Pilih Bahasa: Indonesia

Sukarno dan Skandal Diplomat 20 Persen

Kisah memalukan dalam sejarah diplomatik Indonesia. Seorang diplomat disebut-sebut menyediakan perempuan untuk Sukarno.
Sukarno, sutradara Joshua Logan, dan aktris Marilyn Monroe, 1956.
Foto
Historia
pengunjung
12k

SUKARNO geram. Tampilan muka sebuah majalah remaja terbitan Amerika Serikat memperlihatkan gadis striptis setengah telanjang, hanya memakai celana dalam, dan berdiri di samping Sukarno yang berpakaian seragam militer lengkap. Sukarno menyebut itu adalah rekayasa foto.

“Ini adalah perbuatan kotor yang dilakukan terhadap seorang kepala negara. Apakah aku harus mencintai Amerika kalau ia melakukan perbuatan seperti itu terhadap diriku?” ujarnya dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Yang dimaksud Sukarno adalah majalah Whisper terbitan Maret 1964. Sebagaimana ditampilkan situs pulpinternational.com, sampul majalah itu menampilkan gambar persis seperti dikatakan Sukarno. Judulnya menohok: “20 Tarts! Now Weren’t They A Tasty Dish To Set Before Indonesia’s President Sukarno?” (20 Pelacur! Sekarang Mereka Tak Bisa Lagi Menyajikan Gadis-gadis Cantik nan Menawan di Hadapan Presiden Indonesia Sukarno?”).

Laporan itu, yang ditulis Nils Larsen, dibuka dengan pertanyaan Sukarno tentang siapa gadis muda nan cantik yang akan diperkenalkan kepadanya. Gustin Santawirja (ejaan yang benar: I Gusti N. Santawirja), kuasa usaha Indonesia di Denmark, menyebut nama Sigrid Oster, gadis berambut blonde. Sigrid pun menemani Sukarno selama pesta koktail informal berlangsung. Sigrid hanyalah satu dari 20 gadis panggilan yang disediakan Santawirja saat kunjungan tak resmi Presiden Sukarno ke Kopenhagen, ibukota Denmark.

Santawirja senang acaranya sukses. Setelah Sukarno meninggalkan Kopenhagen, dia mencium peluang bisnis. Bahkan dia menggunakan kedutaan untuk menjalankan bisnisnya.

Laporan majalah Whisper sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah diketahui publik beberapa bulan sebelumnya.

Ini bermula dari pengumuman yang disampaikan polisi Denmark pada awal Oktober 1963. Mereka bilang telah membongkar bisnis prostitusi terselubung yang melibatkan Santawirja. Dia menawarkan sekitar 20 gadis muda untuk orang-orang kaya dan diplomat asing di Kopenhagen dan mendapatkan komisi sekira 20 persen.

Pengumuman itu dimuat sejumlah media di dunia. Majalah Time edisi Oktober 1963 menurunkan berita berjudul “Denmark: Poule Haul”. Time menulis bahwa Santawirja, “bukan hanya menjalankan kedutaan negaranya, hingga dia dipulangkan Agustus lalu, tetapi juga di sisi lain seorang germo.”

Santawirja, lanjut Time, masuk ke bisnis prostitusi ini pada 1961 ketika Presiden Indonesia Soekarno datang ke Kopenhagen pada sebuah kunjungan tak resmi. Dengan senang hati, dia mencari dan mengumpulkan beberapa gadis untuk rombongan tamunya. Karena usaha itu sukses, dia memutuskan menambah tunjangan entertainnya dengan menjalankan sebuah ruang poule penuh waktu. “Poule” adalah bahasa Prancis untuk “ayam”.

Der Spiegel edisi 43 tahun 1963 juga menurunkan laporan serupa. Kasus ini sontak menimbulkan kehebohan.

Kementerian Luar Negeri Denmark sendiri sudah melayangkan protes kepada pemerintah Indonesia. Santawirja pun di-persona non grata-kan dan disuruh pulang sebelum skandal itu terbongkar. Diplomat Indonesia untuk Kopenhagen yang baru kemudian secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Denmark.

Kedutaan Indonesia di Kopenhagen saat itu adalah bagian dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Stockholm, ibukota Swedia. KBRI di Kopenhagen baru didirikan pada 1974.

“Ini adalah sebuah adab baru dalam persekongkolan diplomatik, menghasilkan keuntungan lebih cepat dengan usaha lebih sedikit daripada praktik umum di antara kedutaan dari negara-negara yang belum berkembang dengan mengimpor dan menjual mobil bebas bea,” tulis Robert Trumbull, koresponden The New York Times, dalam The Scrutable East: A Correspondent’s Report on Southeast Asia.

Kendati bukan berita baru, Sukarno tak senang dijadikan bulan-bulanan pers Amerika. Dia membicarakannya dengan Presiden John F. Kennedy yang, dengan alasan kebebasan pers, tak bisa berbuat apa-apa.

“Masih saja, hari demi hari, mereka menggambarkanku sebagai pengejar cinta,” ujar Sukano. “Ya, ya, ya, aku mencintai wanita. Ya, itu kuakui. Akan tetapi aku bukanlah seorang anak plesiran sebagaimana mereka tuduhkan padaku.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Sukarno, sutradara Joshua Logan, dan aktris Marilyn Monroe, 1956.
Foto
Sukarno, sutradara Joshua Logan, dan aktris Marilyn Monroe, 1956.
Foto