Pilih Bahasa: Indonesia

Masa Lalu Kancut

Penampilan luar seseorang, katanya, menunjukkan kepribadiannya. Bagaimana dengan celana dalamnya?
Historia
Historia
pengunjung
17.9k

SEJARAWAN Henk Schulte Nordholt dalam pengantarnya untuk buku Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan menulis bahwa pakaian memiliki arti penting dalam konteks sosial apabila kita membayangkan bagaimana jadinya kalau orang berjalan telanjang di jalanan atau ruangan? Tentu mereka, demikian Henk, “Akan segera kehilangan penampilan akrab mereka dan dengan demikian akan kehilangan sebagian besar identitas mereka.” Dengan kata lain, lanjut Henk, “Pakaian adalah kulit sosial dan kebudayaan.”

Lantas bagaimana dengan pakaian dalam pria?

Dalam sebuah adegan film Si Pitung (1977) garapan sutradara Alam Rengga Surawijaya, Scott Heine (Hamid Arif) kepala polisi musuh bebuyutan si Pitung tampak tergopoh-gopoh keluar dari kamarnya setelah mendengar seseorang menggedor pintu rumahnya. Dia tak mengenakan baju kecuali selembar celana sepanjang lutut yang kerap disebut kolor. Maklum, Scott baru saja berasyik masyuk dengan nyainya ketika suara gedoran itu mengganggu konsentrasinya.

Kolor yang dikenakan Scott mirip celana bokser atau celana Hawaii namun tanpa motip, hanya berwarna putih polos. Seutas tali karet melingkar di pinggang untuk mengetatkan ikatannya supaya tidak melorot. Tali itu pun kerap disebut tali kolor. Kolor seperti yang digunakan oleh Scott Heine itu populer di kalangan pria di Indonesia sebelum celana dalam berbentuk segitiga atau juga disebut Y-Front menggantikannya.

Kecuali dari lukisan kuna dan relief candi, sampai sekarang belum diketemukan sumber sejarah yang memberi informasi tentang bentuk celana dalam yang pernah digunakan oleh nenek moyang di Nusantara. Beberapa relief pada candi atau gambar kuno menunjukkan lelaki pribumi mengenakan selembar kain yang dikebat di antara kedua paha dan diikat seutas tali yang dikepang. Gambar itu pun belum bisa secara pasti disebut sebagai celana dalam karena pada beberapa relief atau lukisan kuno lain juga tampak lelaki pribumi mengenakan selembar kain yang dikenakan menutupi pinggang sampai sebatas lutut.

Helen Reynolds dalam serial buku Mode dalam Sejarah edisi Pakaian Dalam menulis jauh sebelum bentuk celana dalam yang kita kenal sekarang, pria, khususnya di Eropa zaman pertengahan, menggunakan braies. Braies adalah selembar kain yang diselipkan di antara dua kaki, ditarik ke atas dan disusupkan ke tali pinggang. Braies, menurut Helen, “Selanjutnya dikenal sebagai drawers, merupakan nenek moyang celana dalam modern dengan satu perbedaan besar.” Perbedaan itu terletak pada tiadanya jahitan di pangkal paha (crotch seam). Pada abad ke-18 drawers dibuat lebih sempit agar tidak menggembung di bawah, menghindari ketidaknyamanan penggunanya.

Pada abad ke-19 drawers berukuran panjang sebatas lutut. Kancing-kancing ditambahkan, dan pada akhir abad 19 bagian kuci paha diberi penutup, terpisah dari bagian tutup depan. Bersamaan dengan ditemukannya karet sintetis bentuk drawers menjadi celana elastis yang melekat ketat pada kulit. Bentuk lain celana dalam adalah long john yang akrab bagi pria di negeri dingin. Menurut Helen, long john juga mulai digunakan pada abad ke-19 dan semakin populer ketika aktor Burt Lancaster mengenakannya dalam film The Professionals yang berlatar tahun 1917.

Berbagai macam cara ditempuh untuk menciptakan bentuk celana dalam pria yang nyaman dikenakan. Untuk olahraga misalnya, pun ada celana dalam yang sengaja didesain untuk mendukung aktivitas tersebut. Pada 1874 CF Bennet dari perusahaan alat olahraga Sharp & Smith di Chicago menciptakan celana dalam khusus untuk pengemudi sepeda yang biasa melintasi jalanan Boston yang berbatu. Bentuk celana dalam segitiga inilah yang kemudian menjadi cikal bakal celana dalam yang kita kenal sekarang.

Seiring perkembangan zaman dan tumbuhnya industri pakaian, memasuki abad ke-20 produksi celana dalam pria pun dilakukan secara massal. Banyaknya permintaan celana dalam membuat industriawan tertarik untuk memproduksi celana dalam pria yang semakin lama semangkin banyak dibutuhkan. Bentuk celana dalam pun makin bervariasi. Beberapa pabrik celana dalam, seperti Porosknit di Inggris menciptakan celana dalam pria khusus musim panas. Bentuk celana dalam itu menyatu dengan baju dalam yang mirip dengan long john namun dengan banyak lubang ventilasi untuk menghindari lembabnya tubuh yang basah oleh keringat. Sementara itu di Amerika juga telah terlebih dulu diketemukan bentuk pakaian dalam yang longgar yang biasa digunakan pada musim panas.

Pada negara yang beriklim dingin pakaian dalam didesain khusus agar para pria yang menggunakannya tidak terserang hawa dingin yang langsung tembus ke tubuhnya. Celana dalam yang bentuknya hampir serupa dengan long john adalah termal. Celana dalam ini menutupi hampir seluruh bagian kaki mulai dari pinggang sampai ke lutut. Celana dalam ini mulai dipopulerkan pada tahun 1980-an. Termal dibuat dari berbagai macam bahan seperti sutra atau katun. Celana dalam ini memberikan penggunanya kehangatan yang maksimal dan membebaskan mereka dari musim dingin yang menyiksa.

Semakin lama bentuk celana dalam pun semakin berubah. Lama kelamaan pria lebih menyukai celana dalam yang praktis, nyaman dan lebih penting lagi: antiselip. Setelah CF Bennet dari Chicago menemukan desain celana dalam bentuk segitiga pertama, pada 1930-an perusahaan pakaian dalam pria di Amerika Serikat, Coppers, memperkenalkan bentuk celana dalam Y-Front yang sempit dan kemudian dikenal sebagai Jockey. Model inilah yang sampai sekarang masih populer dan merupakan penyempurnaan dari bentuk celana dalam yang ditemukan oleh Bennet. Penggunaannya pun tak terbatas pada atlet balap sepeda saja, melainkan semua pria yang ingin nyaman dalam berbusana.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia