Pilih Bahasa: Indonesia

Si Putih yang Mendunia

Dari sekadar kerah asesoris, ia menjadi salah satu ikon kemeja pria kenamaan di dunia. 
Historia
Historia
pengunjung
37.6k

KEMEJA Arrow pernah bikin Sukarno dan Sjahrir bertengkar semasa sama-sama jadi tawanan Belanda. Peristiwa tersebut terjadi saat Sukarno meminta kemeja Arrow kepada penjaga tahanan. Karena jenggah, Sjahrir berucap: "Kamu ini kan presiden, kenapa minta-minta seperti itu? Jaga martabat, Bung!"

Kisah tersebut memang hanyalah fiksi, tertulis dalam novel Presiden Prawiranegara garapan Akmal Nasery Basral. Meski demikian, kecintaan Bung Karno terhadap kemeja Arrow adalah sebuah kenyataan. Dalam Menyingkap Tirai Sejarah Bung Karno & Kemeja Arrow, sejarawan Asvi Warman Adam merujuk catatan Maulwi Saelan, ajudan Presiden Sukarno, yang menuliskan saat keluar istana Bung Karno meninggalkan banyak buku dan benda lainnya seperti arloji dan kemeja Arrow.

Kemeja Arrow dikenal sebagai salah satu merek kemeja tertua di dunia. Kisah suksesnya berawal di kota Troy, New York, pada 1851 saat perusahaan Maullin & Blanchard milik Joseph Maullin mulai memproduksi semacam kerah "bongkar-pasang" untuk kemeja pria. Di Amerika, kerah aksesoris tersebut ngetop di era 1920-an. Kerah aksesoris (collar) ini adalah temuan Hannah Montague pada 1820, yang ingin agar kemeja pria terlihat selalu rapi meski tak dicuci setiap hari.

Karena populer, banyak perusahaan ikut-ikutan memproduksi collar. Maullin & Blanchard salah satunya, yang memperkenalkan produk mereka dengan label "Arrow". Perjalanan Arrow sendiri cukup terjal. Maulin Blanchard mengalami beberapa kali akuisisi, merger, dan pergantian nama hingga sejak 1899 dikenal dengan sebutan Cluett Peabody & Company.

Satu satu yang fenomenal dan selalu diingat dari Arrow adalah tampilan iklannya yang legendaris. Bekerjasama dengan seorang pakar ilustrator bernama J. C. Leyendecker, ilustrasi model dalam iklan yang dirilis pada 1905 itu begitu populer di Amerika. Model ilustrasi tersebut kemudian dikenal dengan sebutan "The Arrow Collar Man". Presiden Theodore Rosevelt jadi salah satu fansnya.

Dalam Legendary Local of Troy, Donn Rittner menulis, The Arrow Collar Man adalah tokoh fiksi yang kemudian menjelma menjadi gambaran seorang lelaki yang seksi lewat tampilan modis dengan menggunakan produk Cluett Peabody &Company. Saking populer, tokoh fantasi ini menerima 17 ribu surat dari para penggemarnya setiap hari. Kebanyakan dari kaum hawa. Tokoh ini pulalah yang menginspirasi George S. Kaufman dan Marc Connelly untuk melahirkan drama musikal Helen of Troy yang pentas kali pertama pada 1923 di Broadway.

The Arrow Collar Man sesungguhnya tidaklah seratus persen fiksi. Leyendecker membuatnya dengan menggunakan seorang model bernama Charles A. Beach, seorang kawan yang bekerja di perusahaan ilustrasinya.

Iklan itu mengangkat penjualan Arrow. Pada awal 1920, Cluet Peabody & Company sukses menjadi perusahaan garmen terbesar di Amerika. Dalam seminggu, produk collar dan kemejanya bisa terjual sebanyak empat juta potong. Selain itu, produk-produk Arrow mulai diekspor ke Batavia dan Kongo. Namun, perlahan popularitas collar meredup. Gaya berpakaian kaum pria muda Amerika mulai beralih ke kemeja utuh, dengan kerah terpasang.

Menjelang 1930, ketika angka penjualan produk menyurut, Arrow melakukan perubahan. Bila awalnya kerah dan kemeja dibuat terpisah, maka mulai saat itu diproduksi sebagai kemeja utuh. Mereka menciptakan 64 kombinasi bentuk kerah dan panjang lengan untuk kemeja. Selain itu mereka memperkenalkan teknologi terobosan –dipatenkan pada 1930 dengan nama "Sanforized"– yang memungkinkan kemeja tak jadi menyusut setelah dicuci berulang kali. Pada tahun yang sama Cluett Peabody & Company juga menghadirkan produk celana dalam, sapu tangan, dan piyama merek Arrow.

Produk Arrow sempat beralih ke seragam militer saat Perang Dunia II meletus. Tapi pascaperang mereka kembali memproduksi kemeja dan meningkatkan lini produksi dengan menghadirkan produk serupa jaket olahraga, jas, dan pakaian renang. Di dunia, orang mengenal Arrow sebagai produk yang berkualitas dan nyaman dipakai.

Lynn Upshaw dalam Building Brand Identity menuliskan, Arrow dapat berkembang karena perencanaan bisnis yang baik. Untuk waktu lama, Arrow dikenal lewat produk kemeja putih tradisionalnya, walau kemudian juga memproduksi kemeja berwarna.

Hingga kini, Arrow –yang sudah diakuisisi PVH Company– dikenal masyarakat dunia sebagai ikon kemeja kenamaan. Tak heran jika pada 2001, Arrow menggunakan semboyan "A History of Excellent".

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Historia
Historia