Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Tedjo Sumarto yang Sarjana Hukum

Kisah pembawa acara Forum Negara Pancasila, program semi-indoktrinasi ala radio RRI yang jadi kenangan bagi banyak orang.
Tedjo Sumarto, penyiar acara Forum Negara Pancasila di RRI.
Foto
Historia
pengunjung
9.5k

HARI Minggu tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an menjadi hari yang meninggalkan kenangan bagi sebagian orang Indonesia. Suara berat seorang pria di RRI menyapa pendengar di berbagai penjuru negeri saban pagi. “Selamat berjumpa kembali dalam acara Forum Negara Pancasila, bersama saya, Tedjo Sumarto Sarjana Hukum,” kata si pria ketika membuka acaranya di siaran RRI.

Menurut Tedjo Sumarto, si penyiar itu, acara mimbar hukum bertajuk “Forum Negara Pancasila” itu berawal dari ketaksengajaan. Suatu hari di tahun 1980, sejumlah alumni Akademi Penerangan mendatangi rumahnya. Mereka mengutarakan hasil rapat dngan Menteri Penerangan Ali Murtopo, yang meminta sebuah program penerangan politik, hukum, dan tatanegara melalui RRI dan disiarkan tiap pekan plus tak boleh kehabisan bahan. Kawan-kawan Tedjo tak menyanggupi permintaan itu, dan kemudian membawanya ke Tedjo.

Tedjo menyanggupi. Teman-temannya lalu mengusulkan namanya kepada menteri. Persetujuan pun datang. Sementara itu, Tedjo memutuskan membuat satu acara yang tak bergantung kepada kabinet. Tedjo ingin, acara yang akan mengudara itu tetap bertahan meski pemerintahan berganti. “Selama negara ini berdasarkan Pancasila, Forum Negara Pancasila ini bisa berjalan terus,” katanya kepada Historia.

Pada Februari 1981, Tedjo mendapatkan kesempatan siaran perdana. Tedjo siaran langsung pada pagi hari. Meski belum punya nama, acara tersebut terus mengudara saban Minggu setelah itu. Tedjo lalu menamakannya Forum Negara Pancasila (FNP).

Empat bulan berjalan, respons masyarakat mulai bermunculan terhadap acara tersebut. Presiden Soeharto merupakan salah satu pendengar setia sejak awal. Selain senang, Soeharto menganjurkan kepada para menterinya agar menyediakan waktu untuk mendengar FNP. “Kalau dianjurkan kan setengah perintah, jadi semua mengikuti,” ujar Tedjo sambil terkekeh.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Tedjo Sumarto, penyiar acara Forum Negara Pancasila di RRI.
Foto
Tedjo Sumarto, penyiar acara Forum Negara Pancasila di RRI.
Foto