Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Bilangan Nol, Apple, Kari Ayam dan Soal Keyakinan Asli

 
Leonardo dari Pisa.
Foto
Historia
pengunjung
6.3k

Zaman sekarang, pengetahuan dan gagasan merupakan sesuatu yang dapat dimiliki secara pribadi atau oleh sebuah lembaga dan siapa yang berhak menggunakan dapat ditetapkan sekaligus dibatasi. Seperti Hak Paten merupakan perangkat masyarakat modern guna mengatur penggunaan gagasan tertentu dan pembagian keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan gagasan tersebut. Akibatnya, masyarakat modern sangat memuliakan pencipta gagasan.

Pertanyaan semacam: “Siapa pencipta aslinya?” amat penting bagi kehidupan zaman sekarang. Namun, seribu lima ratus tahun lampau serta sebelumnya pertanyaan macam itu bisa jadi tak relevan atau bahkan asing. Memelajari serta menafsirkan gagasan asing bahkan dari daerah lain kemudian memajukannya lebih relevan bagi nenek moyang manusia Nusantara (dan Eropa), ketimbang memasalahkan siapa penggagas aslinya. Di zaman itu pengetahuan merupakan barang milik publik.

Pada pertengahan abad ke-5, bilangan nol untuk membantu penulisan bilangan dengan nilai tempat seperti yang sekarang biasa digunakan dirancang di India. Gagasan bilangan nol ini menyebar ke Kamboja di sekitar abad ke-7. Kemudian, di abad ke-8 gagasan ini menyebar lebih jauh lagi, ke Tiongkok dan negeri-negeri Arab di Timur Tengah. Di daerah terakhir ini, gagasan bilangan nol dan nilai tempat dimanfaatkan luas oleh para pedagang.

Dapat dibayangkan betapa rumitnya para pedagang mencatat serta menghitung saat bertransaksi sebelum ada bilangan nol. Luar biasa rumit tentunya berdagang dengan penyajian bilangan Romawi. Apalagi jika penulisan bilangan menggunakan sistem tally, yang hari ini jamak dilakukan untuk mencatat hasil pemilihan suara, yakni menuliskan garis-garis tegak dan setiap sampai pembilangan kelipatan lima dicoret dengan garis diagonal empat garis vertikal sebelumnya. Jangankan menghitung perkalian, menjumlahkan dua bilangan besar dalam sistem bilangan Romawi tentu tak sesederhana seperti yang dilakukan anak kelas 1 SD hari ini.

Keberhasilan penggunaan sistem nilai tempat dan pemanfaatan bilangan nol kemudian diketahui dan dipelajari oleh Leonardo dari Pisa atau yang lebih dikenal sebagai Fibonacci. Walau Leonardo dilahirkan di kota Pisa Italia sekitar 1175 M, dia besar dan dididik di Afrika Utara. Leonardo melakukan banyak perjalanan ke rangkaian pantai Mediterania dan berhubungan dengan para pedagang Arab. Melalui pertemuan ini, Leonardo mempelajari cara berhitung para pedagang Arab yang memanfaatkan bilangan nol dan sistem nilai tempat tersebut.

Gagasan yang baru dikenalnya itu kemudian ditulisnya dalam buku terkenalnya Liber Abaci, yang dipublikasikan pada 1202. Perlu digarisbawahi dan direnungkan, ini artinya Eropa baru sekitar 800 tahun lalu mengenal bilangan nol serta cara berhitung yang seperti dilakukan anak-anak SD hari ini. Tentu layak direnungkan pula, gagasan berhitung canggih 8 abad lalu menjadi keterampilan sepele bagi anak SD hari ini.

Dapat dibayangkan, sampai 1202, orang di Eropa saat menjumlahkan 1999 dan 648, akan disajikan dalam penjumlahan angka MCMXCIX dan DCXLVIII. Apalagi melakukan perkalian 2012 dengan 44, yakni MMXVI XLIV. Sesulit itu kira-kira perhitungan di Eropa saat sebelum Fibonacci mengenalkan cara berhitung dari Mediterania.

Beliau memperkirakan dan yakin bahwa gagasan bilangan nol serta cara berhitung dari pantai Mediterania dan jamak digunakan para pedagang Arab ini berguna serta merupakan pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat Eropa. Leonardo menafsirkan gagasan asing ini dan kemudian mengemasnya dengan lebih terstruktur untuk dikenalkan ke budaya Eropa.

Keadaan ini menunjukkan bahwa saat itu, pengetahuan mengalir bebas dari satu daerah di bumi ke daerah lain, dari satu budaya ke budaya lain. Dan tentunya juga, ini menandakan bahwa saat itu pengetahuan bebas dimiliki siapa saja. Pengetahuan serta kebenarannya tak dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok masyarakat semata.

Saat bertemu dengan gagasan baru dari masyarakat serta budaya berbeda ini, Leonardo berpikiran terbuka untuk memahaminya serta menafsirkan gagasan ini. Kemudian, beliau mengemas gagasan ini dan memasarkannya ke masyarakat Eropa. Leonardo bukan pencipta gagasan bilangan nol, tetapi dia telah menjadi penafsir hebat sekaligus salesman atau wiraniaga gagasan. Tanpa upaya dan karya penafsirannya, perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa kemungkinan akan terlambat beberapa puluh tahun atau lebih.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Leonardo dari Pisa.
Foto
Leonardo dari Pisa.
Foto