Pilih Bahasa: Indonesia

Di Balik Bipolar

Kemajuan penelitian membawa mereka yang mengalaminya bertahan, perlahan lepas dari stigma dan rasa malu.
Historia
Historia
pengunjung
6.8k

“AKU seorang Scorpio; Scorpio memangsa dan menghancurkan diri mereka sendiri seperti yang kulakukan,” ujar aktris Vivien Leigh, pemeran Scarlett O’Hara dalam Gone With The Wind, dalam Vivien Leigh: A Biography (1977) oleh Anne Edwards.

Sepanjang kariernya, ”ledakan emosi” Leigh menjadi rahasia umum industri film Hollywood. Gejolak ekstrim antara depresi berlarut-larut dengan perasaan riang energetik berlebihan (mania) yang menderanya, atau lebih dikenal pada masa itu sebagai manik-depresif, kerap membuat banyak studio khawatir. Puncaknya terjadi ketika dia berada di Ceylon pada 1953 untuk shooting film Elephant Walk. Leigh kehilangan kontrol diri. Selain mudah lelah dan sering lupa kalimat-kalimat dialog, suasana hatinya berubah-ubah; hari ini tenang dan normal, keesokan hari menangis tersedu-sedu dan mengumpat. Kebiasaan Leigh minum minuman beralkohol memperparah kondisinya. Studio Paramount, yang membiayai produksi film itu, memutuskan mengganti Leigh dengan Elizabeth Taylor untuk mengatasi keterlambatan jadwal pengambilan gambar dan pembengkakan biaya.

Leigh kemudian diterbangkan ke Inggris, tempat dia berasal dan tinggal bersama suaminya, aktor Sir Laurence Olivier. Dia mendapatkan perawatan psikiater di sebuah rumah sakit. Kamar isolasi, obat bius, dan terapi kejut berulang melalui pemberian es batu pada sekujur badannya merupakan metode “penyembuhan” yang harus dia jalani selama perawatan.

“Aku pikir aku berada di rumah sakit jiwa. Aku sempat berpikir untuk berteriak agar seseorang mendengar dan menolongku keluar dari tempat itu,” ujarnya kepada seorang kawan dekat.

Selama berabad-abad, berbagai upaya menyembuhkan manik-depresif melewati berbagai dimensi dan persepsi. Hippocrates, pelopor ilmu medis Yunani Kuno, serta para pengikut ajarannya pada abad ke-4 - 5 SM, meyakini bahwa masalah biologis, terutama fungsi otak, merupakan penyebab utama penyakit mental. Mereka menyimpulkan bahwa melankolia (depresi) merupakan sebuah kondisi yang diasosiasikan dengan “hilangnya selera makan, kesedihan, kurang tidur, mudah tersinggung, gelisah,” seperti tertulis dalam Manic-Depressive Illness karya Frederick K. Goodwin dan Kay R. Jamison (2007). Pandangan ini berlawanan dengan anggapan yang menyebar kala itu bahwa mistis atau supernatural sebagai penyebabnya.

Pandangan medis Hippocrates terhadap depresi juga bersumber dari kumpulan tulisan para pengikutnya, The Nature of Man, yang meyakini bahwa kesehatan manusia tergantung dari keseimbangan empat humor (cairan) di dalam tubuh –darah, empedu kuning, empedu hitam, dan mukus. Pengikut Hippocrates meyakini depresi disebabkan kelebihan empedu hitam sementara mania oleh kelebihan empedu kuning. Dengan demikian, keduanya merupakan dua kondisi kelainan mental yang terpisah.

Aristoteles, filsuf Yunani Kuno lainnya, mengaitkan kelebihan empedu hitam (depresi) dengan bakat dan kejeniusan seseorang. “Aristoteles adalah yang kali pertama menghubungkan frekuensi munculnya depresi dengan para filsuf, negarawan, penyair, seniman. Dia mencontohkan Plato, Socrates, dan Empedocles,” tulis Whitwell Jr dalam Historical Notes on Psychiatry (1936).

Keterkaitan antara depresi dan mania kali pertama tertulis dalam sebuah literatur medis pada abad ke-2 M karya Arataeus, seorang tabib di Cappadocia, Turki, dalam On the Causes and Symptoms of Chronic Diseases. “Melankolia (depresi -red) adalah awal dan bagian dari mania.” Dengan kata lain, mania menjadi tahap akhir dari depresi –sebuah tonggak analisis medis manik-depresif.

Definisi penyakit mental di masa lampau masih sangat luas, dengan berbagai stigma sosial yang melekat. Bagi banyak komunitas di Eropa awal Abad Pertengahan, penderita gangguan mental merupakan “masalah”. Keluarganya biasanya mengurung mereka di ruangan tersembunyi di rumah. Dalam Madness in Society karya sejarawan medis George Rosen (1968), penderita gangguan mental di wilayah Eropa pada masa itu, yang dianggap terlalu berbahaya oleh keluarganya dan berkeliaran di jalan-jalan, seringkali mengalami pemukulan oleh aparat hukum, atau bahkan diusir ke luar dari kota.

Konsep mengisolasi penderita gangguan mental dalam institusi sebagai bentuk perawatan baru dimulai di Eropa sekitar abad ke-18. Namun rumah sakit pertama yang memiliki bangsal khusus penderita gangguan mental justru berdiri di Baghdad, sekitar tahun 790. Rhazes, atau al-Razi, seorang praktisi medis, ilmuwan, dan filsuf yang mendokumentasikan berbagai kemajuan dunia medis, menjadi kepala rumah sakit. Hasil observasi al-Razi, yang terdokumentasi dalam salah satu kumpulan analisisnya, menggarisbawahi pentingnya etika medis dan terapi psikologis dalam perawatan penderita gangguan mental.

Dokumentasi berbagai dimensi pandangan terhadap depresi kali pertama tercatat dalam The Anatomy of Melancholy (1621) oleh Robert Burton, seorang akademis dengan latarbelakang depresif. Walau mendapat banyak kritik, karena sulit dipahami sebagian orang, tulisan Burton dengan nama pena Democritus Junior yang penuh satir, humor, serta menggabungkan pengetahuan medis dan filosofi mendapat sambutan luas.

The Anatomoy of Melancholy membagi pembahasan mengenai depresi dalam tiga bagian: gejala dan opini medis, perawatan, serta depresi terkait cinta dan agama.

Dalam perkembangannya, manik-depresif dipahami sebagai sebuah tipe kelainan mental melalui penelitian klinis Jean-Pierre Falret, seorang psikiater Prancis. Dia mendeskripsikannya sebagai la folie circulaire (lingkaran kegilaan). Lewat esai “Memoire sur la folie circulaire“ yang dipublikasikan Bulletin de la Academie Imperiale de Medicin (1854), Falret mengulas proses perpindahan antara periode mania menjadi depresif serta kaitannya secara genetik.

Manik-depresif kemudian menjadi sebuah klasifikasi kelainan mental pada 1899 setelah psikiater Jerman Emil Kraepelin membedakannya dengan jenis kelainan psikis lain, yakni dementia praecox, atau kini dikenal sebagai schizophrenia. Penderita manik-depresif, menurutnya, mengalami periode tanpa gangguan sehingga mereka mampu menjalani aktivitas secara normal.

Manik-depresif di kemudian hari lebih sering disebut sebagai kelainan bipolar berdasarkan temuan penelitian psikiatris Karl Leonhard pada awal 1950-an. Kelainan bipolar (secara literal berarti dua kutub) meliputi periode mania dan depresi dalam interval waktu bergantian (pola lingkaran). Tak semua penderita kelainan bipolar memiliki pola yang sama. Kelainan Bipolar II, misalnya, tak selalu mengalami episode mania serta tak menunjukan gejala psikotik seperti halusinasi yang umumnya terjadi pada tipe Bipolar I. Kedua kondisi kelainan itu dapat dikontrol melalui perawatan psikiatris dengan obat-obatan. Pada 1960-an, lithium, salah satu jenis obat penenang, mulai diperkenalkan dan dipakai dalam perawatan kelainan bipolar.

Faktor sosial dan lingkungan, selain genetik, kemudian teridentifikasi mempengaruhi kecenderungan seseorang mengalami kelainan bipolar.

Penderita kelainan bipolar mengalami banyak tantangan, seperti dialami Leigh. Menjelang akhir 1950-an, Leigh berpisah dari suaminya. Dia kembali melakoni teater yang merupakan cinta pertamanya selain dunia akting. Di tengah upaya menata kembali hidup dan kariernya, dia menyadari bahwa penyakitnya tak akan benar-benar hilang dan kerap menangisi kondisinya. Namun dia terbantu dengan pasangan barunya, Jack Merivale, yang selalu menguatkan hatinya.

“Mengapa kamu harus malu? Kamu adalah contoh bagi banyak orang yang menderita kondisi yang sama, mereka memperhatikan bagaimana kamu mampu melanjutkan hidup dan berjuang mengalahkan penyakit ini,” ucap Merivale seperti dikutip oleh Edwards dalam biografi Vivien Leigh.

Seiring perkembangan medis, Leigh tak lagi menjalani terapi kejut. Dia menjalani perawatan dengan konsumsi obat-obatan dan kontrol terapi hingga dia meninggal dunia karena tuberkulosis pada 7 Juli 1967.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia