Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Ketatnya Sejarah Legging

Berawal dari pelindung sejak berabad-abad silam, legging kini jadi pemberi nilai tambah penampilan.
 
Battle of Culloden, lukisan karya David Morier (1746) mengabadikan penggunaan legging oleh para prajurit kedua belah pihak yang bertempur.
Historia
pengunjung
5.4k

Susi begitu ceria siang itu. Mengenakan pakaian ketat polos, dengan aksesoris di leher dan pergelangan tangan, dia terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Bak lady rocker, dia kemudian bernyanyi sembari bergoyang mengikuti irama. Sesekali goyangannya berubah erotis. Tingkah polahnya genit. Tak peduli banyak pasang mata memandanginya.

Siapa tak tergoda. Susi hanya membalut tubuhnya dengan pakaian ketat: atasan you can see rada transparan dan bawahan panjang mengkilat bernama legging. Lekuk tubuh bagian bawah Susi terlihat jelas di balik kain tipis itu. Tiga sahabatnya, Dono, Kasino, dan Indro mendekat. Mereka bersaing memikat hati Susi yang cantik dan seksi.

Adegan tari perpisahan Susi (diperankan Eva Arnaz) dan tiga sahabatnya menjadi penutup film Warkop DKI Atas Boleh Bawah Boleh, produksi 1986. Film ini mengisahkan persahabatan Dono, Kasino, Indro melewati pahit-manis kehidupan masa muda. Gaya hidup perkotaan menyuguhkan hal-hal “tabu” kala itu seperti pemakaian legging nan seksi.

Sebelumnya, film Warkop DKI keluaran 1980, Gengsi Dong, juga menunjukkan keberadaan legging. Meski sebentar, film itu menampilkan Rita (diperankan Camelia Malik) mengenakan legging lateks berwarna merah. Meski tak ada catatan pasti kapan legging masuk ke Indonesia, sekitar tahun itulah banyak orang di beberapa kota besar sudah memakainya.

Siti Mulia, wiraswastawati berusia 43 tahun, ingat sewaktu kecil ibunya membelikanlegging. “Beliau belikan macam-macam warna. Panjangnya ada yang sedengkul, sebetis, dan semata kaki,” ujarnya kepada Historia. “Paling sesekali aja dipakai main di depan rumah atau ke rumah teman, dekat rumah, atau tetangga. Tapi atasannya pakai kaos longgar sedikit di atas dengkul. Malu kalau pakai kaos ketat pendek, karena legging celana ketat.”

Penggunaan legging masih terbatas untuk aktivitas berolahraga atau dansa (balet dan disko). Belakangan ini saja jamak menemukan perempuan berbusana legging di pusat-pusat keramaian hingga kantor.

Perlengkapan Militer

Jauh sebelum legging menjadi bagian dari dunia mode, lelaki maupun perempuan di Timur maupun Barat sudah mengenakan kain pembungkus kaki itu. Mereka umumnya membuat legging sendiri dari kulit hewan atau serat tanaman.

Melalui koleksi artefak maupun manuskrip, beberapa museum di Eropa seperti Louvre (Paris) atau British Museum (London) menunjukkan legging sudah dipakai orang sejak sebelum Masehi. Dinginnya cuaca, gigitan serangga, atau gangguan lainnya mendorong orang membuat legging untuk melindungi kaki.

Bangsa Assyria dan Babilonia sudah memperlengkapi para prajuritnya dengan legging dan pelindung tubuh lain sejak abad ke-6 SM. Relief pada Nineveh of Sardanapalus V (700 SM) menunjukkan beberapa pose tentara Assyiria dengan kostum tempurnya. Legging dipakai untuk melengkapi pelindung kaki lainnya yang terbuat dari baja.

Semasa berkuasa mulai 1066 M, William “Sang Penakluk” juga menjadikan leggingsebagai komponen pakaian militernya. Bentuknya seperti kaus kaki, sebatas lutut, tapi dilengkapi besi. “Berasal dari abad kesebelas, cuishes dan legging dengan sol kaki di tiap potongannya hampir selalu terbuat dari rantai besi-baju zirah,” tulis Auguste Demmin dalam An Illustrated History of Arms and Armour.

Bangsa Celtic di dataran tinggi (highland) Skotlandia mempopulerkan legging semasa Abad Pertengahan. Bermotif kotak-kotak (tartan), ia dikenal dengan istilah trews. Wujudnya masih seperti stocking (terpisah), tak seperti legging sekarang yang mirip celana. Lukisan David Morier, seniman yang mengabdi pada Duke of Cumberland, berjudul Battle of Culloden mengabadikan trews semasa kolonialisme Barat mulai merambah ke berbagai tempat.

Menyusul pemberontakan George I dari Hanover, yang didukung klan-klan dari dataran tinggi Skotlandia, pemerintah Kerajaan Inggris melarang penggunaan trews pada abad ke-18 melalui Dress Act of 1746. Inggris mencap legging sebagai atribut pemberontak; sebagaimana cap pemberontak kepada orang-orang dataran tinggi Skotlandia, dikenal dengan sebutan highlander.

Orang-orang dataran tinggi Skotlandia tetap bisa menyelamatkan pakaian warisan leluhurnya itu setelah berkompromi dengan penguasa, dengan terpaksa menjadi buruh tani di perkebunan-perkebunan milik orang Inggris atau orang-orang dataran rendah (low land) Skotlandia dan menjadi serdadu di berbagai kesatuan Tentara Kerajaan Inggris. Banyak prajurit Skotlandia di tentara kerajaan ikut dalam operasi-operasi militer di Amerika, yang kala itu masih koloni Inggris.

Orang Indian di Amerika juga sudah mengenakan legging sejak lama. Ketika highlanders, dengan kesatuan-kesatuan militer masing-masing, tiba di Amerika untuk memerangi Prancis atas nama Inggris –yang sejak berabad-abad sebelumnya saling bersaing dan berperang– banyak dari mereka menggunakan legging penduduk asli.

Penggunaan legging dalam militer terus berlanjut dan pembuatannya pun terus mengalami perbaikan. Hingga Perang Dunia II, para serdadu AS masih menggunakan legging. Namun karena tak praktis, selain beberapa masalah pada sepatu boot mereka, para prajurit pun protes. “Pasukan mengeluhkan ketidaknyamanan memakai dan melepas legging, minimnya daya tahan, tali mudah rusak, dan konfigurasi ikatan tali yang rumit,” tulis Shelby Stanton dalam US Army Uniforms f World War II.

Menjelang berakhirnya perang, dengan hadirnya sepatu boot militer yang jauh lebih baik, penggunaan legging dalam militer menyusut.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Battle of Culloden, lukisan karya David Morier (1746) mengabadikan penggunaan legging oleh para prajurit kedua belah pihak yang bertempur.
Battle of Culloden, lukisan karya David Morier (1746) mengabadikan penggunaan legging oleh para prajurit kedua belah pihak yang bertempur.