Pilih Bahasa: Indonesia

Beraksi Mengatasi Epilepsi

Lepasnya muatan listrik di otak menjadi penyebab utama epilepsi. Tapi orang sering memandangnya sebagai penyakit kutukan.
Historia
Historia
pengunjung
4k

IRAWATY Hawari, dokter spesialis saraf, mengenang pengalamannya berkunjung ke sebuah Rumah Sakit Jiwa beberapa tahun lalu. Dia kaget melihat Orang Dengan Epilepsi (ODE) masuk Rumah Sakit Jiwa. “Memasukkan ODE ke RSJ tindakan salah. Epilepsi bukan gangguan jiwa, melainkan gangguan pada sistem saraf otak,” kata Irawaty kepada Historia.

Di Indonesia, salah kaprah mengenai epilepsi berjejak cukup panjang.

Keterangan dalam Prasasti Waharu, bertitimangsa abad ke-9, menyebut epilepsi sebagai salah satu penyakit kutukan untuk pelaku kejahatan. Ini berarti epilepsi berhubungan dengan kekuatan gaib.

Para leluhur di Nusantara mewariskan cara pandang demikian selama ratusan tahun. Sebagai pengobatannya, mereka biasa membacakan mantra dan mengusap kepala penderita epilepsi lalu memohon Yang Kuasa agar mencabut kutukan. Cara lain dengan memasung. Mereka menilai polah penderita epilepsi berbahaya, “di mana si pasien menunjukkan kecenderungan keras suka melompat ke air di samping gejala tertentu yang menyerupai ‘gerakan babi hutan’,” tulis Snouck Hurgronje dalam Aceh di Mata Kolonialis.

Snouck mempelajari rakyat dan adat-istiadat Aceh selama 1891-1905. Salah satu bahasannya tentang penyakit-penyakit di Aceh, termasuk epilepsi. Menurut Snouck, lantaran penderita epilepsi kerap bertingkah seperti babi, orang Aceh menamakan penyakit itu gila babi.

Di Aceh, epilepsi juga punya nama lain saket droe. “Biasanya diperoleh orang pada waktu petang atau tengah malam. Orang ini jatuh pingsan, anggotanya tegang, kaku, dan mulutnya tertutup,” tulis Moehammad Hoesin dalam Adat Atjeh.

Orang Aceh percaya penyakit ini berasal dari “hantu buru”, sejenis jin di rimba raya. Droe menyerang orang dewasa, anak-anak, dan bayi. Untuk mengusirnya, orang Aceh mengusap dahi dan dagu penderita dengan inggu (tumbuhan obat) sembari mengucap ayat-ayat Alquran.

Di Pasundan, orang menyebut epilepsi dengan sawan. Anak-anak dan bayi rentan terserang penyakit ini. “Anak-anak yang kena penyakit sawan, terbelalak matanya dengan tak tentu sebabnya,” tulis A Prawirasuganda dalam “Adat Orang Mengandung Bersalin dan Bersunat di Tanah Pasundan”, termuat di Tjidschrift voor Indische taal-, land-, en volkenlunde 1952-1957, Volume 85.

Hindia Belanda tertinggal soal pengetahuan medis epilepsi. Terbitan berkala untuk ilmu kedokteran di Hindia Belanda, Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlansch-Indie, baru memuat laporan khusus dokter CL Bense tentang epilepsi berjudul “Jacksonische Epilepsie een Gevolg van Secundaire Syphilis” pada 1893. Padahal majalah itu terbit sejak 1852.

Almarhum Slamet Iman Santoso menjadi pendorong mahasiswa kedokteran Indonesia untuk mempelajari epilepsi secara medis. Sadar masih banyak orang belum mengetahui epilepsi, Slamet tergugah. Dia membuka dan mengepalai Departemen Psikiatri dan Neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada 1950. Dia juga mengirim anak muda ke Amerika Serikat dan Belanda agar mereka bisa mendalami neurologi. Salah satunya Mahar Mardjono.

Minat Mahar semula pada anatomi. Tapi dia bertemu dengan Slamet. Kepada Mahar, Slamet bilang ingin mendirikan pusat epilepsi. Mahar tahu itu sulit. Ahli epilepsi jarang di Indonesia. Tapi Mahar tertantang. Dia setuju mempelajari epilepsi, bahkan sampai ke Amerika Serikat pada 1956.

“Saya khusus memperdalam pengetahuan saya di bidang epilepsi baik mengenai aspek-aspek neurofisiologi dan patologi maupun klinik,” tulis Mahar dalam Kiprah Dokter dalam Era 50 Tahun Indonesia Merdeka.

Pulang ke Indonesia pada 1958, Mahar langsung menerapkan ilmunya. Dia mendatangkan bantuan perlengkapan untuk studi dan terapi epilepsi di FKUI. Dia bertekad mewujudkan gagasan Slamet tentang pusat epilepsi.

Usaha Mahar berbuah pada 1964. “Pusat tersebut didirikan oleh Staf bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta pada Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo,” tulis Djaja, 6 November 1965.

Mahar belum puas. Dia berpikir perlu ada organisasi penyuluhan di daerah. Maka, bersama kawan-kawannya, dia mendirikan Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi Indonesia (Perpei) pada 1982.

Berbeda dari pusat epilepsi, Perpei berdiri di tiap daerah dan berfokus pada pemberian informasi mengenai epilepsi. Salah satu usaha paling menonjol Perpei terlihat pada 1991.

Perpei pusat bersama Ciba Geiby, perusahaan farmasi obat epilepsi, merancang iklan layanan masyarakat tentang epilepsi secara nasional. Baik melalui televisi maupun media cetak

Di televisi, iklan itu menampilkan seorang anak lelaki dengan epilepsi, bernama Adi, sedang bermain bola. Teman-temannya memperlakukannya secara wajar. “Adi main bola lagi, yok!” kata seorang temannya. Pesan iklannya jelas dan lugas. Penderita epilepsi bisa hidup normal. Dan orang harus menerima mereka apa adanya.

“Iklan itu cukup kuat. Melekat pada masyarakat,” kata Irawaty Hawari. Tapi Irawaty sadar stigma negatif epilepsi belum sepenuhnya terhapus.

Sekarang informasi mengenai epilepsi melimpah, tapi tantangan mengatasi epilepsi justru bertambah. Obat epilepsi murah kerap hilang dari pasaran. Pemerintah jarang terlibat penanganan epilepsi. Sementara pusat epilepsi rintisan Mahar dan kawan-kawannya kian mengendur. Kerja mengatasi epilepsi belum selesai.

Lebih lengkap tentang sejarah epilepsi baca di majalah Historia No. 20 Tahun II 2014

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia