Pilih Bahasa: Indonesia

Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Indonesia

Zulkifli Lubis dianggap sebagai peletak dasar lembaga intelijen Indonesia, sehingga dinobatkan sebagai Bapak Intelijen Indonesia.
 
Zulkifli Lubis saat berkeliling dunia untuk memperdalam ilmu intelijen.
Foto
Historia
pengunjung
39.5k

SEBELUM berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi di AMS-B, Zulkifli Lubis mendapat pesan dari orangtuanya. Ibunya menekankan pentingnya mencari nasihat kepada orang tua, baik umurnya maupun pengalamannya. Ayahnya, seorang pamongpraja, juga berpesan: Met de hoed in de hand, komt je in de gang in de wereld (dengan menghargai orang lain, dunia akan menerimamu).

Bagi Lubis, ajaran ayah dan ibunya sama dengan ajaran intelijen. Agar dapat “menerima nasihat”, seseorang harus bersikap demokratis dan rendah hati. Begitu pula dengan cara intelijen. “Harus ramah, baru bisa mencari nasihat (baca: informasi). Kalau kita sombong, tidak bisa mencari nasihat. Satu segi dari nilai demokrasi itu adalah mampu mengendalikan diri menjadi mencari nasihat. Itu yang saya praktikkan,” kata Lubis dalam memoarnya di majalah Tempo, 29 Juli 1989.

Lubis hanya sampai kelas dua AMS-B karena Jepang datang. Teman sekolahnya, Pawoko, mengajaknya masuk Seinen Kurenso (tempat latihan pemuda). Setelah menjalani latihan semimiliter dan indoktrinasi selama dua bulan, Lubis dikirim ke Seinen Dojo (tempat penggemblengan pemuda) di Tangerang. Seinen Dojo dibuka Januari 1943 dengan penanggungjawab Letnan Yanagawa dan Letnan Marusaki, perwira Beppan (Dinas Intelijen Khusus Tentara ke-16 Angkatan Darat).

Menurut Joyce C. Lebra dalam Tentara Gemblengan Jepang, dengan rahasia para pemuda dibawa ke Tangerang, sehingga dalam banyak hal orangtua mereka tidak mengetahui tujuan perjalanan mereka.

“Boleh dibilang, sebetulnya itu sekolah akademi intelijen cuma istilahnya disebut Seinen Dojo. Karena itu, kami di bawah Markas Besar Intelijen Jepang. Itulah pertama kali saya belajar intelijen, sekitar awal 1943. Saya masih berumur 19 tahun,” kata Lubis.

Selama enam bulan Lubis dan teman-temannya melakukan latihan mencakup teknik-teknik dasar militer, latihan fisik seperti senam, renang, sumo dan kendo; ilmu pengetahuan seperti bahasa Jepang, sejarah kolonialisme Belanda, dan peristiwa-peristiwa dunia; serta intelijen terdiri dari taktik, spionase, kontraintelijen, propaganda, konspirasi, pengintaian, penghubung, dan kamuflase. Meski disiplinnya begitu keras, tetapi angkatan pertama mengakhiri pendidikannya dengan baik.

Selanjutnya, sebagai pembantu satu-satunya orang Indonesia, Lubis dibawa Rokugawa, mantan komandan Seinen Dojo, ke Malaysia dan Singapura. Di Negeri Singa, untuk kali pertama Lubis diperkenalkan dengan Fujiwara Kikan (Badan rahasia Jepang untuk Asia Tenggara). Dia juga bersua dengan perwira Jepang, Mayor Ogi, bahkan sekamar dengannya. Berkat aktivitas intelijen Mayor Ogi, tentara Prancis menyerah dan Jepang menguasai Vietnam tanpa perang. Dari Mayor Ogi, Lubis mendapat pelajaran bagaimana mempengaruhi komandan musuh di negara asing, sampai bisa menyerah, tanpa melalui pertempuran. Rokugawa juga mengajari Lubis teori maupun praktik intelijen.

Pascaproklamasi kemerdekaan, Lubis berpikir bahwa dalam setiap gerakan apapun, keberadaan intelijen dibutuhkan. Karena itu, dia mendirikan Badan Istimewa (BI) pada Agustus 1945 –versi lain September 1945– di bawah Badan Keamanan Rakyat (BKR). Melalui BKR, dia merekrut sekira 40 orang bekas perwira gyugun (Angkatan Darat Jepang) dari seluruh Jawa. Selama seminggu, dia melatih mereka praktik intelijen, terutama untuk informasi, sabotase, dan psywar.

“BI dibentuk secara sederhana menurut desain yang diperoleh Zulkifli Lubis ketika mendapat pendidikan intelijen dari tentara Jepang. Kondisi geografis yang sangat luas menyebabkan daerah operasi BI hanya berada di Pulau Jawa. Situasi di beberapa wilayah Indonesia sangat sulit bagi anggota BI untuk melancarkan operasi intelijen,” tulis Hariyadi Wirawan, “Evolusi Intelijen Indonesia,” termuat dalam Reformasi Intelijen Negara.

Cabang-cabang BI di seluruh Jawa dipimpin oleh mereka yang ikut latihan pertama. Mereka harus berhubungan baik dengan BKR dan organisasi perjuangan setempat. Mereka diarahkan untuk mengumpulkan informasi dari pihak musuh dan dari luar serta mengadakan psywar. Meski hanya di Pulau Jawa, Lubis mengirim ekspedisi ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, pada akhir 1945 untuk melawan Belanda. Salah satu operasinya, menyelundupkan senjata dari Singapura untuk membantu perjuangan di Kalimantan di bawah pimpinan Mulyono dan Cilik Riwut. “Jadi, boleh dikatakan, organ intelijenlah yang pertama mengembangkan secara riil beroperasi ke seluruh Indonesia,” klaim Lubis.

Lubis sering mengunjungi bekas tentara Jepang, teman-temannya, yang memihak Republik. Terutama Ichiki Tatsuo yang dia kenal ketika menjalani pendidikan Peta. Lubis meminta mereka membuat buku pedoman pengajaran strategi perang gerilya dalam bahasa Indonesia. “Buku tentang taktik perang gerilya itu, kami kerjakan di Sarangan. Kami menulis dua buku, satu tugas dari Markas Besar Tentara di Yogyakarta, yang kedua tentang taktik khusus perang gerilya permintaan Zulkifli Lubis. Semua yang menulis bahasa Indonesia Ichiki sensei. Bukunya langsung diserahkan kepada Zulkifli Lubis. Selanjutnya kami sama sekali tidak tahu,” kata Rahmat Shigeru Ono, dalam memoarnya, Mereka yang Terlupakan.

Untuk membicarakan masalah intelijen, dr. Moestopo, Penasihat Agung Militer Pemerintah Republik Indonesia, mengambil prakarsa menemui Presiden Sukarno. Lubis menyusul kemudian menghadap Sukarno, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin, dan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Keluarlah restu untuk membentuk Badan Rahasia Negara Indonesia (Brani) pada 7 Mei 1946, sebagai payung satuan-satuan intelijen yang bergerak di bawah para komandan lapangan di seluruh Jawa. Sebagai bagian dari Brani, dibentuk Field Preperation (FP) di daerah-daerah. Brani dan FP langsung berada di bawah Presiden Sukarno.

“Masih tetap di bawah kendali Kolonel Lubis,” tulis Hariyadi, “Brani mencoba melakukan konsolidasi operasi guna menghadapi kemungkinan penguatan kembali militer Belanda.”

Lubis merekrut alumni Seinen Dojo dan Yugekki (Pasukan Gerilya Khusus) yang berbasis di Salatiga, seperti Bambang Supeno, Kusno Wibowo, Dirgo, Sakri, Suprapto, dan Tjokropranolo, untuk dilatih menjadi intel Brani dan FP. Mereka direkrut tanpa klasifikasi, hanya dilihat sekolahnya. Lubis berhasil membentuk jejaring intelijennya di seluruh Jawa.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin membentuk badan intelijen sendiri, yaitu Badan Pertahanan B, yang dikepalai bekas komisaris polisi, Sukardiman. Lembaga ini membuat laporan dan analisis mengenai keadaan untuk keberhasilan operasi intelijen. Pada 4 April 1946, Amir Sjarifuddin memerintahkan Roebiono, seorang dokter di Badan Pertahanan B, untuk membentuk badan pemberitaaan rahasia, disebut Dinas Code –kelak menjadi Lembaga Sandi Negara.

Demi konsolidasi politik, ketika menjabat perdana menteri, Amir Sjarifuddin membubarkan Badan Pertahanan B dan Brani serta membentuk badan baru, Bagian V (KPV), pada 30 April 1947 sebagai koordinator operasi intelijen, langsung di bawah Menteri Pertahanan. Lubis menuding pembubaran Brani karena Amir Sjarifuddin sebagai seorang komunis tak senang kepadanya dan ingin menyerahkan kendali intelijen kepada orang komunis. Hal ini terbukti, ketika Amir menunjuk orang kepercayaannya Kolonel Abdurahman, seorang komunis, dan Lubis sebagai wakilnya dibantu Fatkur, juga seorang komunis. Kelak baik Amir maupun Abdurahman adalah pelaku aktif peristiwa di Madiun tahun 1948.

“Jadi, saya mengalami beberapa kali pembubaran. Ada yang karena kebutuhan organisasi, tapi ada juga karena politis, karena orang tidak bisa menguasai saya,” kata Lubis.

Akibat Perundingan Renville, kabinet Amir Sjarifuddin jatuh pada Januari 1948. KP V dibubarkan, kemudian dibentuk Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Bagian I SUAD menjadi organisasi intelijen. Lubis kembali menjadi pemimpinnya merangkap kepala Markas Besar Komando Djawa (MBKD-I).

Setelah penyerahan kedaulatan, organisasi intel kembali berubah. Namanya menjadi Intelijen Kementerian Pertahanan (IKP) dengan Lubis tetap sebagai kepalanya. Lubis kemudian membentuk Bisap (Biro Informasi Angkatan Perang) pada 1952, yang bertugas menyiapkan info strategis untuk Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Perang TB Simatupang. Dia juga memprakarsai pendidikan lanjutan, bertempat di Kaliurang, Yogyakarta, bagi tenaga-tenaga yang sudah berpengalaman.

“Pendidikan itu tidak memakai tenaga dari luar negeri. Saya memperdalam intelijen sendiri. Dengan adanya badan pendidikan itu, saya punya kesempatan mempelajari bermacam-macam buku. Malah saya mempersiapkan intelijen itu sebagai ilmu tersendiri,” kata Lubis.

Akibat peristiwa 17 Oktober 1952, Bisap dan pendidikan intelijen dibubarkan. Permintaan Lubis kepada Simatupang agar tak membubarkannya, tak digubris. Sejak itu, Lubis tak aktif lagi di intelijen.

Dalam perjalanan sejarahnya, dari 1945 sampai sekarang, badan intelijen mengalami beberapa kali pergantian nama. Sampai akhirnya, pada 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengubah nama Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Negara) menjadi BIN (Badan Intelijen Negara).

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Zulkifli Lubis saat berkeliling dunia untuk memperdalam ilmu intelijen.
Foto
Zulkifli Lubis saat berkeliling dunia untuk memperdalam ilmu intelijen.
Foto