Pilih Bahasa: Indonesia

Sedia Payung Walau Tak Hujan

Payung tak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan terik matahari, tapi juga trend gaya hidup modern.
Historia
Historia
pengunjung
4.2k

INGAT lagu “Umbrella” yang dilantunkan Rihanna? Ya, lagu itu pernah menduduki tangga lagu terpopuler di seluruh dunia. Payung atau umbrella, dari bahasa Latin umbra yang berarti bayang-bayang, sontak kembali populer. Menyusul kesuksesan lagu itu, Rihanna sendiri berbisnis payung dengan bahan berkualitas dan bentuk yang fashionable. Dia bekerjasama dengan perusahaan payung terbesar di Amerika Serikat, Totes.

Di Hollywood, media menyoroti sejumlah selebritas yang doyan menggunakan payung untuk keselamatan diri. Britney Spears dan Jessica Biel, misalnya, menggunakan payung untuk menghindari paparazi. Bahkan Spears menggunakannya untuk menyerang paparazi yang terus menguntitnya.

Payung masih bertahan hingga kini, meski jejaknya sudah terekam ribuan tahun lalu melalui artefak-artefak kuno di Mesir, Syiria, China, dan Yunani. Payung juga muncul dalam sebuah legenda Tiongkok. Disebutkan, payung kali pertama dibuat oleh seorang pria bernama Luban sekitar 3.500 tahun lalu. Suatu hari Luban kasihan pada istrinya, Yun, yang seringkali kehujanan saat mengantarkan makanan ke tempat kerjanya. Terinspirasi dari anak-anak yang menggunakan daun bunga teratai sebagai pelindung dari hujan, dia lalu mendesain rangka fleksibel dari kayu dengan tudung dari kain atau kertas berlapiskan lilin agar tahan air.

Terlepas dari asal-usulnya, sejarah mencatat penggunaan payung untuk upacara-upacara keagamaan serta penanda jabatan dan status sosial. Di China, pejabat di Dinasti Han yang punya kedudukan tak begitu tinggi menggunakan payung berwarna hijau, sementara kaisar Dinasti Song menggunakan payung berwarna kuning dan merah. Di Tibet, tudung payung berbahan sutera mencerminkan penggunanya sebagai orang religius terkemuka, sementara orang-orang kayanya memakai payung bersulam bulu merak. Sejumlah kerajaan di Nusantara menjadikan payung sebagai simbol kebesaran atau kekuasaan sang raja. Kekuasaan VOC hingga kolonial Belanda berusaha melucuti simbol itu dengan menerapkan aturan-aturan, meski tak selalu berhasil.

Di Eropa, payung baru populer awal abad ke-16. Sebelumnya payung dianggap aksesoris yang hanya cocok untuk perempuan. Pada pertengahan abad ke-18 seorang pengembara dan penulis dari Persia bernama Jonas Hanway menggunakan payung di depan publik di Inggris. Aksinya mengubah cara pandang lelaki Inggris terhadap payung. Sejak itu banyak pria Inggris berani menggunakan payung di depan umum. Payung kemudian sering disebut “Hanway”.

Desain payung juga berevolsi. Bahan untuk pembuatan kerangka payung di Eropa umumnya kayu atau tulang paus sedangkan tudungnya terbuat dari kanvas berminyak. Pegangan lengkung terbuat dari kayu keras seperti eboni. Barulah pada 1852, payung berangka baja muncul, yang diciptakan Samuel Fox. Lalu diikuti pematenan alat penaruh payung oleh William C. Carter, orang Afro-Amerika, pada 8 Agustus 1885.

Inovasi tak pernah berhenti, bahkan desain payung kian unik dan multiguna. Di Taiwan, sebuah perusahaan payung menambahkan lampu flash dan tombol alarm di gagang payung untuk melindungi penggunanya dalam situasi berbahaya. Di China, perusahaan payung Jinjiang Fuyuda Garment & Umbrella Co, Ltd membuat payung berbentuk samurai. Perusahaan payung Moonbat di Tokyo Jepang mengembangkan payung yang melindungi penggunanya dari sinar ultraviolet.

Payung modern juga makin praktis. Sebuah perusahaan Amerika mendesain payung unbreakable yang terbuat dari baja ringan seberat 775 gram berbentuk tongkat bisbol. Shus selection asal Jepang mengembangkan payung berukuran sebesar telapak tangan. Ada payung yang bisa langsung dilipat dan jadi tas modis selesai digunakan. Atau payung Senz, dirancang oleh Gerwin Hoogerdoorn, yang mampu menahan tiupan angin hingga kecepatan 100 kilometer per jam. Sejumlah payung dilengkapi dengan LED, dengan pegangan atau tudung yang menyala. Ada juga yang tudungnya bisa berubah warna atau menyala begitu terkena tetesan air hujan.

Payung juga mulai mendapat sentuhan teknologi komunikasi modern. Dengan “The Bluetooth Mobile Messenger Umbrella” Anda bisa tetap berkomunikasi karena gagang payung dilengkapi touchscreen yg terhubung ke ponsel. Ada juga “The Weather Forecasting Umbrella” yang menggunakan teknologi wifi yang menghubungkan payung tersebut dengan rumah atau kantor Anda.

Menurut Susan Orleans dalam “Thingking in the Rain” yang dimuat di The New Yorker, 11 Februari 2008, payung adalah produk konsumen dengan pasar global yang besar. Pada 2008, sebagian besar payung di dunia dibuat di China, terutama provinsi Guangdong, Fujian, dan Zhejiang. Kota Shangyu saja memiliki lebih dari seribu pabrik payung. Di Amerika Serikat, sekitar 33 juta payung senilai 348 juta dolar dijual setiap tahun. Payung juga terus dikembangkan. Hak paten terus diajukan ke Kantor Paten. Pada 2008, kantor itu menerima pendaftaran 3.000 paten yang berkaitan dengan payung. Saking banyaknya, perusahaan payung terbesar di Amerika, Totes, tak lagi menerima proposal. Direktur pengembangannya bilang, karena payung adalah hal biasa sehingga semua orang memikirkannya, “sulit untuk datang dengan sebuah ide payung yang belum ada,” ujarnya, seperti dikutip Susan Orleans.

Tapi payung tak berhenti mengembang. Takashi Matsumoto dan Sho Hashimoto mengembangkan prototipe payung dengan teknologi modern. Namanya Pileus, si payung internet. Payung ini memiliki layar lebar di permukaan-dalam, built-in kamera, sensor gerak, GPS, dan kompas digital. Prototipe saat ini memiliki dua fungsi: berbagi foto dan navigasi peta 3D. Anda bisa mengambil foto dengan kamera pada payung, lalu mengungahnya ke Flickr. Sementara navigasi akan mendeteksi dan menampilkan lokasi di sekitar. Semuanya dilakukan dengan mudah. Berpayung pun jadi aktivitas menyenangkan.

Varian-varian bentuk payung yang kini tersedia di pasaran menunjukkan bahwa payung tak lagi sekadar alat pelindung panas dan hujan namun juga bagian dari gaya hidup. Selain Rihanna, sejumlah desainer kenamaan membuat payung-payung cantik, seperti Chanel, Louis Vuitton, Dior, dan Gucci.

Dengan payung modis seperti itu, berjalan dengan pasangan di bawah guyuran hujan akan lebih menyenangkan, sembari menyanyikan lagu Rihanna: ella ella eh eh eh ...

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Historia
Historia