Pilih Bahasa: Indonesia

Ali dalam Ekspedisi Wallace

Kisah pemuda Melayu yang sangat diandalkan Alfred Russel Wallace. Si penangkap burung surga yang menjadi penemuan terbesar Wallace.
 
Potret Ali yang tersimpan di Natural History Museum, London, dan
ilustrasi
Historia
pengunjung
3.7k

ALFRED Russel Wallace terkenal sebagai penjelajah Kepulauan Nusantara yang menghasilkan karya monumental, The Malay Archipelago. Selama delapan tahun petualangannya (1854-1862), dia berhasil mengumpulkan 125.660 spesimen serangga, burung, dan mamalia. Pencapaian dan koleksi ekstensif itu tidak mungkin diperoleh tanpa bantuan warga lokal.

“Bagaimanapun kontribusi warga lokal dalam eksplorasi Wallace tidak bisa dikesampingkan. Di setiap tempat yang disinggahinya, di setiap kota, Wallace mendapat bantuan dari warga lokal. Bahkan, sebagian besar spesimen yang dikumpulkannya diperoleh berkat bantuan warga lokal,” ujar John van Wyhe, sejarawan sains National University of Singapore.

Di antara banyak warga lokal yang membantu Wallace ada seorang pemuda Melayu yang istimewa. Dia menjadi pemimpin tim lokal ekspedisi Wallace.

Usai mengeksplorasi Sarawak selama tiga bulan (November 1855- Januari 1856), Wallace meneruskan ekspedisinya menuju Singapura. Namun, Charles Martin Allen, asisten yang dibawanya dari Inggris, hanya membantu mengumpulkan spesimen burung dan serangga di Pulau Ubin, Malaka, dan Sarawak. Dia memilih tetap tinggal di Sarawak dan bekerja sebagai guru di sekolah misi Kristen. Wallace tidak mencegahnya. Apalagi dia tak cocok dengan Allen karena tabiatnya.

“Sebagaimana diketahui secara eksplisit dalam surat-surat Wallace, dia dibikin jengkel oleh kesembronoan, ketidaktahuan, dan kegagalan Allen mengembangkan dirinya,” tulis John van Wyhe dan Gerrell M. Drawhorn dalam “I am Ali Wallace: The Malay Assistant of Alfred Russel Wallace”, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, vol. 88 (2015).

Ketiadaan Allen berdampak pada kelancaran ekspedisi Wallace. Dia kembali harus mencari asisten terampil yang bisa membantunya mengumpulkan dan menyusun spesimen serangga. Sempat menyewa seorang Tionghoa setempat, dia kemudian menemukan seorang pemuda Melayu yang cekatan dan berbakat. Tak heran jika Ali, nama pemuda Melayu itu, sering disebut-sebut dalam catatan dan publikasi Wallace.

Wallace bertemu dengan Ali di Sarawak ketika Allen masih menjadi asisten utamanya. Sepeninggal Allen, Ali menemani Wallace sejak Desember 1855 di Serawak hingga Februari 1862 ketika Wallace kembali ke Inggris.

Wallace mengenang Ali sebagai pemuda yang penuh minat dan berpenampilan rapi. Melalui Ali pula dia belajar bahasa Melayu agar lebih mudah berkomunikasi. Ali juga pandai memasak dan andal mengemudikan perahu. Awalnya dia lebih sering dapat tugas memasak. Seiring mengikuti Wallace menjelajah, Ali juga belajar menembak burung. Tak hanya itu, dia juga mulai belajar mengulitinya hingga mahir. Dia cepat belajar dan berani. Dalam beberapa perjalanan dia bahkan bisa mengajari orang sewaan Wallace melakukan tugasnya. Pendeknya, Ali adalah asisten yang cocok dengan gaya petualangan Wallace.

“Dia menemani seluruh perjalananku, terkadang sendirian juga, tetapi seringnya bersama beberapa orang lain, dan dia sangat berguna untuk mengajari mereka tentang tugas-tugasnya, dengan cepat dia juga paham apa kebiasaan dan keinginan-keinginanku,” kata Wallace dalam otobiografinya, My Life: A Record of Events and Opinions.

Dari Sarawak, Ali mengikuti Wallace ke Lombok dan Makassar. Di sini masih lebih sering menjadi juru masak. Tetapi, ketika di Lombok Ali juga mulai ditugasi Wallace membantunya menguliti burung tangkapannya. “Jadi, sepertinya kontribusi pertama Ali dalam merangkai spesimen adalah di Lombok itu,” tulis Van Wyhe dan Drawhorn.

Saat di Makassar, Ali telah cukup mahir melakukan pekerjaan-pekerjaan spesimen. Dia juga cukup terampil menggunakan senapan berburu. Wallace tentu punya pembantu-pembantu lain, tetapi Ali jelas punya tempat istimewa. Karena kepandaian dan kemampuannya, dia segera menjadi tangan kanan Wallace. Karena itu pula ketika Ali dan Wallace beberapa kali terserang demam malaria secara bersamaan, Wallace kebingungan.

“Pembantu saya, Ali, juga terserang penyakit (malaria) yang sama. Karena dia bertugas menguliti burung, maka perkembangan koleksi saya pun menjadi terhambat,” kenang Wallace dalam The Malay Archipelago.

Sejak dari Makassar, Ali menghabiskan waktu setahun membantu Wallace. Ketika dia melanjutkan ekspedisinya ke Kepulauan Aru untuk mencari cenderawasih, Ali telah menjadi “kepala pembantu”. Dan kepercayaannya kepada Ali tidak sia-sia. Dialah yang berhasil menangkap cenderawasih besar bagi Wallace. Lain waktu Wallace menugaskan Ali untuk menjelajah sendiri ke Wanumbai dan dia pulang membawa “harta karun” yang membuat semringah tuannya.

“Saya menyuruhnya ke sana sendirian untuk membeli cenderawasih dan mengulitinya. Dia pulang membawa 16 ekor spesimen yang luar biasa dan sebenarnya bisa dua kali lipat lebih banyak kalau saja dia tidak terserang flu,” kata Wallace.

Jasa terbesar Ali bagi Wallace adalah ketika di Pulau Bacan dia membawa seekor burung aneh. Wallace belum pernah melihatnya sebelumnya dan membuatnya heran. Itu adalah seekor burung berbulu lebat dengan variasi warna hijau di dadanya. Bulu hijau itu mamanjang menjadi dua tajuk yang berkilau. Paruhnya berwarna kuning gading dengan mata hijau pucat. Fitur lain yang mengagumkan Wallace adalah sepasang bulu putih yang mencuat di tiap bahu barung itu.

Wallace segera menyadari bahwa Ali membawa cenderawasih jenis baru yang belum pernah dikenal. Kelak, oleh ornitholog British Museum George Robert Gray cenderawasih jenis baru itu dinamai Semioptera Wallacei. Burung itu kemudian juga dianggap penemuan terbesar Wallace.

Van Wyhe dan Drawhorn mencatat bahwa petualangan-petualangan Ali dengan Wallace telah mengubah hidupnya. Sepeninggal Wallace, Ali yang kemungkinan tinggal di Ternate menjadi konsultan fauna lokal tepercaya bagi naturalis dan ilmuwan yang datang ke Hindia Belanda.

Adalah zoologis Amerika Thomas Barbour yang pada 1907 mengunjungi Ternate dan sempat bertemu Ali. Van Wyhe dan Drawhorn mengutip dalam artikelnya sebuah catatan Barbour bertarikh 1921 yang menyebut Ali dengan simpatik.

“Pada hari saya berkunjung ke Danau Ternate, seorang Melayu tua berbicara kepada saya. Katanya dia telah lama melupakan bahasa Inggrisnya, tetapi dia menepuk dadanya dan mengatakan bahwa dia adalah Ali Wallace. Tak ada pembaca setia The Malay Archipelago yang melewatkan Ali si teman muda Wallace dalam banyak petualangan berbahaya. Setelahnya saya mendapat balasan surat dari Tuan Wallace yang menulis bahwa dia iri saya baru saja bertemu dengan kawan lamanya itu.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Potret Ali yang tersimpan di Natural History Museum, London, dan
ilustrasi
Potret Ali yang tersimpan di Natural History Museum, London, dan
ilustrasi