Pilih Bahasa: Indonesia

Tato, Dari Petrus Hingga Angelina Jolie

Tato punya akar budaya tapi ia pernah dianggap dekat dengan kriminalitas. Kini tato jadi tren gaya hidup.
Historia
Historia
pengunjung
8.5k

PADA masa Orde Baru, sebuah stigma tak mengenakkan diberikan kepada orang-orang bertato. Barangsiapa punya rajahan ditubuhnya dicap sebagai preman atau gali yang mengancam keamanan. Saat itu, awal 1980-an, kejahatan memang merajalela di mana-mana. Pemerintah kemudian mengambil tindakan kejam dengan menggunakan tangan para Petrus (penembak misterius) untuk menembak mati orang-orang yang dianggap atau dicurigai sebagai pengacau keamanan tanpa melalui prosedur hukum. (Baca: Petrus Kisah Gelap Orba)

Brita L. Miklouhu-Makial dalam buku Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Indonesia Sejak Tahun 1966, menulis bahwa para preman itu, yang diidentifikasikan melalui tato, ditembak secara rahasia lalu mayatnya ditaruh dalam karung dan dibuang di sembarang tempat –tak jarang di tengah keramaian– seolah-olah mereka sampah. Tercatat antara lima hingga 10.000 orang yang dicurigai sebagai preman tewas mengenaskan.

Meski banyak pihak mengkritiknya, Soeharto bersikukuh dengan “metode pembersihan” itu dan menekankan shock therapy itu diperlukan untuk menekan tingginya tingkat kriminalitas.

“Tato diasosiasikan dengan kejahatan… terlepas dari apa yang dilakukan atau niat orang itu. Pernyataan Presiden Soeharto menunjukkan bahwa daya tarik rajah adalah indikasi dari kekuatannya, yang diatribusikan pada kriminalitas jauh lebih besar daripada perbuatan kriminal itu sendiri,” tulis Vicente L. Rafael dan Rudolf Mrazek dalam Figures of Criminality in Indonesia, The Philippines, and Colonial Vietnam.

Mengaitkan kriminalitas dengan tato bukan fenomena di Indonesia saja. Di Jepang tato kerap dihubungkan dengan kelompok mafia Yakuza. Anggota kelompok ini biasanya memiliki tato yang memenuhi nyaris seluruh bagian tubuh. Tato dengan motif tradisional Jepang yang dikenal sebagai Irezumi ini menunjukkan kedudukan seorang anggota dalam organisasi sekaligus memperlihatkan kehebatannya dalam menahan sakit. Desainnya amat beragam mulai dari naga, bunga, atau gambar pegunungan. Butuh waktu lama untuk menorehkan tato-tato yang rumit itu, bisa mencapai 100 jam. (Baca: Sukarno dan Yakuza)

Hingga saat ini di Jepang stigma terhadap orang bertato sulit dilepaskan. Orang-orang bertato tak diperbolehkan memasuki rumah-rumah mandi (ofuro). Banyak taman ria juga tak mengizinkan pengunjung bertato memperlihatkan rajahan di tubuh mereka. Artinya, selama berada di sana, mereka wajib mengenakan pakaian yang menutupi tato di tubuh mereka.

Sesungguhnya tato punya akar budaya yang panjang, dan tak ada kaitannya dengan kriminalitas. Jejak tato tertua dalam peradaban manusia ditemukan pada September 1991, dirajahkan di kulit mumi yang ditemukan di wilayah Otztal, dekat Hauslabjoch, di perbatasan Austria dan Italia. Mumi itu diperkirakan berusia 5.300 tahun.

Di sekujur tubuh mumi yang kerap disebut “Otzi the Iceman” itu ditemukan 50 buah tato berupa titik-titik dan garis-garis di bagian bawah tulang belakang, lutut kiri, dan pergelangan kaki kanannya. Diperkirakan semasa hidupnya si mumi menderita radang sendi, dan ada kemungkinan tato-tato itu merupakan metode pengobatan.

Di Indonesia budaya tato sudah ada di kalangan masyarakat Kepulauan Mentawai sejak tahun 53 sebelum Masehi. Nenek moyang orang Mentawai, yang merupakan bangsa Proto Melayu, datang ke Indonesia dari daratan Asia ke pantai barat Sumatra sekitar 1.500-500 SM. Dan dalam masyarakat ini, tato memilki kaitan erat dengan sistem kemasyarakatan, sehingga setiap penduduk suku asli Mentawai memiliki belasan tato di sekujur tubuhnya.

Tato mereka memiliki beragam fungsi, seperti pernah dibahas dalam “Melestarikan Rajah Purba” yang dimuat di Tempo Online, 12 April 2010. Ada tato yang menjelaskan tempat tinggal dan suku asal seseorang, ada pula tato yang menjelaskan profesinya. Sikerei atau pemimpin adat suku asli Mentawai biasanya memiliki tato bintang sibalu-balu. Para pemburu memiliki rajahan berupa gambar binatang hasil tangkapan mereka: babi, rusa, kera, buaya, burung, dan sebagainya. Tato Mentawai juga berfungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Sayangnya, saat ini sudah sedikit penduduk suku asli Mentawai yang menato tubuhnya. Pada 1980-an praktik pembuatan tato tradisional yang disebut Titi itu pernah coba dihilangkan rezim Orde Baru. Orang-orang yang mempraktikannya dikenai hukuman berat.

Stigma negatif terhadap tato perlahan luntur. Banyak selebritas dunia memilih untuk merajah tubuh mereka. Majalah Life di Amerika mencatat pada 1936 setidaknya 10 juta orang Amerika memiliki rajah di tubuhnya. Saat ini jumlah itu meningkat hingga 40 juta orang. Di Amerika saja setidaknya ada 20.000 tempat tato.

Ada banyak alternatif untuk membuat rajah di tubuh. Tato tradisional Mentawai biasanya dibuat dengan menggunakan tatah, yang diserut dari kayu pohon Karai lalu diruncingkan. Sementara pembuatan tato yang lebih modern menggunakan mesin tato. Mesin ini memiliki kumparan elektromagnetik yang akan menaik-turunkan jarum, sementara tinta meresap ke corak tato yang sedang dibuat.

Jika tak suka tato permanen, Anda bisa memilih tato temporer. Jenis tato ini bisa dilukis langsung, ditempelkan dengan menggunakan sejenis stiker khusus, atau dibuat dengan teknologi airbrush. Tato jenis ini bisa bertahan di permukaan kulit beberapa jam hingga beberapa bulan.

Pamor tato terangkat karena sejumlah selebritas memilikinya. Johnny Depp, Amy Winehouse, dan Angelina Jolie adalah contoh kecil dari selebritas Hollywood yang suka menato tubuh mereka. Angelina Jolie memiliki setidaknya selusin tato. Corak tato yang disebut “Tribal Dragon Tattoo” yang ditorehkan di bagian panggulnya kini sering dipilih kaum hawa.

“Biasanya saya menorehkan tato di waktu-waktu terbaik dalam kehidupan saya. Sebuah tato adalah sesuatu yang permanen saat Anda mengenali hal yang amat penting tentang diri Anda, atau saat Anda pada akhirnya memutuskan sesuatu yang besar,” ujar Jolie dalam sebuah wawancara dengan USA Today pada 2004.

Di kalangan selebritas Indonesia, tato menjadi sesuatu yang in dan trendi. Tengoklah Tora Sudiro yang merajahkan berbagai corak di sekujur tubuhnya, atau model cantik Fahrani yang keranjingan menato tubuh sejak berusia belia. Ada yang tatonya berada di bagian tubuh yang terbuka sehingga orang lain bisa melihatnya, ada pula yang memilih di bagian tubuhnya yang tersembunyi.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Historia
Historia