Pilih Bahasa: Indonesia

Mencari UFO di Langit Indonesia

Selama bertahun-tahun, manusia meneliti fenomena UFO. Namun, UFO masih menjadi misteri.
 
Raden Jacob Salatun, perintis peroketan Indonesia dan pendiri Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang meyakini keberadaan UFO, bersama Presiden Sukarno.
Historia
pengunjung
13.5k

Awal Juli 1959, penduduk Kepulauan Alor geger setelah munculnya kawanan manusia ajaib: tinggi rata-rata 1,8 meter, berkulit merah, berpakaian biru tua lengan panjang, dengan tangan mengenggam tongkat dari logam. Di Pulau Pantar, enam manusia ajaib itu bahkan memeriksa rumah-rumah penduduk yang ketakutan dan menculik seorang anak berusia enam tahun. Anak itu berhasil ditemukan tapi tak bisa mengingat apapun yang terjadi.

Kesatuan polisi di bawah Komanda Polisi Alwi Alhadad pun bergerak. Mereka bertugas menangkap orang-orang tersebut di tempat mereka biasa muncul, yakni di hutan sebelah timur Kalabahi. Pada tepat tengah malam, kawanan manusia ajaib itu muncul. Polisi yang panik mulai menembak. Ketika situasi mereda mereka dibuat keheranan. Tak ada sesosok jenazah, bahkan setetes darah, pun yang tercecer; hanya pohon-pohon yang berlubang.

Tak lama setelah peristiwa penyergapan tersebut, penduduk Kepulauan Alor melihat sebuah benda berwarna putih bergemerlapan terbang dengan cepat dari arah barat ke timur.

“Kasus manusia kebal di Kepulauan Alor ini diungkapkan kepada penulis oleh komandan polisi setempat sendiri setelah ia menjadi purnawirawan 17 tahun setelah kejadian tersebut,” ujar Raden Jacob Salatun dalam bukunya, UFO, Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini. “Kasus Kepulauan Alor menjadi semakin menarik jikalau dihubungkan dengan penyaksian-penyaksian UFO di wilayah Papua Nugini pada tahun yang sama (1959).”

Kasus Kepulauan Alor merupakan salah satu kemunculan UFO yang pertama di Indonesia. Saksinya cukup banyak. Namun keabsahan cerita ini patut dikritisi. Seperti kisah UFO lainnya di berbagai penjuru dunia, jejak singgah UFO di Alor minim bukti. Toh, hingga kini, kejelasan eksistensi UFO masih diperbincangkan.

Membangun Ketertarikan

Sejak lama manusia berpikir bahwa di antara bintang-bintang ada sebuah kehidupan lain. Tinggal masalah waktu bagi manusia mendatangi atau didatangi mereka. Keyakinan ini merambah dunia sains fiksi. Novel H.G. Wells berjudul The War of The Worlds yang terbit tahun 1898 menggambarkan konflik antara manusia dan makluk ekstraterrestrial untuk kali pertama. Manusia diserang makhluk Mars. Bahkan versi drama radio dari novel ini, yang disiarkan pada 30 Oktober 1938, sempat menimbulkan kepanikan massal di Amerika Serikat.

“Untuk beberapa saat, orang-orang dari Maine sampai California berpikir bahwa monster yang bersenjatakan sinar-sinar mematikan sedang menghancurkan semua tentara kita yang dikirim untuk melawan mereka; dan bahwa sudah tidak ada jalan keluar dari bencana ini dan akhir dari dunia sudah dekat. Sangat jelas bahwa sebuah kepanikan dalam tingkat nasional sedang terjadi,” tulis Hadley Cantril dalam The Invasion From Mars.

Selepas Perang Dunia II, banyak orang menyatakan melihat wahana asing yang terbang secara tak wajar dan kemudian menghilang di angkasa. Wahana asing ini kemudian lebih dikenal dengan UFO, singkatan dari Unidentified Flying Object (benda terbang tak dikenal).

Terminologi ini kali pertama digunakan Kapten Edward J. Ruppelt, perwira Angkatan Udara AS yang mengepalai Project Blue Book, sebuah proyek ambisius Angkatan Udara AS untuk mengumpulkan data dan mempelajari fenomena UFO secara ilmiah. Proyek ini berjalan dari tahun 1952 sampai 1969, melanjutkan proyek sebelumnya Project Sign (1947-1949) dan Project Grudge (1949-1952). Kali ini, Angkatan Udara mewawancarai ratusan saksi mata: dari yang mengaku melihat piring terbang bercahaya, penculikan hewan-hewan ternak, sampai mengaku diculik makhluk luar angkasa kemudian kembali ke bumi dengan keadaaan amnesia.

Dari beragam data tersebut, Angkatan Udara AS menyimpulkan, keberadaan UFO bukanlah masalah bagi keamanan nasional dan kasus-kasusnya masih belum bisa dijelaskan secara ilmiah alias masih sebatas fenomena di masyarakat. Project Blue Book pun dihentikan.

“Kami setuju bahwa keberlanjutan dari Project Blue Book tidak dapat dilakukan, baik dari sisi keamanan nasional maupun dari sisi sains dan ilmu pengetahuan,” ujar Brigadir Jenderal Carroll H. Bollender, deputi direktur Pengembangan Angkatan Udara AS, seperti dikutip Richard M. Dolan dalam UFOs and the National Security State: Chronology of a Coverup, 1941-1973.

Keberadaan UFO tetap menarik rasa ingin tahu banyak orang. Komunitas-komunitas pemburu UFO amatir bermunculan di penjuru dunia di mana UFO muncul. Ada yang melakukannya karena murni hobi, ada yang menekuninya dengan serius secara ilmiah.

Setelah Project Blue Book, tak ada minat dari pemerintah di seluruh dunia untuk menyelidiki fenomena UFO, kendati laporan kemunculan UFO semakin banyak di berbagai negara. Sampai akhirnya pada 1975 Sir Eric Gairy, perdana menteri Granada, mengajukan permintaan kepada forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil langkah serius dalam meninjau fenomena UFO. Dia mengusulkan perlunya suatu badan khusus untuk melakukan penelitian tentang UFO secara intensif dan terkoordinasi, yang secara formal berada di bawah naungan PBB.

Sesi dengar pendapat mengenai UFO akhirnya diadakan pada 27 November 1978 dalam sidang Komite Politik Khusus PBB yang dihadiri perwakilan dari 147 negara anggota. Ahmad Padang, diplomat dan ahli antariksa Indonesia, hadir dalam sesi tersebut.

Untuk memperkuat inisiatifnya, Sir Eric Gairy menggandeng sejumlah ilmuwan ternama. Salah satunya Dr J. Allen Hynek, seorang astronom yang sebelumnya terlibat sebagai konsultan sains dalam berbagai proyek penelitian UFO dari Angkatan Udara AS. Dia kecewa dengan kesimpulan Project Blue Book, yang menurutnya keliru.

“Kita berurusan dengan fenomena yang tak bisa dijelaskan namun laporannya terus bermunculan di 133 negara anggota PBB. Fenomena ini mempunyai implikasi sosiologis dan politis, juga potensi studi ilmiah,” ujarnya dalam sesi dengar pendapat.

“Saya meminta, atas nama kolega saya di dalam dan luar negeri, untuk membentuk suatu mekanisme dalam PBB di mana para peneliti dari negara-negara anggota dapat bertemu dan bertukar pikiran dan berbagi hasil investigasi mereka dengan anggota negara lain.”

Inisiatif pembentukan lembaga penelitian UFO akhirnya diloloskan Majelis Umum PBB dalam rapat pleno ke-87 melalui keputusan 33/426 tanggal 18 Desember 1978. Delegasi dari Grenada kemudian dijadwalkan menyampaikan pandangannya kepada Komite Penggunaan Luar Angkasa Secara Damai (UN-COPUOS) pada 1979.

Namun, inisiatif itu mendapat ganjalan. Banyak negara ragu untuk ikut terlibat, karena tiap negara diharuskan memberikan data-data UFO. AS bahkan menentang keras, menyebut penelitian terhadap UFO hanyalah sia-sia, secara sains maupun ekonomi. NASA pun menegaskan posisinya untuk tidak meneliti UFO.

“Berikan saya satu makhluk kecil berwarna hijau –bukan sekedar teori atau kesaksian seseorang– dan baru kita bisa mempunyai program milyaran dolar untuk itu,” ujar Dave Williamson, asisten Proyek Khusus NASA seperti dikutip Richard M. Dolan dalam UFOs and the National Security State Vol. 2: The Cover-Up Exposed, 1973-1991.

Inisiatif Sir Eric Gairy akhirnya menguap begitu saja akibat kudeta Marxist di Granada pada 13 Maret 1979. Gairy sendiri menjalani pengasingan di AS. Ketika UN-COPUOS bersidang di New York pada 1979, tak ada permintaan dari Granada untuk membicarakan isu UFO, sementara belum ada anggota komite yang bersedia menanganinya. Maka, isu UFO di forum PBB ini pun ditutup.

Di Indonesia

Sejak bermunculan secara masif di sejumlah negara, fenomena UFO juga menjangkiti orang-orang Indonesia. Salah satunya Raden Jacob Salatun, tokoh perintis peroketan Indonesia dan juga pendiri Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta pernah menjabat sebagai ketuanya pada periode 1971-1978. Dia memperkenalkan istilah lokal untuk merujuk UFO, yakni Benda Terbang Asing (Beta).

Menurut Salatun, banyak koleganya di Angkatan Udara maupun pemerintahan yang juga tertarik pada fenomena UFO. Salah satunya Menteri Pertama Juanda. “Meskipun ilmu pengetahuan telah mencapai kemajuan yang berarti di masa yang lalu, namun pengetahuan kita sekarang tentang alam semesta masih sangat terbatas,” tulis Juanda dalam kata sambutannya untuk buku Menyingkap Rahasia Piring Terbang yang ditulis Salatun, terbit tahun 1960.

Indonesia yang wilayahnya sangat luas, berpotensi sering disinggahi UFO. “Kemunculan UFO di Indonesia identik dengan kemunculannya di negara-negara lain,” ujar Kepala Staf Angkatan Udara Roesmin Noerjadin pada 1967, dikutip David E. Twichell dalam Global Implications of the UFO Reality. “Terkadang, mereka menimbulkan masalah bagi pertahanan udara dan kami diharuskan melepaskan tembakan kepada mereka.”

Pernyataan Roesmin Noerjadi merujuk pada penampakan UFO yang spektakuler di masa-masa Dwikora di Surabaya pada 1964. Dari 18 sampai 24 September 1964, selama seminggu penuh, benda-benda terbang tak dikenal muncul di daerah segitiga Surabaya-Malang-Bangkalan.

Ketika itu, radar AURI menangkap puluhan benda terbang tak dikenal bergerak dengan kecepatan tinggi. Personil AURI menembaki benda itu tetapi tidak ada yang jatuh dan mereka menghilang. Saat itu, banyak yang mengira benda tersebut adalah mesin-mesin perang terbaru milik Inggris dari kapal induk Victorious, namun tidak bisa dibuktikan.

“Maka dari itu pada tanggal 8 Oktober 1964 Pejabat Presiden Dr. J. Leimena merasa perlu untuk mengeluarkan imbauan agar masyarakat ramai tetap tenang dan tidak menimbulkan suasana yang keruh serta dilarang untuk membuat desas-desus dan tafsiran-tafsiran,” tulis Salatun dalam UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini, ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta pada 300 Juni 1979.

Tokoh lain yang memiliki ketertarikan dengan fenomena UFO adalah Adam Malik. Ketika terpilih sebagai presiden Majelis Umum PBB ke-26 tahun 1971, dia memiliki sekretaris yang juga seorang peneliti UFO, Farida Iskiovet. Farida Iskiovet sempat menyelidiki fenomena UFO di Gurun Mojave, Arizona, dan Maui, Hawaii atas instruksi Adam Malik.

Sebagai menteri luar negeri, Adam Malik mengundang Allen Hynek ke Indonesia pada akhir 1976 untuk merespon ketertarikan orang Indonesia terhadap UFO. Pada 16 Desember 1976, Hynek didampingi Salatun muncul di TVRI dan memberikan ceramah tentang UFO. Hynek menganjurkan orang Indonesia untuk segera melapor kepada Lapan, yang saat itu dipimpin Salatun, apabila menyaksikan UFO.

Salatun sendiri rajin berkomunikasi dengan Hynek. Dalam suratnya tertanggal 24 Februari 1977, misalnya, Salatun antara lain memberikan tambahan data mengenai penampakan UFO yang dijepret Tony Hartono di kapal tanker Arco Arjuna dan beberapa penampakan UFO di beberapa tempat di Indonesia di masa lalu. Lalu dia menjelaskan bahwa di Indonesia ada yang mengaitkan UFO dengan mistik.

“Menyebut mistik berarti skeptis apakah kita akan mampu memahami UFO, yang berarti kesenjangan ilmu dan teknologi antara dunia kita dan mereka,” tulis Salatun.

Salatun juga sempat mendirikan Studi UFO Indonesia (SUFOI) pada 1980-an, sebuah organisasi untuk meneliti dan mengumpulkan data fenomena UFO di Indonesia. Dulu mereka beralamat di Tebet, Jakarta Selatan, tetapi kini sudah tidak ada kabarnya. Sebuah organisasi lain berdiri sejak 1997 dan kini menjadi organisasi peneliti UFO yang cukup besar di Indonesia, yakni BETA-UFO.

BETA-UFO adalah komunitas di dunia maya yang melakukan diskusi dan pertukaran informasi. Pendirian BETA-UFO tidak terkait dengan SUFOI, namun para pendirinya menghargai jasa Jacob Salatun sebagai peneliti pionir fenomena UFO di Indonesia.

“Selain diskusi di forum internet, kami mengadakan pertemuan dan seminar berkenaan dengan penelitian. Kami juga meninjau lokasi langsung di tempat terjadinya laporan fenomena UFO. Contohnya, penelitian fenomena Crop Circle di Yogyakarta tahun 2011,” ujar Nur Agustinus, salah satu pendiri BETA-UFO kepada Historia. “BETA-UFO melakukan pengkajian di lapangan dan hasil penelitiannya dipresentasikan di Seminar Nasional di Universitas Diponegoro Semarang pada 12 Maret 2011.”

Dari sejumlah penelusuran, BETA-UFO melihat bahwa pola penampakan UFO di Indonesia tak berbeda dari negara lain. “Fenomena UFO di Indonesia sudah sejak lama dan di tahun-tahun 1960 hingga 1970-an, frekuensi penampakannya sangat tinggi,” tambahnya.

Tidak Selamanya Di Luar Nalar

Dalam buku Flying Saucers, a Modern Myth of Things Seen in The Skies, psikolog kenamaan Dr Carl Gustav Jung mengemukakan bahwa fenomena UFO merupakan sebuah proyeksi psikologis dari kekhawatiran manusia modern. Ia dianggap sebagai bentuk rasa tidak aman manusia akibat kurangnya perdamaian di dunia setelah muncul ketegangan-ketegangan politis yang terjadi akibat Perang Dingin.

Meski begitu, fenomena UFO tetap perlu dipelajari untuk memahami bagaimana kehidupan manusia merespon modernitas dan kemajuan teknologi. “Saya yakin bahwa kita harus mempelajari masalah UFO secara serius demi kepentingan sosiologi, teknologi dan keamanan. Mempelajari UFO mungkin akan menghasilkan konsep revolusioner dalam bidang teknologi luar angkasa secara umum, yang dapat kita manfaatkan saat ini,” ujar Salatun, dikutip dari Need to Know: UFOs, the Military and Intelligence.

“Mempelajari UFO dibutuhkan untuk kepentingan keamanan dunia di saat kita harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk di zaman luar angkasa ini; terlepas apakah kita yang akan menjadi Columbus atau Indian.”

Sekalipun masih menjadi topik populer, hal-ihwal terkait UFO tampaknya masih akan sangat sulit dijelaskan dengan nalar dan ilmu pengetahuan. Namun tak ayal, memahami fenomena UFO adalah sebuah usaha sementara dari manusia untuk menjawab pertanyaan yang terus bergumam selama berabad-abad: apakah benar kita hidup sendirian di alam semesta?

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Raden Jacob Salatun, perintis peroketan Indonesia dan pendiri Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang meyakini keberadaan UFO, bersama Presiden Sukarno.
Raden Jacob Salatun, perintis peroketan Indonesia dan pendiri Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang meyakini keberadaan UFO, bersama Presiden Sukarno.