil dan militer sebelum diubah menjadi Dewan Penerbangan dan Angkasa Luar Nasional Republik Indonesia (Depanri) pada 1963 dengan cakupan kerja lebih luas. Menteri Pertama Ir Djuanda jadi ketuanya, sedangkan Kolonel Udara Raden Jacob Salatun sebagai sekretaris.

Mulailah Panitia Astronautika mencari informasi mengenai peroketan di negara-negara lain. Keberhasilan Jepang memproduksi roket Kappa, dianggap salah satu yang paling maju di dunia, menarik perhatian. Panitia Astronautika mengusulkan kepada Dewan Penerbangan agar mengimpor roket Kappa untuk Roket Ionosfer/Angkasa Luar (Proyek S). Dewan Penerbangan setuju. Sayangnya kondisi keuangan negara tidak memungkinkan. Proyek S pun ditangguhkan.

Sambil menunggu terkumpulnya dana untuk membeli roket Kappa, Jacob Salatun yang juga penasehat ilmiah Menteri/Panglima Angkatan Udara (Pangau) Omar Dhani menyarankan agar AURI memulai program pengembangan roket secara swasembada. Usulan ini mendapat lampu hijau. Terlebih AURI sedang membangun kerjasama dengan ITB dalam proyek pengembangan roket.

Presiden Sukarno menyetujuinya. Pelaksanaan proyek ini, dan juga Proyek S, diserahkan kepada Menteri/Panglima Angkatan Udara karena dinilai punya kesatuan-kesatuan yang berpengalaman dalam penelitian, pengembangan, dan pembuatan roket. Bahkan kala itu AURI sedang mendirikan pabrik roket “Menang” di Tasikmalaya, Jawa barat.

Sementara terjadi persaingan di UGM dan ITB, pemerintah mulai serius membuat dan meluncurkan proyek roket nasional.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Roket Kartika I.
Roket Kartika I.