Pilih Bahasa: Indonesia
Campbell I | halaman 1

Wakil Dagang Sementara

Seorang pebisnis dan komunis yang bersimpati pada perjuangan Republik Indonesia diangkat menjadi perwakilan dagang Indonesia di Australia.
Historia
Historia
pengunjung
5.9k

Pada April 1946, Indonesia mengirim 500 ribu ton beras ke India untuk dibarter dengan tekstil. Keberhasilan “diplomasi beras” ala Sjahrir ini membuat eks-Digulis di Australia yang tergabung dalam Central Komite Indonesia Merdeka (CENKIM), lembaga yang mengurus orang Indonesia di Australia, ingin membuka hubungan dagang Indonesia-Australia, dengan melayangkan surat ke pemerintah Indonesia pada 15 Juli 1946. Apalagi Indonesia telah membuka Indonesia Export & Import Agency (NESIA) di Singapura.

Surat balasan datang dari Kementerian Luar Negeri bagian perdagangan luar negeri pada 26 Juli 1946. Isinya, pemerintah Indonesia belum bisa memberikan surat resmi untuk membuka perwakilan dagang kepada CENKIM. Tapi, pemerintah Indonesia berencana mengirim utusan muhibah (goodwill mission) ke Australia untuk menjajaki kemungkinan perdagangan luar negeri.

Dr Saroso Wirodihardjo, kepala Bagian Ekonomi Kementerian Kemakmuran, mengirim Tony Maramis dan Bob Menot ke Sydney. Mereka membawa surat perintah tertanggal 30 September 1946 untuk mendirikan perwakilan dagang dan memuat daftar hasil bumi yang bisa diekspor Indonesia seperti gula, karet, kopi, kapuk, vanila, kina, dan tembakau. Namun pemerintah Australia menyatakan keduanya imigran gelap karena mereka mantan pegawai kapal Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang sudah dikembalikan ke Indonesia (repatriasi) pada Oktober 1945.

“Kedatangan mereka sangat menggelisahkan Menteri Imigrasi (Arthur Augustus) Calwell karena aktivitas mereka sangat gelap,” tulis Mohamad Bondan dalam Memoar Seorang Eks-Digulis.

Selain itu, di Sydney mereka juga tak berhasil mendirikan kantor dagang. Keberadaan mereka justru menimbulkan perpecahan di antara warga Republik di Sydney. Pasalnya, mereka dibekali uang sebesar 3000 pound Australia. Oleh Maramis, uang itu disimpan atas namanya, dan kemudian menggunakannya untuk membeli mobil dan rumah. Akibatnya, Menot dan Maramis harus kembali ke Singapura. Di sana mereka dikucilkan oleh NESIA. Dan NESIA kemudian meminta Campbell mengambil-alih perwakilan dagang yang dirintis Maramis.

CENKIM juga mendesak Perdana Menteri Sutan Sjahrir untuk mengangkat Campbell sebagai Perwakilan Dagang Sementara (Trade Commissioner Temporary). Dalam surat lamarannya kepada Sjahrir, Campbell menyatakan, “kami percaya kini sudah tiba waktunya untuk melakukan perdagangan dengan jalan resmi. Untuk mencapai ini saya sudah mendekati menteri yang berwenang untuk pengakuan resmi dan reaksinya tampak menyenangkan.”

Pada 14 Desember 1946 Campbell menerima surat pengangkatan.

“Saya tahu pasti,” kata Bondan, “bahwa Campbell secara suka rela dan segala ongkos untuk keperluan biaya Trade Commissioner Temporary dirogoh dari kantongnya sendiri.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 35 Tahun 3
Kuliner Nusantara Rasa dan Cerita
Kali ini kami menyajikan kisah tentang makanan, tentang citarasa nusantara yang merentang sejak zaman dahulu kala. Tak hanya tentang masakan..
 
Historia
Historia