Pilih Bahasa: Indonesia

Si Bung dan Para Burung

Sukarno tak akan membiarkan seekor burung terpenjara dalam sebuah sangkar.
 

Ilustrasi
Historia
pengunjung
1.2k

PRESIDEN Sukarno dikenal sebagai penyayang binatang, terutama burung. Dia paling tidak suka melihat burung terkurung dalam sangkar. Soal ini diketahui kalangan terdekatnya saja. Namun banyak orang menyangka Sukarno, sebagai keturunan Jawa, tidak lepas dari hobi memelihara burung.

Suatu hari datanglah dua lelaki Maluku ke Istana Negara. Mereka ayah dan anak. Kepada para pengawal presiden, mereka mengatakan ingin mempersembahkan seekor burung nuri raja yang sangat indah kepada presiden. Bagaimana respon Sukarno? Bambang Widjarnako, salah satu ajudan Sukarno, mengisahkannya dalam Sewindu Dekat Bung Karno.

Alih-alih menolak, Sukarno menyambut tamunya dengan ramah. Dia menanyakan keluarga, perjalanan, dan kondisi daerah asal mereka. Diajaknya pula tamunya menikmati minum teh dan kue-kue. Setelah banyak bercerita, barulah Sukarno menanyakan soal burung nuri raja yang dibawa tamunya.

“Jadi Bapak mau menghadiahkan burung ini kepada saya? Jika ya, saya boleh berbuat apa saja terhadap burung ini, bukan?” ujar Sukarno.

“Ya Pak, tentu saja. Terserah Bapak mau diapakan burung ini,” jawab salah seorang dari tamu itu.

“Nah kalau begitu, ikutlah saya…,” ujar Sukarno sambil menuruni tangga Istana dan berdiri di pinggir taman.

Sambil menoleh kepada Si Bapak, ia lantas memerintahkan seorang pengawalnya untuk melepaskan burung yang indah itu ke alam bebas. Menyaksikan pemandangan tersebut, kedua tamu dari Maluku itu hanya bisa melongo.

“Pak, burung ini akan jauh lebih senang bila ia lepas bebas dapat terbang ke mana pun . Biarkan ia merdeka, seperti kita pun ingin merdeka selama-lamanya,” kata Sukarno.

Masalah burung bagi Sukarno tak bisa dikompromikan. Siapapun yang memasung kebebasan burung, jika dia tahu, pasti akan dia suruh melepaskannya. Hal ini juga pernah dialami Letnan Satu C.H. Sriyono, salah seorang anggota Detasemen Pengamanan Chusus (DPC) Tjakrabirawa dari Corps Polisi Militer (CPM).

Ceritanya, saat bertugas di Istana Tampaksiring, Sriyono membeli seekor jalak bali. Supaya tidak ketahuan Sukarno, dia memasukan si jalak bali ke salah satu kantong celananya. Namun tetap saja ketahuan.

“Itu apa yang ada dalam saku celana kamu? Kok gerak-gerak?” tanya presiden.

“Siap! Burung, Pak!”

“Lepaskan!”

“Siap!”

Sang jalak bali pun terbang tinggi, meninggalkan pembelinya yang sejatinya gondok luar biasa.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 

Ilustrasi

Ilustrasi