Pilih Bahasa: Indonesia

Getah yang Nyaris Punah

Pada awal kemunculannya, teknologi komunikasi terbantukan oleh gutta-percha tapi sekaligus ikut menghancurkannya.
Historia
Historia
pengunjung
7.9k

ADA pertautan antara teknologi dan lingkungan dalam kisah pembangunan kabel bawah laut. “Persis pada saat telegraf listrik diciptakan,” kata sebuah manual di masa itu, seperti dikutip Simon Wenchester dalam Krakatau, “saat itu juga ditemukan gutta-percha, bahan yang sangat dibutuhkan untuknya.”

Ketika telegraf ditemukan, mudah untuk membangun jalur telegraf di darat. Tapi di laut, butuh pelapis kedap udara untuk kabel-kabel yang menghantarkan listrik. Bahan itu juga mesti lentur serta tahan tekanan tinggi dan suhu dingin di bawah laut. Timah, lilin, tar, dan karet sudah dicoba tapi tak berhasil. Hoplah, gutta-percha memberikan solusi. Dengan gutta-percha, kabel-kabel telegraf tak lagi terputus di tengah laut dan pengiriman sinyal jadi bisa diandalkan.

Gutta-percha tergolong dalam keluarga Sapotaceae. Keluarga tumbuhan ini terdiri dari berpuluh jenis, di antaranya Palaquium. Jenis Palaquium gutta, yang umum dikenal dengan Isonandra gutta, paling dicari dan digunakan dalam produksi gutta-percha. Di Indonesia, tanaman hutan ini tersebar luas di daerah pegunungan di kepulauan Sumatra, Bangka, Riau, dan Kalimantan.

Getah diperoleh dengan cara ektraksi daun atau penyadapan pohon. Pada suhu biasa, gutta-percha merupakan benda keras, sedikit sekali merentang. Namun ketika dipanaskan, material ini menjadi lunak dan dapat dikepal-kepalkan tangan untuk membentuk apapun. Jauh sebelum gutta-percha dikenal di Barat, ia biasa digunakan oleh penduduk asli untuk membuat gagang pisau, tongkat, dan keperluan lainnya.

Gutta-percha mulai dikenal Eropa pada 1656 berkat hasil laporan pengembaraan John Tradescant yang membawa contoh gutta-percha ke London. Dia menamakan bahan ini: “kayu Mazer”. Tapi ini terbatas oleh keingintahuan akan tanaman Timur, sementara tak banyak yang dihasilkan dari situ.

Pada 1832, seorang ahli bedah asal Inggris Dr William Montgomerie belajar dari seorang pekerja Melayu tentang kegunaan gutta-percha. Dia menyadari potensi getah itu, terutama untuk instrumen medis, setelah melakukan sejumlah eksperimen. Pada 1843, dia memperlihatkan karyanya ke Dewan Kedokteran Calcutta di India dan The Royal Society of Arts di London. Royal Society of Arts memberikan medali emas sebagai pengakuan atas penemuannya.

Menurut Bill Glover dalam “British Submarine Manufacturing Companies”, yang dimuat di www.atlantic-cable.com, Montgomerie menunjukkan sampel itu ke Michael Faraday, yang menyarankan penggunaannya sebagai isolator listrik, serta Charles Mackintosh, produsen pakaian tahan air. Seorang mitra Mackintosh, Thomas Hancock, menunjukkan sampel itu kepada saudaranya, Charles, yang tengah mengembangkan sumbat botol. Dia menemukan gutta-percha sebagai bahan ideal. Bersama Henry Bewley, produsen air soda, mereka membentuk Gutta Percha Company pada 4 Februari 1845 yang memproduksi sumbat botol dan barang lainnya dari gutta-percha. Tapi perselisihan terjadi. Hancock keluar. Bewley terus menghasilkan konduktor yang terbungkus dalam insulasi (cable core), menyediakannya untuk pemasangan kabel yang melintasi Selat Inggris pada 1850 dan 1851.

“Memproduksi cable core menjadi operasi utama perusahaan itu, menghabiskan produksi gutta-percha secara signifikan, impor yang melebihi seribu ton per tahun pada 1861,” tulis Bill Burns, “The Gutta Percha Company”, yang dimuat di www.atlantic-cable.com.

Gutta-percha mulai memasuki pasaran dunia setelah diketahui memiliki sifat-sifat yang cocok sebagai bahan pelapis kabel dasar laut. Ia juga digunakan untuk pelapis bola golf, campuran gips, perawatan gigi, pembuatan gigi palsu, genggaman pistol, ikat pinggang, perhiasan, dan lain-lain.

Menurut Timothy Pwee dan Lee Kong Chian dalam Tapping History, hanya dua tahun setelah Montgomerie memperkenalkan gutta-percha ke Eropa, seluruh tanaman taban merah (Palaquium gutta) besar di Singapura ditebang. Diperkirakan 412 ton gutta-percha diekspor ke Eropa antara 1845 dan 1846 yang menyebabkan 69.000 pohon taban merah ditebang.

Permintaan gutta-percha terus meroket. Tahun 1856 hingga 1896, penggunaan gutta-percha di dunia untuk pelapis kabel dasar laut sudah mencapai 16.000 ton yang direntangkan sepanjang 184.000 mil laut di sekitar pantai Benua Amerika, Eropa, Asia, Australia, pantai timur dan barat Afrika, dan sepanjang antar samudera.

Terjadilah eksploitasi pohon penghasil gutta-percha di kawasan jajahan Belanda, Inggris, dan Prancis di Asia Tenggara. Menurut John Tully, pengajar politik dan sejarah di Universitas Victoria, Melbourne, dalam “A Victorian Ecological Disaster: Imperialism, the Telegraph and Gutta-Percha”, yang dimuat di Journal of World History terbitan University of Hawaii Press, edisi No 4 tahun 2009, industri telegraf telah memusnahkan banyak pokok berharga itu karena permintaan yang sangat tinggi saat itu.

Tully mencatat, sebuah kabel lintas-Atlantik pada 1857 ialah sepanjang 1.852 mil (2.964 kilometer) dengan berat 2.000 ton. Sebanyak 250 ton adalah berat gutta-percha. Awal 1890-an saja industri kabel menelan 1,8 juta kg gutta-percha setahun. Pada awal abad ke-20, terdapat sekitar 200.000 mil kabel dasar laut di dunia dan hampir 88 juta gutta-percha digunakan.

Menurut Tully, otoritas imperium dan perusahan telegraf kurang memikirkan masa depan sumberdaya berharga yang terbatas itu. Gutta-percha menjadi salah satu komoditas tropis yang dieksploitasi secara kejam. Bahkan, karena begitu tinggi permintaan getah itu, tanaman ini hampir punah pada akhir abad ke-19 dan menyebabkan gelombang kepanikan dalam industri yang telah mengambilnya begitu saja.

Kepunahan bukan hanya terjadi karena permintaan yang tinggi. Saat itu belum ada teknik menoreh. Untuk mendapatkan getah, orang menebang pohonnya –saat ini teknik pemanenan dengan memangkas daun, yang ternyata memiliki banyak kandungan getah. Bahkan seringkali menebang pohon yang masih muda. Akibatnya jumlah pohon terus menyusut.

Eksploitasi antara lain terjadi di Borneo, dan seringkali menimbulkan ketegangan. Menurut Cristina Eghenter dalam “Histories of Conservation or Exploitation?, Cases studies from the interior of Indonesian Borneo”, yang dimuat di Histories of the Borneo Environment karya Reed L. Wadley, saat puncak eksploitasi gutta-percha di Apo Kayan, Kalimantan Timur, orang-orang Iban dari Sarawak melintasi perbatasan untuk memanen getah dian, varietas lokal dari gutta-percha, dan menjualnya di Sarawak. “Situasi ini menimbulkan ketegangan dan episode perburuan kepala manusia antara Iban dan para pengumpul lokal Kenyah.”

Otoritas Belanda, yang berkepentingan dalam menjaga situasi politik yang damai, berusaha campur tangan untuk menghentikan perang dan menuntut para pelakunya. Mereka juga mengajukan protes secara resmi kepada Raja Sarawak dan memintanya agar lebih mengontrol rakyatnya.

Para pemimpin Kenyah juga berupaya menyusun kebijakan untuk mengatur hak akses dan eksploitasi untuk menghindari akses terbuka dan kemungkinan “tragedi kepemilikan publik”. Dalam sebuah pertemuan damai di Kapit (Sarawak) pada November 1924, para pemimpin Dayak berkumpul untuk mengakhiri konfrontasi dan perang, serta membahas kesepakatan bersama mengenai manajemen sumberdaya hutan. Tapi tak ada hasil kongkret. Perbedaan pendapat tetap bertahan. Sementara para pemimpin Kenyah setuju agar para kolektor Iban tak lagi datang secara bebas ke Apo Kayan, para pemimpin Iban berpendapat bahwa mereka setuju agar orang-orang dari kedua pihak bebas mengeksploitasi produk-produk hutan baik di Sarawak maupun Apo Kayan. Pemerintah Belanda sendiri mempertanyakan kredibilitas penafsiran Iban atas hasil pertemuan itu.

“Jika interpretasi mereka benar, kesepakatan itu akan menempatkan Kenyah pada kerugian ekonomi yang cukup besar karena pada dasarnya gutta-percha di wilayah Sarawak sudah habis tapi masih banyak di Apo Kayan,” tulis Cristina Eghenter.

Tapi penyusutan kemudian juga melanda Apo Kayan. Pada akhir 1920-an, tulis Cristina Eghenter, ekspor gutta-percha menurun drastis. Eksploitasi produk tersebut juga berhenti. Ia hanya dipanen orang-orang Apo Kayan untuk kebutuhan rumah tangga dan perdagangan terbatas di pasar lokal. Data yang dikumpulkan para pejabat Belanda menunjukkan bahwa jumlah gutta-percha yang diekspor dari Berau (termasuk bagian dari getah yang diperdagangkan keluar dari Apo Kayan) rata-rata 35.000 kg pada 1925-1927. Jumlah ini menurun menjadi hanya 740 kg pada 1934.

Sejak awal pemerintah Belanda menyadari pentingnya gutta-percha sebagai mata dagangan ekspor. Menurut Timothy Pwee dan Lee Kong Chian, pemerintah Belanda mengambil sampel dari Singapura untuk mulai penanaman di Jawa. Sekira 1885, tulis majalah Hevea, yang diterbitkan Pusat Penelitian Karet, D.E.I. Government melakukan penelitian di Perkebunan Cipetir, Sukabumi –kini jadi Perkebunan Sukamaju, dikelola PT Perkebunan Nusantara VIII– dengan menanam beberapa varietas pohon gutta-percha yang kemudian diseleksi. Tapi baru enam tahun kemudian penanaman mulai dilakukan. Pemerintah membangun Perkebunan Negara Gutta Percha Cipetir. Pemerintah kemudian juga membangun pabrik gutta-percha.

Tapi penggunaan gutta-percha sendiri sebagai pelapis kabel bawah laut kemudian tergantikan oleh polyethylene yang mulai diperkenalkan pada 1930-an. Untuk industri lainnya, gutta-percha masih digunakan, sekalipun tanaman ini kini kian langka.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia