Pilih Bahasa: Indonesia
Sjamsiah Achmad

Suluh Bagi Perempuan

Perempuan yang tak lelah memperjuangkan nasib sesamanya.
Sjamsiah Achmad (kedua dari kiri) bersama teman-temannya dalam pertemuan International House Alumni Association, New York, 1999.
Foto
Historia
pengunjung
6.7k

PERAYAAN lima tahun kemerdekaan Republik Indonesia di Makassar, yang dihadiri Presiden Sukarno, berlangsung meriah. Di gedung gubernur Makassar, Sjamsiah Ahmad, yang berusia 17 tahun, mengenakan gaun putih dengan kancing berjumlah 17 pula. Tangannya menggenggam bendera merah-putih kecil. Dia berdiri berderet bersama siswa lain untuk menyambut Sukarno.

Sukarno berjalan di depan mereka. Ketika sampai di depan Sjamsiah, Sukarno berhenti dan berkata, “Namamu siapa?”

“Sjamsiah.”

“Tahu artinya?” tanya Sukarno. Sjamsiah menggeleng.

“Artinya, sinar matahari. Kamu harus menjadi matahari, suluh bagi perempuan,” kata Sukarno.

Sukarno menyambung. “Dan tahukah kamu Nabi Muhammad Saw pernah berkata, ‘Kalau perempuan itu baik, maka jayalah negara. Tetapi kalau perempuan itu buruk, maka runtuhlah negara’.”

Sjamsiah mengenang percakapan itu sepanjang hidupnya dan mendorongnya menjadi “perempuan baik” yang berguna bagi negara.

Pada 10 Maret 2013, di Kementerian Luar Negeri, Sjamsiah merayakan ulangtahun ke-80 dengan syukuran kecil sekaligus peluncuran buku biografinya Syamsiah Ahmad, Matahari dari Sengkang-Wajo.

Sjamsiah lahir di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, 10 Maret 1933, dari pasangan Achmad bin Hasan dan Siti Saniah. Dia anak kelima dari tujuh bersaudara. Sejak berusia lima tahun, ibunya meninggal. Ayahnya, yang bekerja sebagai kepala Kejaksaan Negeri Wajo di Sengkang sampai pensiun, menikah lagi.

Dibesarkan dalam keluarga yang berpikiran maju, Sjamsiah selalu mencontoh ayahnya untuk mempelajari hal-hal baru. Dia menyelesaikan sekolah dasar atau Hollandsch Inlandsche School (HIS) pada 1946 di Sengkang. Ayahnya ingin dia menjadi guru. Dia pun melanjutkan ke Sekolah Guru Bawah (SGB) di Makassar. Lulus dengan peringkat kedua, dia melanjutkan ke Sekolah Guru Atas di Makassar dan lulus pada 1952. Ketika usianya 19 tahun dia mengajar di SGB di Bone, Sulawesi Selatan, selama dua tahun.

Di Jakarta, Sjamsiah melanjutkan pendidikannya ke Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (PGSLTP) kemudian kuliah di Universitas Kristen Indonesia dan bergelar sarjana muda paedagogik. Pada 1956, dia menjadi peneliti di bagian riset pendidikan Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Dia melamar beasiswa di School Education, New York University. Gelar Master of Art diraihnya pada 1962.

Sepulang dari studi, Sjamsiah bergabung dengan Dewan Urusan Riset Nasional, cikal bakal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan ditugaskan di bagian hubungan luar negeri pada Direktorat Administrasi Ilmiah.

“Pada 1967, LIPI baru saja berdiri, ada tiga jabatan kepala biro yang dipegang perempuan, yaitu Ibu Sjamsiah Ahmad, Ibu Achie Luhulima serta Ibu Diti K. Gunawi,” ujar Lukman Hakim, kepala LIPI, yang memberi sambutan pada acara ini.

Karena luka bakar, Sjamsiah absen dari pekerjaannya selama tiga tahun. Pada 1964, untuk mengobati lukanya di Rusia karena di Indonesia belum ada rumahsakit yang dapat mengobati luka bakar, dia menerima tawaran menjadi sekretaris pribadi duta besar untuk Rusia, Manai Sophiaan.

Sjamsiah kembali ke tanah air pada 1967 karena Manai selesai bertugas. Dia pun kembali ke LIPI. Dia mendorong terbentuknya ASEAN Committee on Science and Technology (COST), International Foundation for Science, serta menggagas pembentukan unit peneliti asing di LIPI.

Pad 1976, sebagai sekretaris delegasi Indonesia yang dipimpin ketua LIPI Bachtiar Rifai pada sidang tahunan Association for Science Cooperation in Asia (ASCA) di Bangkok Thailand, Sjamsiah menyiapkan statement ketua LIPI yang memuat saran-saran agar ASCA meningkatkan kontribusinya dalam kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi internasional melalui konferensi tahunan UNESCO, terutama menjelang World Conference on Science and Technology for Development Countries di Wina pada 1979.

Menanggapi statement ketua LIPI tersebut, Dr Stanke, direktur Kantor Ilmu dan Teknologi PBB, mengusulkan membentuk tim kecil yang diketuai Sjamsiah. Terkesan oleh cara kerja dan hasil dari tim ini, Stanke menawari Sjamsiah bekerja di Kantor Ilmu dan Teknologi PBB di New York.

Selama bekerja sepuluh tahun di PBB, Sjamsiah terlibat dalam persiapan dan penyusunan dokumen untuk konferensi dunia, terutama tentang bagaimana memajukan dan melindungi perempuan. Ini menjadi bekal ketika dia kembali ke tanah air dan diangkat menjadi asisten menteri negara urusan peranan wanita (1988-1995). Dia terus memperjuangkan kaum perempuan dengan terpilih menjadi salah satu dari 23 anggota United Nations Committee on the Elimination of Discrimination Against Women atau Komite CEDAW (2001-2004) dan dua periode menjadi anggota komisioner Komnas Perempuan (2003-2009).

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Sjamsiah Achmad (kedua dari kiri) bersama teman-temannya dalam pertemuan International House Alumni Association, New York, 1999.
Foto
Sjamsiah Achmad (kedua dari kiri) bersama teman-temannya dalam pertemuan International House Alumni Association, New York, 1999.
Foto