Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Dari Bangsal Institusi Mental

Definisi “gila” dan peran rumahsakit mental menegaskan perbatasan kondisi normal dan delusional. Awal mula penanganan gangguan mental di Hindia Belanda.
 
Pasien RSJ Bogor sedang dalam perawatan.
Foto
Historia
pengunjung
30.7k

PERAWATAN di rumahsakit mental di Eropa mengalami perombakan dengan diperkenalkannya pendekatan “terapi moral” oleh Philippe Pinel, seorang psikiater Prancis pada 1773. Pinel mempelopori pelepasan belenggu pada pasien dan memberikan bimbingan moral dan disiplin agar mereka dapat berfungsi kembali di masyarakat. Namun demikian, Pinel masih memberlakukan pengecualian bagi pasien yang dianggap tak dapat “diatur”. Dia menyarankan mengikat mereka dengan straitjacket (semacam jaket dengan bagian lengan yang dapat diikat).

Pinel juga merupakan salah satu pelopor pendekatan terapi okupansi (occupational therapy), di mana pasien dibiasakan melakukan pekerjaan diselingi istirahat agar pikiran mereka disibukkan dengan “hal-hal yang berguna”. Pendekatan ini di kemudian hari diadopsi berbagai negara untuk menangani pasien rumahsakit mental pada abad ke-19 dan 20.

Penanganan serupa juga dialami pasien penderita gangguan mental di Batavia. Pada 1646, sebagian dari mereka ditampung di Rumahsakit Cina, yang didirikan pada 1646 dengan pajak orang Tionghoa. Pasiennya terdiri dari berbagai etnis, tidak hanya Tionghoa. Karena kapasitasnya kian penuh, pemerintah kota Batavia mendirikan penampungan lain pada 1662 yaitu Panti Asuhan Fakir Miskin. Di sana penderita gangguan mental ditempatkan bersama orang miskin dan jompo.

Semua pasien diperlakukan sama, dimasukkan ke dalam bilik gelap, “Cara penanganan yang paling baik pada zaman itu,” tulis Hendrik E Niemeijer dalam Batavia Masyarakat Kolonial Abad XVII. Lama waktu penanganan tak tentu. Tapi biasanya, seseorang dinyatakan sembuh bila sudah diobservasi setengah tahun. Seringkali para pasien kumat dan harus kembali ke panti. Sementara pasien baru terus berdatangan.

Untuk mengatasi keterbatasan daya tampung, pemerintah kota merujuk pasien ke rumahsakit tentara. Tak seperti di panti, penanganan di rumahsakit tentara jauh lebih keras. Mereka dimasukkan ke kamar mirip penjara. Jeruji besi terpasang di tiap kamar. Pintunya kokoh dan ada penjaganya. Mereka dianggap berbahaya.

Pada masa itu, kebanyakan pasien “didiagnosis” mengalami gangguan mental melalui kebiasaan sering menenggak arak. Alasan lainnya adalah mania dan depresi berat. “Orang yang menunjukkan sifat agresif dan cenderung untuk bunuh diri juga ditampung,” tulis Hendrik.

Tentara pun mengambilalih urusan penyakit mental. Keadaan ini berlangsung hingga pertengahan abad ke-19. Kala itu muncul desakan perbaikan penanganan penderita gangguan mental sesuai perkembangan ilmu kesehatan mental.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Pasien RSJ Bogor sedang dalam perawatan.
Foto
Pasien RSJ Bogor sedang dalam perawatan.
Foto